Pembangunan Pulau Rupat Dan Pengelolaan Dampak Terhadap -PDF Free Download

PEMBANGUNAN PULAU RUPAT DAN PENGELOLAAN DAMPAK TERHADAP

2019 | 1 views | 0 downloads | 10 Pages | 561.07 KB

Sumberdaya alam yang meningkat seiring dengan rencana menjadikan pulau Rupat Bagian Utara menjadi kawasan Pariwisata sedangkan bagian selatan menjadi kawasan perkebunan dan pertanian. Oleh karenanya pengelolaan wilayah ini harus mengintegrasikan wilayah daratan dan lautnya menjadi satu




Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMD Bengkalis Pulau Rupat
disebutkan sebagai Gerbang Pesisir Provinsi Riau Selain itu potensi wisata bahari yang ada di
pulau terluar tersebut masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional KPSN Dimana
dalam RPJMD dipaparkan bahwa Pulau Rupat akan dijadikan sebagai pusat pariwisata unggulan
daerah sektor perkebunan sektor peternakan perikanan dan kelautan Berdasarkan Peraturan
Presiden No 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional
Rupat Utara merupakan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional KSPN
Untuk mewujudkan program pemerintah tersebut hingga saat ini telah
menggelontorkan biaya hingga Rp 300 miliar untuk membangun jalan lingkar Pulau Rupat
melalui sistem multiyears dan masih akan melanjutkan pekerjaan pembangunan jalan lingkar
yang baru selesai 80 persen Selain jalan lingkar yang merupakan jalan utama pembangunan
jalan poros antar desa juga harus dilakukan demikian juga halnya dengan pelabuhan baik itu
pelabuhan ferry penyeberangan roro dan pelabuhan kapal penumpang
Sebagai wilayah pulau kecil pembangunan yang masif didaratan pulau pasti
memberikan dampak terhadap ekosistem di lingkungan pesisir di sekelilingnya Pengembangan
kawasan pulau pulau kecil seperti Pulau Rupat merupakan suatu proses yang akan membawa
suatu perubahan pada ekosistemnya Perubahan perubahan tersebut akan membawa
pengaruh pada lingkungan hidup Semakin tinggi intensitas pengelolaan dan pembangunan
yang dilaksanakan semakin tinggi pula tingkat pemanfaatan sumberdaya yang ujungnya juga
akan berdampak pada perubahan perubahan lingkungan yang akan terjadi di kawasan pulau
Kegiatan pengelolaan pulau pulau kecil menghadapi berbagai ancaman baik dari aspek
ekologi yaitu terjadinya penurunan kualitas lingkungan seperti pencemaran perusakan
ekosistem Oleh karena itu di dalam mengantisipasi perubahan perubahan dan ancaman
ancaman tersebut maka haruslah dilakukan kajian secara komprehensif dan terpadu sebelum
melakukan mengembangkan dan memanfaatkan pulau Rupat tersebut Kajian ini dilakukan
bertujuan untuk mengindentifikasi kegiatan kegiatan Pulau Rupat dan potensi dampak yang
akan berpengaruh terhadap ekosistem Pesisir Pulau Rupat Kajian diharapkan bermanfaat
sebagai salah satu masukan bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan dan strategi
pembangunan pulau Rupat untuk memperkecil dampak negatif dan meningkatkan dampak
positif dari pembangunan tersebut
Kajian ini difokuskan pada wilayah pulau Rupat Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau
Kajian dilakukan dari bulan Juli hingga Oktober 2017 Metode kajian dilakukan dengan
pendekatan desk study dengan menggunakan berbagai literatur penelitian yang pernah
dilakukan di lokasi kajian Data pendukung lainnya juga dikumpulkan dari dokumen dokumen
resmi yang diterbitkan instansi lembaga Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis dan Provinsi
Riau Pengamatan lapangan secara visual juga dilakukan untuk lebih mengenali dan
mengetahui kondisi di Pulau Rupat secara langsung Pengamatan yang dilakukan meliputi
kondisi visual perairan lahan pemukiman masyarakat dan ekosistem pantai di daerah tersebut
Hasil pengamatan digunakan untuk melengkapi data dan informasi yang digunakan dalam
pembahasan kajian ini
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
Secara geografis Pulau Rupat Berada pada Koordinat 2 6 35 79 1 42 29 12 LU dan
101 23 22 91 101 46 32 87 BT Di Sebelah Utara dan Timur Pulau Rupat Berhadapan langsung
dengan Selat Malaka yang berarti berbatasan dengan Negara Malaysia dan di sebelah Selatan
dan barat berhadapan dengan Selat Rupat dan Kota Dumai Pulau Rupat berada diantara 2 jalur
pelayaran internasional yaitu Selat Malaka dan Selat Rupat www shipmap org
Wilayah Pulau Rupat merupakan bagian dari Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau Pulau
Rupat terdiri dari 2 kecamatan yaitu Kecamatan Rupat dan Kecamatan Rupat Utara Kecamatan
Rupat meliputi 16 desa kelurahan dan Kecamatan Rupat Utara meliputi 8 desa kelurahan
Secara administratif Pulau Rupat berbatasan dengan
Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka
Sebelah selatan berbatasan dengan Kota Dumai
Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir dan Kota Dumai
Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bengkalis
Gambar 1 Lokasi Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis
Berdasarkan kondisi geologis formasi formasi utama yang menyusun Pulau Rupat
terdiri dari formasi Endapan Permukaan Muda Qh dan Formasi Endapan Permukaan Tua QP
Pulau Rupat tersusun atas 8 delapan sistem lahan yaitu sistem sistem lahan Beliti Gambut
Kahayan Kajapah Mendawai Muara Beliti Puting dan Sungai Sedangkan berdasarkan
ekoregion pulau Rupat terbagi menjadi Dataran Fluvomarine dan Lahan Gambut Sistem lahan
yang memiliki luasan terbesar adalah sistem lahan Mendawai A11 yaitu seluas 48 954 69 hektar
atau 32 20 dari keseluruhan luas Pulau Rupat Sistem lahan ini merupakan rawa rawa gambut
Satuan lahan di Pulau Rupat dapat dikelompokkan kedalam 2 kelompok satuan lahan
yaitu kelompok satuan lahan kubah gambut D dengan areal terluas adalah kubah gambut
oligotropik air tawar 38 430 94 ha dan kelompok satuan lahan marin B yang meliputi 41 85
luas Pulau Rupat Jenis tanah di Pulau Rupat dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok
besar Kelompok pertama adalah kelompok tanah mineral dengan tingkat perkembangan
muda baik dengan ciri hidromorfik maupun tanpa ciri hidromorfik Seluas 52 613 46 Ha
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
kelompok kedua adalah kelompok tanah tanah organik atau secara populer sering disebut
sebagai tanah gambut seluas 88 409 62 Ha Pulau Rupat berbentuk dataran rendah Ketinggian
maksimum adalah 25 m di atas permukaan laut dpl Pulau Rupat memiliki topografi datar
Kelas kemiringan lereng dominan adalah kelas 0 3 Tipe iklim Tropis Jumlah curah hujan
2 356 mm tahun Temperatur udara 25 5 26 4 oC Tekanan udara rata rata 1 010 5 mmHg
Pulau Rupat memiliki 6 buah sungai yaitu Sungai Senebak Sungai Raya Sungai
Rempang Sungai Nyiur Sungai Sair dan Sungai Penonton Lebar Sungai berkisar antara 8 15
m dengan kedalaman 0 5 1 5 m Debit sesaat diperkirakan berkisar antara 3 6 6 0 m3 dtk
dengan dasar sungai berlumpur pasir dan kwarsa Potensi sedimentasi seluruh sungai berkisar
antara 8 09 31 6 ton tahun Kedalaman perairan di sekitar Selat Rupat terdapat palung palung
yang relatif terjal Perairan di sebelah barat yaitu yang mengarah ke Selat Malaka memiliki
dataran bawah lautnya relatif datar Kedalaman perairan sebelah timur selatan dan utara Pulau
Rupat berkisar antara 10 sampai 30 m sedangkan kedalaman perairan di sebelah timur laut dan
timur berkisar antara 30 sampai 50 m
Pulau Rupat mempunyai beberapa tipologi ekosistem di antaranya semak belukar habitat
hutan mangrove dan habitat hutan sekunder Ekosistem semak belukar dan habitat hutan
sekunder hampir dapat dijumpai di seluruh wilayah pulau sedangkan habitat hutan mangrove
dijumpai di sepanjang pesisir pulau Ekosistem ini memiliki keterkaitan yang erat dengan
vegetasi yang tumbuh dan satwa yang dapat hidup di habitat tersebut Liputan lahan Pulau
Rupat mencakup 7 tujuh jenis liputan lahan yaitu Sungai Danau Hutan Pemukiman
Perkebunan Rawa Sawah Irigasi dan Tanah Ladang
Wilayah pesisir Pulau Rupat dapat dibagi menjadi 2 zona utama yaitu Zona utara dan
timur yang didominasi tipe pantai berpasir karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka
dan sebagian kecil ditutupi vegetasi mangrove Sedangkan bagian barat dan selatan didominasi
oleh pantai lumpur berpasir dengan tutupan vegetasi mangrove hingga ke bibir pantai Sebagai
wilayah pulau kecil pembangunan yang masif didaratan pulau pasti memberikan dampak
terhadap lingkungan pesisir di sekelilingnya Dari seluruh lahan seluas 1 524 85 km2 sebahagian
telah dibuka dan menjadi lahan perkebunan
Total seluruh jumlah penduduk Pulau Rupat tahun 2016 di Kecamatan Rupat 33 470 jiwa
sedangkan di kecamatan Rupat Utara 14 399 Jiwa Kepadatan Punduk Pulau ini sebesar 31
Berdasarkan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan dari Kementerian Kehutanan
Baplan 2002 lahan di Pulau Rupat tergolong dalam 3 status hutan Gambar 3a yaitu
Hutan Kawasan Lindung Hutan Produksi Terbatas HPT dan Hutan Produksi Konversi HPK
Kawasan Lindung mencakup kawasan di pinggiran Selat Morong di bagian utara pulau HPT
mencakup sebagian besar Pulau Rupat dimulai di bagian tengah sedangkan HPK mencakup
kawasan pinggiran pulau Hasil analisis liputan lahan Widiatmaka at al 2014 menunjukkan
bahwa liputan lahan yang memiliki luasan terbesar adalah rawa meliputi 56 49 luas seluruh
pulau atau 92 278 14 hektar perencanaan hanya dapat dilakukan pada bagian kawasan yang
dapat diizinkan untuk penggunaan budidaya yaitu pada HPK inipun tentu harus melalui proses
pelepasan kawasan hutan sesuai dengan prosedur yang berlaku Kawasan lindung dengan zona
inti di bagian tengah harus tetap dijaga sebagai kawasan resapan dan perlindungan pulau
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
Gambar 2 a kawasan hutan Pulau Rupat Baplan 2002
b tutupan lahan Widiatmaka at a l 2014
Komponen penyusun tataguna lahan dan tataruang meliputi i Komponen
pengembangan wilayah berbasis eko wisata dikonsentrasikan di bagian utara pulau bagian ini
dibangun berdasarkan tataruang wisata yang telah direncanakan terdahulu Pemkab Bengkalis
2004 ii Komponen pengembangan wilayah berbasis pertanian dan perkebunan
dikonsentrasikan di bagian barat dan timur pulau dengan pusat pengembangan di Teluk
Lencah di bagian timur yang dirancang berdasarkan potensi sumberdaya kesesuaian untuk
perkebunan hasil analisis penelitian ini iii Komponen pengembangan wilayah berbasis
perikanan meliputi perairan Pulau Rupat dan Selat Morong dengan pusat pengembangan di
Pangkalan Nyirih yang terletak di bagian hilir Sungai Morong sekaligus untuk memudahkan
pembangunan darmaga perikanan komponen ini dibangun berdasarkan hasil analisis
kesesuaian budidaya perikanan dan iv Komponen pusat pemerintahan dan administrasi
dikonsentrasikan di Pangkalan Nyirih di bagian timur atau Batu Panjang di bagian selatan
Gambar 3 Alokasi Ruang Untuk Berbagai Penggunaan di Pulau Rupat Widiatmaka at a l 2014
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
Menurut Rencana Tata Ruang Total areal Pulau Rupat yang telah direncanakan
pemanfaatan ruangnya sebagai berikut
Tabel 1 Rencana Alokasi Pemanfaatan Ruang Pulau Rupat Berdasarkan RTRWP Riau 2015
Rencana Alokasi Pemanfaatan Ruang Luas ha
Gambut yang Harus Dideliniasi Melalui Penelitian Lapangan 34 401 0
Kawasan Hutan Produksi Tetap 10 043 9
Kawasan Pantai Berhutan Bakau 18 006 2
Kawasan Perkebunan Besar Negara Swasta Termasuk 61 062 0
Kawasan Perkebunan Rakyat 2 876 2
Kawasan Pertanian Lahan Basah 18 605 6
Kawasan Wisata Alam Pantai dan Laut 3 403 5
Pulau pulau kecil dipertahankan sebagai hutan alam 369 9
Jumlah 148 795 3
Tabel 2 Rencana Alokasi Pemanfaatan Ruang Pulau Rupat Berdasarkan RTRWK Bengkalis
Rencana Alokasi Pemanfaatan Ruang Luas ha
Kawasan Hutan Lindung Gambut 12 658 5
Kawasan Hutan Produksi Tetap Mencakup Lindung Gambut 32 171 7
Yang Harus Didelineasi
Kawasan Pantai Berhutan Bakau 21 303 5
Kawasan Pendidikan dan Penelitian Pertanian 5 001 6
Kawasan Perkebunan Besar Negara Swasta Termasuk 47 466 0
Koperasi Perkebunan Rakyat 25 844 1
Kawasan Perkebunan Rakyat Dominasi Tanaman Kelapa 728 8
Kawasan Pertanian Lahan Basah Jenis Tanaman Padi Sawah 2 935 8
Kawasan Pertanian Lahan Basah Jenis Tanaman Sagu 699 9
Kawasan Pertanian Lahan Kering 3 949 0
Kawasan Wisata 313 8
Permukiman Pedesaan Eksisting 841 0
Jumlah 153 913 5
Pengembangan infrastruktur wilayah difokuskan kepada wilayah wilayah yang di dorong
perkembangannya pada wilayah utara selatan dan bagian timur Kebijakan pengembangan
infrastruktur dibatasi kearah tengah pulau karena merupakan area kawasan lindung
Kebutuhan air bersih bagi Pulau Rupat secara garis besar dibedakan menjadi 2 kategori
utama yaitu untuk kegiatan rumah tangga dan untuk kegiatan non rumah tangga Untuk
kegiatan rumah tangga kebutuhan adalah sebesar 3 040 160 liter hari Untuk kegiatan non
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
rumah tangga kebutuhan adalah sebesar 912 048 liter hari Pada tahun 2021 kebutuhan rumah
tangga diperkirakan sebesar 5 312 800 liter hari sedangkan untuk kegiatan non rumah tangga
adalah sebesar 1 593 840 liter hari Untuk memenuhi kebutuhan air bersih tersebut terdapat
beberapa alternatif yang dapat dilakukan yaitu Penggunaan air baku dari Sungai Raya untuk
wilayah wilayah perencanaan sekitar Pangkalan Nyirih Tanjung Makeruh Sungai Cingam dan
sebagian lokasi transmigrasi Morong Timur Penggunaan air baku Sungai Sahir untuk lokasi
transmigrasi Morong Barat dan Titi Akar Daerah yang sumber airnya berasal dari tanah
gambut diperlukan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Gambut IPAG disertai dengan
pembuatan waduk penampungan air hujan Penggunaan IPAG untuk sebagian lokasi Morong
Barat dan sebagian lokasi Morong Timur Penggunaan polder sistem untuk lokasi Morong Barat
Perkiraan kebutuhan energi listrik pada tahun 2021 di Pulau Rupat sebesar 16 71 MVA
Kebutuhan listrik ini mencakup kegiatan permukiman yang memerlukan tambahan kebutuhan
listrik sebesar 12 64 MVA Untuk kebutuhan komersial adalah sebesar 1 26 MVA dan untuk
kebutuhan fasilitas sosial sebesar 0 63 MVA
Untuk melayani kebutuhan listrik bagi seluruh penduduk serta kegiatan kegiatan lainnya
yang direncanakan di Pulau Rupat seperti kegiatan pariwisata industri dan lain lain maka pada
akhir tahun rencana penyediaan kebutuhan listrik sebesar 30 MVA beserta jaringannya
Aktivitas di Pulau Rupat pada Tahun 2021 akan memproduksi sampah sebesar 815 620
m3 per hari Kerja sama antara berbagai stakeholders serta peran serta dari masyarakat sendiri
dalam pengelolaan persampahan merupakan salah satu syarat agar pengelolaan yang dilakukan
dapat berhasil
Untuk kebutuhan pada tahun 2021 maka berdasarkan jumlah penduduk yang ada dari
hasil proyeksi akan diperlukan adanya kebutuhan fasilitas pendidikan sejumlah 53 TK 27 SD 5
SMP 15 lokal dan 3 SMA 10 lokal
Pengembangan jaringan jalan di Pulau Rupat di arahkan pada peningkatan jalan yang
telah ada dengan konstruksi beton dan pengembangan jaringan jalan baru Pembangunan jalan
yang direncanakan adalah jalan dengan lebar jalan 15 meter dengan badan jalan memiliki lebar
7 m Jalan seperti ini diharapkan akan dapat melayani aktivitas ekonomi seperti
pengangkutan perpindahan barang dan orang secara baik
Pembangunan dermaga sangat diperlukan khususnya pada Sungai Morong dengan
alternatif di Pangkalan Nyirih ke arah timur muara dari sungai Morong sebagai dermaga
utama untuk pengembangan alternatif kotanya untuk mendukung daerah hinterland
Pengembangan pelabuhan memerlukan penyediaan ruang untuk alat angkut tersebut tempat
berhenti untuk bongkar muat mengatur kegiatan perangkutan menentukan tempat
perhentian lokasi untuk berproduksi dan lebih jauh melakukan tempat pengolahan ikan sampai
dengan pengalengan ikan
4 PEMBAHASAN
Pulau pulau kecil didefinisikan berdasarkan dua kriteria utama yaitu luasan pulau dan
jumlah penduduk yang menghuninya Definisi pulau pulau kecil yang dianut secara nasional
sesuai dengan Kep Menteri Kelautan dan Perikanan No 41 2000 adalah pulau yang berukuran
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
kurang atau sama dengan 10 000 km2 dengan jumlah penduduk kurang atau sama dengan
200 000 jiwa Di samping kriteria utama tersebut beberapa karakteristik pulau pulau kecil
adalah secara ekologis terpisah dari pulau induknya mainland island memiliki batas fisik yang
jelas dan terpencil dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular mempunyai sejumlah
besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi memiliki daerah
tangkapan air catchment area relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan
sedimen masuk ke laut serta dari segi sosial ekonomi dan budaya masyarakat pulau pulau
bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya
Berdasarkan tipenya pulau pulau kecil dibedakan menjadi pulau benua pulau vulkanik
dan pulau karang Masing masing tipe pulau tersebut memiliki kondisi lingkungan biofisik yang
khas sehingga perlu menjadi pertimbangan dalam kajian dan penentuan pengelolaan agar
berkelanjutan Hal ini akan berpengaruh pula terhadap pola permukiman yang berkembang di
pulau pulau kecil berdasarkan aktivitas yang sesuai dengan kondisi lingkungan biofisik tersebut
Misalnya tipologi pulau kecil tersebut lebih dominan ke arah pengembangan budidaya
perikanan maka kemungkinan besar pola permukiman yang berkembang adalah masyarakat
Wilayah pesisir Pulau Rupat memiliki ekosistem yang memiliki keterkaitan erat dengan
daerah daratannya upland baik melalui aliran air sungai air permukaan run off maupun air
tanah ground water dan dengan aktivitas manusia serta kencederungan perubahan iklim yang
berpontensi menaikkan muka air laut perubahan arus dan tinggi gelombang serta perubahan
pola pasang surut Keterkaitan tersebut menyebabkan terbentuknya kompleksitas dan
kerentanan di wilayah pesisir Secara konseptual hubungan tersebut dapat digambarkan dalam
keterkaitan antara lingkungan darat bumi lingkungan laut dan aktivitas manusia
Pesisir pulau Rupat tersusun dari beberapa ekosistem itu satu sama lain saling terkait
dan tidak berdiri sendiri Perubahan atau kerusakan yang menimpa suatu ekosistem akan
menimpa pula ekosistem lainnya Selain itu pesisir pasti akan dipengaruhi oleh kegiatan
manusia maupun proses proses alamiah yang terdapat di kawasan sekitarnya termasuk daratan
upland areas maupun laut lepas oceans Kondisi pesisir Pulau Rupat yang rentan tersebut
mensyaratkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir Rupat harus memperhatikan segenap
keterkaitan ekologis ecological linkages yang dapat mempengaruhi suatu wilayah pesisir
dengan melibatkan seluruh stakholder yang berkepentingan termasuk masyarakat lokal yang
turun temurun tinggal diwilayah ini
Berdasarkan hasil analisis kondisi Pulau Rupat yang telah diuraikan sebelumnya dapat
tergambarkan secara ringkas kondisi ekosistem sosial budaya dan ekonomi Pulau Rupat
berpotensi menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat Pulau Rupat maupun Kabupaten
Bengkalis Namun demikian terlihat juga adanya ancaman yang dihadapi oleh ekosistem pulau
Rupat termasuk manusia yang bermukim didalamnya
Ancaman pertama adalah adanya perubahan iklim dan pemanasan global Menurut
IPCC 2001 Perubahan iklim dan pemanasan global diprediksi akan mempengaruhi kehidupan
masyarakat di wilayah pesisir dan pulau pulau kecil di berbagai belahan dunia Naiknya suhu
permukaan global menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan bumi sehingga
terjadilah kenaikan muka laut Sea Level Rise Mimura 1999 menyebutkan bahwa Pulau pulau
kecil small islands merupakan salah satu daerah yang paling rentan terhadap kenaikan muka
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
laut Hal ini tentunya juga berdampak terhadap Pulau Rupat Bappenas 2011 melaporkan
bahwa perubahan iklim dunia telah memberikan dampak di berbagai sek tor secara langsung
maupun tidak langsung di Indonesia Di sektor kelautan dan perikanan dilaporkan bahwa pada
tahun 2005 hingga 2007 Indonesia telah kehilangan 24 pulau kecil Di sektor pertanian
kekeringan dan banjir telah mengganggu hasil panen pertanian di berbagai daerah di Indonesia
dan penurunan kapasitas produksi sumber daya lahan sumber air dan infrastruktur pertanian
Ancaman kedua menurut Theodora 2013 pulau pulau kecil mempunyai karakteristik
sangat rentan terhadap aktivitas ekonomi terbatasnya daya dukung sumber daya alam dan
sumber daya manusia Aktivitas sosial dan ekonomi pulau pulau kecil merupakan interaksi
kawasan terestrial daratan dan lingkungan laut sehingga hampir semua bentuk aktivitas
pembangunan akan berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan Pulau pulau kecil
seperti Pulau Rupat memiliki kendala dan permasalahan yang cukup kompleks dalam
pengelolaannya yaitu i belum jelasnya definisi operasional pulau pulau kecil ii kurangnya
data dan informasi tentang pulau pulau kecil iii kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap
pengelolaan pulau pulau kecil iv pertahanan dan keamanan v disparitas perkembangan
sosial ekonomi vi terbatasnya sarana dan prasarana dasar vii konflik kepentingan dan viii
degradasi lingkungan hidup akibat pembukaan lahan dan alih fungsi lahan
Parameter parameter yang sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah masyarakat dan
seluruh stakholder dalam melaksanakan pembangunan di Pulau rupat adalah menyusun dan
mematuhi tata ruang Pulau Rupat minimalisasi reklamasi pantai mengedalikan pencemaran
perairan menata permukiman kumuh disepanjang pesisir pantai mengembalikan fungsi
sempadan pantai menegdalikan masalah banjir mengendalikan masalah abrasi dan
sedimentasi
5 KESIMPULAN DAN SARAN
5 1 KESIMPULAN
Pulau Rupat menghadapi dua potensi ancaman langsung sekaligus terhadap
ekosistemnya yaitu Perubahan Iklim dan pemanfaatan Sumberdaya alam yang meningkat
seiring dengan rencana menjadikan pulau Rupat Bagian Utara menjadi kawasan Pariwisata
sedangkan bagian selatan menjadi kawasan perkebunan dan pertanian Oleh karenanya
pengelolaan wilayah ini harus mengintegrasikan wilayah daratan dan lautnya menjadi satu
kesatuan dan keterpaduan pengelolaan serta mengintegrasikan dan mempaduserasikan antara
misi konservasi dengan misi ekonomi Semua ini mungkin terjadi apabila dalam kegiatan
perencanaan pelaksanaan pembangunan Pulau Rupat melibatkan seluruh stakholder terkait
serta mengajak serta masyarakat lokal yang telah tinggal dipulau ini turun temurun
Kebijakan yang perlu segera dirumuskan
1 Pengaturan tata ruang wilayah yang berkelanjutan sustainable spatial planning dan
dijalankan secara konsisten dalam wilayah Pulau Rupat
2 Fungsi pengawasan dan pengendalian Kebijakan ini harus dapat meningkatkan peran
serta seluruh stakeholders dan masyarakat
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017
Melakukan kajian agar dapat pengkajian skim pembayaran terhadap jasa ekosistem
wilayah pesisir Payment for Watershed Services PWS dari setiap pemanfaatannya untuk
kegiatan pembangunan
DAFTAR PUSTAKA
1 Badan Planologi Kementerian Kehutanan Baplan 2002 Peta Penunjukan Kawasan
Hutan dan Perairan Badan Planologi Kementerian Kehutanan RI
2 Badan Lingkungan Hidup BLH Kabupaten Bengkalis 2016 Status Lingkungan Hidup
Daerah Kabupaten Bengkalis Tahun 2015
3 Badan Pusat Statistik BPS Kabupaten Bengkalis 2017 Bengkalis Dalam Angka Tahun
4 BAPPENAS 2011 Indonesia adaptation strategy Improving capacity to adapt Jakarta
5 Dahuri R 1999 Pengelolaan Wilayah Pesisir dalam Kontek Pengembangan Kota Pantai
dan Kawasan Pantai Secara Berkelanjutan Seminar Nasional Kemaritiman Jakarta
6 Dinas Kelautan Dan Perikanan DKP Pemerintah Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau
2015 Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil RPWP3K Kabupaten
Bengkalis Tahun 2015 2020
7 Grace Theodora 2013 Kewenangan Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Pesisir Dan
Pulau Pulau Kecil Terluar Di Provinsi Sulawesi Utara Lex Administratum Vol I No 2 Apr
8 https www shipmap org dikunjungi tanggal 01 Juli 2017
9 IPCC Climate change 2001 impacts adaptation and vulnerability Contribution of
Working Group II to the third assessment report of the Intergovermental Panel on
Climate Change Cambridge University Press New York 1032 p
10 Kottek M J Grieser C Beck B Rudolf and F Rubel 2006 World Map of the K ppen
Geiger climate classification updated Meteorol Z 15 259 263 DOI 10 1127 0941
2948 2006 0130
11 Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis 2016 Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Kabupten Bengkalis Tahun 2016 2021
12 Widiatmaka Wiwin Ambarwulan M Ardiansyah Benar Darius Ginting Soeka M Arsyad
Nurdin 2014 Kesesuaian Lahan Dan Informasi Spasial Sumberdaya Alam Untuk
Perencanaan Tataguna Lahan Pulau Kecil Di Kawasan Perbatasan Negara Studi Kasus
Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis Prosiding Konferensi Teknik dan Sains Informasi
Geospasial Menuju Pengelolaan Informasi Secara Spasial Yogyakarta 20 September
Seminar Ilmiah Nasional Teknik Sipil Universitas Bosowa
SINALTSUB I 4 DESEMBER 2017


Related Books

Unity and Coherence in Paragraphs

Unity and Coherence in Paragraphs

paragraph has unity, all of the sentences in it relate to the topic and develop the controlling idea. If a topic sentence states that a paragraph will be about how to prepare for a successful job interview, all sentences in the paragraph should talk about job interview preparation. Adding sentences about how to

2019 BRAND IDENTITY c

2019 BRAND IDENTITY c

A yellow swoosh line will separate the logo from the Event Name. If space allows, an arrow will point from the logo to the Event Name. The teal blob will always include the sponsor name and Event Name with location in smaller type below. The date and time will live in a circle located in or near the teal gradient blob.

Legal Aspects of Business - jnujprdistance.com

Legal Aspects of Business jnujprdistance com

Legal Aspects of Business This book is a part of the course by Jaipur National University , Jaipur. This book contains the course content for Legal Aspects of Business.

BHARATHIDASAN UNIVERSITY

BHARATHIDASAN UNIVERSITY

5. Legal aspects of Business by Akhileshwar Pathak. Tata Mcgraw Hill. 6. Legal aspects of Business by kubendran. Suggested Readings 1. Law of Business contracts in India by Sairam Bhat, Sage, www. sagepublications.com 2. Company law, Ashok K Bagrial Vikas publishing House. 3.Business Law, chandra Bose, PHI learning India PVT Ltd.

A perspective on joint venture: an international business ...

A perspective on joint venture an international business

legal framework governing the various aspects of a Joint Venture in India in brief, the methods of Joint Ventures, as well as RBI regulations on the topic. The research methodology adopted is largely analytical and descriptive. Reliance has been placed largely on various sources like articles and online articles. Keywords: joint venture, business strategies, expansion of business, types of ...

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN - ocw.ui.ac.id

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN ocw ui ac id

Akuntansi pajak penghasilan Fokus pada pajak penghasilan perusahaan Sebelum PSAK 46: Beban pajak dalam laporan laba rugi adalah pajak terutang menurut fiskal PSAK ETAP PSAK 46 (eff 1 Jan 1999 perusahaan listed dan 1 Jan 2001 non listed) Beban pajak kini pajak terutang menurut fiskal Beban / penghasilan pajak tangguhan

n Java GUI Development n www.dzone.com Get More Refcardz!

n Java GUI Development n www dzone com Get More Refcardz

you can use the Standard Widget Toolkit (SWT) from Eclipse. Both approaches share some commonality, but each has its own advantages and methods. This DZone Refcard provides a reference on how to use both technologies; the first half of the Refcard will cover Swing, with SWT forming the second half. brought to you by... JAVA SWING - A HISTORY

KEUANGAN LAPORAN 2017 - bpkp.go.id

KEUANGAN LAPORAN 2017 bpkp go id

Pengawasan Keuangan dan Pembangunan berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dengan menyusun laporan keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.

???????????????????????????

j55011(h27) ??????????????? ???????????? ?? ??????cispr11 ???????26 ?3 ????????????3 ????????????

EFQM EXCELLENCE MODEL - Quality Scotland

EFQM EXCELLENCE MODEL Quality Scotland

the EFQM Excellence Model allows Managers / Leaders to understand the cause and effect relationships between what their organisation does and the results it achieves. with the support of the RaDaR logic it is possible to make a robust assessment of the degree of excellence of any organisation. the RaDaR logic provides a structured approach to