LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2002 TAHUN 2002 NOMOR .

3y ago
62 Views
2 Downloads
153.45 KB
35 Pages
Last View : 9d ago
Last Download : 4m ago
Upload by : Joanna Keil
Transcription

LEMBARAN DAERAHKOTA BANDUNGTAHUN:2002NOMOR:13TAHUN : 2002SERI : DPERATURAN DAERAH KOTA BANDUNGNOMOR : 12 TAHUN 2002TENTANGKETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI,IZIN USAHA PERDAGANGAN, WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DANTANDA DAFTAR GUDANGDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAWALIKOTA BANDUNGMenimbang:a. bahwa dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi kota dan meningkatkanpelayanan terhadap masyarakat khususnya di sektor perindustrian danperdagangan, dipandang perlu adanya pembinaan dan pengendalian;b. bahwa pembinaan dan pengendalian terhadap sektor perindustrian danperdagangan di Kabupaten/Kota merupakan kewenangan DaerahKabupaten/Kota;c. bahwa untuk maksud sebagaimana tersebut pada huruf b di atas perlu ditetapkandengan Peraturan Daerah Kota Bandung;Mengingat:1. Undang-undang Gangguan (Hinder Ordonantie) (Stb.1926 Nomor 226 yangtelah diubah dan ditambah dengan Stb.1940 Nomor 14 dan 15);2. Bedrijsreglementterings Ordonantie 1934 (Staatblad Tahun 1938 Nomor 86);3. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerahKota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Tengah/Barat dan DaerahIstimewa Yogyakarta (Himpunan Peraturan Negara tentang PembentukanWilayah/Daerah);4. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1965 tentang Penetapan PeraturanPemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang PerubahanUndang-Undang Nomor 2 Prp Tahun 1960 tentang Pergudangan (LembaranNegara Nomor 31 Tahun 1962);1

5. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri(Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor2853);6. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan(Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Nomor3214);7. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran NegaraTahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3214);8. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri(Lembaran Negara Tahun 1987 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor3340);9. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (LembaranNegara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);10. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (LembaranNegara Tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502);11. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (LembaranNegara Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3587);12. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil (Lembaran NegaraTahun 1995 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3611);13. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor3699);14. Undang-undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan BerjangkaKomoditi (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 93, Tambahan LembaranNegara Nomor 3720);15. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor3839);16. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yangBersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran NegaraTahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851);17. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1957 tentang Penyaluran Perusahaansebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 1957(Lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Nomor1144 Jo. Lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 150, Tambahan LembaranNegara Nomor 1467);18. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1977 tentang Pengakhiran KegiatanUsaha Asing di Bidang Perdagangan sebagaimana telah diubah denganPeraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1998 (Lembaran Negara Tahun 1977Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3113 Jo. Lembaran NegaraTahun 1998 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3734);2

19. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987 tentang Perubahan Batas WilayahKotamadya Daerah Tingkat II Bandung dan Kabupaten Daerah Tingkat IIBandung (Lembaran Negara Tahun 1987 Nomor 34, Tambahan LembaranNegara Nomor 3358);20. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1995 tentang Ijin Usaha Industri(Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor3596);21. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1999 tentang PenyelenggaraanPerdagangan Berjangka Komoditi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 16,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3805);22. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemeriksaan diBidang Berjangka Komoditi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 17,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3806);23. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintahdan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);24. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 04 Tahun1986 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang melakukan PenyidikanTerhadap Pelanggaran Peraturan Daerah yang memuat Ancaman/Sanksi Pidana;25. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun1989 tentang Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung;26. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 02 Tahun1992 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Kotamadaya DaerahTingkat II Bandung Tahun 1991 - 2001;27. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 06 Tahun1995 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan diWilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung;28. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 02 Tahun1996 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kotamadya DaerahTingkat II Bandung;29. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 14 Tahun1998 tentang Bangunan di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung;30Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 01 Tahun 2000 tentang Tata CaraPembuatan, Perubahan dan Pengundangan Peraturan Daerah;31Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2000 tentang Pola DasarPembangunan Daerah Kota Bandung Tahun 2000 - 2004;32Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2001 tentang KewenanganDaerah Kota Bandung sebagai Daerah Otonom;33. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 09 Tahun 2001 tentang ProgramPembangunan Daerah (Propeda) Kota Bandung Tahun 2000 - 2004;3

Dengan PersetujuanDEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BANDUNGMEMUTUSKAN:Menetapkan:PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG TENTANG KETENTUAN DANTATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN USAHAPERDAGANGAN, WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DAN TANDA DAFTARGUDANG.BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :a. Daerah adalah Kota Bandung;b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Bandung;c. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KotaBandung, yang selanjutnya disingkat DPRD;d. Walikota adalah Walikota Bandung;e. Pejabat yang ditunjuk adalah Pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah yangberwenang dibidang perindustrian dan perdagangan serta mendapat pendelegasianwewenang dari Walikota;f.Menteri adalah menteri selaku pembantu Presiden yang membidangi pengesahansuatu Badan Hukum/Perusahaan;g. Industri Bidang Usaha adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undangNomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;h. Perusahaan Industri adalah perusahaan yang melakukan kegiatan di bidang UsahaIndustri yang dapat berbentuk perorangan, perusahaan, persekutuan atau badanhukum yang berkedudukan di Indonesia;i.Jenis Industri adalah bagian suatu cabang industri yang mempunyai ciri khususyang sama dan/atau hasilnya bersifat akhir dalam proses produksi;j.Komoditi Industri adalah suatu produk akhir dalam proses produksi dan merupakanbagian dari jenis industri;k. Ijin Industri adalah Ijin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah dan diberikankepada Perusahaan Industri untuk melaksanakan kegiatan produksi komersialberupa Ijin Usaha Industri, Izin Perluasan dan Tanda Daftar Industri;4

l.Persetujuan Sementara dan Persetujuan Prinsip adalah Surat yang diberikan kepadaPerusahaan Industri untuk melakukan persiapan dalam rangka pembangunan pabrikdan sarana produksi sebelum melaksanakan produksi komersial;m. Perluasan Perusahaan Industri yang selanjutnya disebut perluasan adalahpenambahan kapasitas produksi melebihi 30% (tiga puluh persen) dari kapasitasproduksi yang telah diijinkan;n. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroankomanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan namadan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi atauorganisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentukbadan usaha lainnya;o. Perdagangan adalah kegiatan jual beli barang atau jasa yang dilakukan secara terusmenerus dengan tujuan pengalihan hak atas barang atau jasa dengan disertaiimbalan atau kompensasi;p. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yangbersifat tetap dan terus menerus yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalamNegara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba;q. Surat Ijin Usaha Perdagangan yang disingkat SIUP adalah Surat Ijin untuk dapatmelaksanakan kegiatan Usaha Perdagangan;r.Surat Permintaan Ijin Usaha Perdagangan yang disingkat SP-SIUP adalah Formuliryang diisi oleh perusahaan yang menurut data Perusahaan untuk memperoleh SIUPKecil/Menengah/Besar;s.Perubahan Perusahaan adalah meliputi perubahan dalam perusahaan yang meliputiPerubahan Nama Perusahaan, Nama Pemilik/Penanggung Jawab, AlamatPemilik/Penaggung Jawab, NPWP, Modal dan Kekaayaan Bersih (Netto),Kelembagaan, Bidang Usaha, Jenis Barang/Jasa Dagangan Utama;t.Cabang Perusahaan adalah Perusahaan yang merupakan unit atau bagian dariperusahaan induknya yang dapat berkedudukan di tempat yang berlainan dan dapatbersifat berdiri sendiri atau bertugas untuk melaksanakan sebagian tugas dariPerusahaan induknya;u. Perwakilan Perusahaan adalah perusahaan yang bertindak mewakili kantor pusatperusahaan untuk melakukan suatu kegiatan dan/atau pengurusannya ditentukansesuai wewenang yang diberikan;v. Perwakilan Perusahaan yang ditunjuk adalah perusahaan yang diberi kewenanganbertindak untuk mewakili Kantor Pusat Perusahaan dan bukan merupakan bagiandari Kantor Pusat;w. Daftar Perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut uran-peraturanpelaksanaannya, serta memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiapperusahaan dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di lingkungan PemerintahDaerah;x. Pengusaha adalah setiap orang perseorangan atau persekutuan atau badan hukumyang menjalankan sesuatu jenis perusahaan;5

y. Usaha adalah setiap tindakan, perbuatan atau kegiatan apapun dalam bidangperekonomian, yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperolehkeuntungan dan/atau laba;z. Pengawas Wajib Daftar Perusahaan adalah Pegawai di lingkungan PemerintahDaerah yang bekerja pada unit teknis yang menangani penyelenggaraan WajibDaftar Perusahaan yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang untuk melakukanpengawasan terhadap setiap perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku danperaturan pelaksanaannya;aa. Bangunan Usaha adalah bangunan yang dipakai usaha dan sesuai dengan gambarIjin Mendirikan Bangunan;bb. Luas Ruang Usaha adalah luas lahan yang digunakan untuk kegiatan usaha;cc. Tim Peneliti adalah tim yang dibentuk dan bertugas membantu Walikota dalammeneliti dan mempertimbangkan permohonan perijinan di Bidang Perindustrian.dd. Gudang adalah ruangan tidak bergerak yang dapat ditutup dengan tujuan tidakuntuk dikunjungi oleh umum melainkan untuk dipakai khusus sebagai tempatpenyimpanan barang-barang perniagaan.ee. Usaha Pergudangan adalah kegiatan jasa pergudangan yang dilakukan oleh suatuperusahaan atau perorangan melalui pemanfaatan gudang-gudang miliknya sendiridan atau pihak lain untuk mendukung/memperlancar kegiatan perdagangan barang.ff. Barang Perniagaan atau barang dagangan terdiri dari bahan pokok/penting, bahanbaku, bahan bangunan, bahan hasil industri dan barang dagangan lainnya yangdiperdagangkan sehari-hari.BAB IIIJIN USAHA INDUSTRIBagian PertamaPemberian dan Perluasan IndustriPasal 2(1) Setiap pendirian Perusahaan Industri wajib memperoleh Ijin Usaha yang selanjutnyadisebut Ijin Usaha Industri dan selanjutnya disingkat IUI.(2) Jenis Industri tertentu dalam Kelompok Industri Kecil dikecualikan dari kewajibanuntuk memperoleh Ijin Usaha Industri.(3) Jenis Industri tertentu dalam Kelompok Industri Kecil sebagaimana dimaksud padaayat (2) Pasal ini meliputi perusahaan industri dengan nilai investasi perusahaanseluruhnya sampai dengan Rp. 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) tidaktermasuk tanah dan bangunan tempat usaha.(4) Terhadap jenis industri tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pasal ini,cukup dengan Tanda Daftar Industri yang selanjutnya disebut TDI dan diberlakukansebagai Ijin Usaha Industri.6

Pasal 3(1) Terhadap semua jenis industri dalam kelompok Industri Kecil sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) dengan nilai investasi perusahaan seluruhnyadibawah Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunantempat usaha, tidak wajib memperoleh TDI kecuali bila dikehendaki olehperusahaan yang bersangkutan.(2) Terhadap semua jenis industri dalam Kelompok Industri Kecil dengan nilaiinvestasi perusahaan seluruhnya sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) sampaidengaan Rp. 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah danbangunan tempat usaha wajib memperoleh TDI.(3) Perusahaan Industri yang telah memperoleh TDI, dalam jangka waktu 3 (tiga) bulanterhitung mulai tanggal diterbitkannya TDI wajib mendaftar dalam DaftarPerusahaan.(4) Untuk memperoleh TDI diperlukan Tahap Persetujuan Sementara atau TanpaMelalui Persetujuan Sementara.(5) Persetujuan Sementara diberikan kepada Perusahaan Industri untuk langsung dapatmelakukan persiapan-persiapan dan usaha pembangunan, pengadaan,pemasangan/instalasi peralatan dan lain-lain yang diperlukan.(6) Persetujuan Sementara bukan merupakan izin untuk melakukan produksi komersial.(7) TDI yang Melalui Tahap Sementara atau Tanpa Melalui Persetujuan Sementaradiberikan kepada Perusahaan Industri yang telah memenuhi ketentuan perundangundangan yang berlaku seperti antara lain Izin Gangguan, Surat PernyataanPengelolaan Lingkungan (SPPL) dan telah selesai membangun pabrik dan saranaproduksi serta telah siap berproduksi.Pasal 4(1) Terhadap semua jenis industri dengan nilai investasi perusahaan seluruhnya di atasRp. 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunantempat usaha, wajib memperoleh IUI.(2) Untuk memperoleh IUI diperlukan Tahap Persetujuan Prinsip atau Tanpa MelaluiTahap Persetujuan Prinsip.(3) Perusahaan Industri yang telah memperoleh IUI dalam jangka waktu 3 (tiga) bulanterhitung mulai tanggal diterbitkannya IUI wajib mendaftarkan perusahaan dalamDaftar Perusahaan sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982tentang Wajib Daftar Perusahaan.(4) Persetujuan Prinsip diberikan kepada Perusahaan Industri untuk langsung dapatmelakukan persiapan-persiapan dan usaha pembangunan, pengadaan,pemasangan/instalasi peralatan dan lain-lain yang diperlukan.(5) Persetujuan Prinsip bukan merupakan izin untuk melakukan produksi komersial.(6) IUI yang Melalui Tahap Persetujuan Prinsip diberikan kepada Perusahaan Industriyang telah memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku seperti IjinLokasi, Undang-undang Gangguan atau Analisa Mengenai Dampak Lingkungan(AMDAL), Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL), Upaya PemantauanLingkungan (UPL), Dokumen Pengelolaan Lingkungan (DPL) dan telah selesaimembangun pabrik dan sarana produksi serta telah siap berproduksi.7

Pasal 5Perusahaan Industri yang telah melakukan perluasan melebihi 30% (tiga puluh persen)dari kapasitas produksi yang telah diijinkan sesuai, IUI, TDI yang dimiliki, wajibmemiliki Ijin Perluasan.Pasal 6(1) IUI, Izin Perluasan dan TDI berlaku selama Perusahaan Industri yang bersangkutanberoperasi, dan wajib melakukan Daftar Ulang secara periodik dengan jangka waktu3 (tiga) tahun setelah tanggal diterbitkan Izin tersebut, yang harus diajukan dalamjangka waktu 2 (dua) bulan sebelum batas waktu daftar ulang.(2) IUI dan Ijin Perluasan untuk Penanaman Modal Asing masa berlakunya diberikansesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 Jo. Nomor 11Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing serta peraturan pelaksanaannya.Pasal 7IUI dan TDI diberikan untuk masing-masing jenis industrti sesuai dengan KlasifikasiLapangan Usaha Indonesia 5 (lima) digit sebagaimana dimaksud dalam KeputusanMenteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 589/MPP/Kep/10/1999 yang mencakupsemua Komoditi di dalam jenis industri tersebut.Pasal 8(1) Bagi Perusahaan Industri yang jenis industrinya tidak tercantum dalam SuratKeputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 148/M/SK/7/1995tentang Penetapan jenis dan komoditi industri, yang proses produksinya tidakmerusak ataupun membahayakan lingkungan serta tidak menggunakan sumber dayaalam secara berlebihan untuk memperoleh IUI harus melalui Tahap PersetujuanPrinsip.(2) Bagi Perusahaan Industri yang jenis industrinya tercantum dalam Surat KeputusaanMenteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 148/M/SK/7/1995, untukmemperoleh IUI dapat langsung diberikan Tanpa Melalui Tahap PersetujuanPrinsip, tetapi wajib membuat Surat Pernyataan.Pasal 9(1) Surat Pernyataan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) wajib memuatketentuan mengenai kesediaan perusahaan industri antara lain untuk :a. Tidak berproduksi komersial sebelum memenuhi segala persyaratan dariinstansi lain yang berkaitan dengan pembangunan pabrik dan sarana produksimaupun ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;b. Menyelesaikan pembangunan pabrik dan sarana produksi selambat-lambatnya 3(tiga) tahun terhitung mulai tanggal IUI diterbitkan;c. Menerima segala akibat hukum terhadap pelanggaran atas Surat Pernyataanyang telah dibuatnya.(2) Bentuk Surat Pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini adalahFormulir SP-I.8

Bagian KeduaTata Cara Permintaan Ijin Usaha IndustriParagraf 1Melalui Tahap Persetujuan PrinsipPasal 10(1) Pengajuan permintaan Persetujuan Prinsip menggunakan Formulir Model Pm-I.(2) Pengajuan permintaan IUI melalui Tahap Persetujuan Prinsip menggunakanFormulir Model Pm-III.Pasal 11(1) Permintaan Persetujuan Prinsip diajukan secara langsung kepada Walikota atauPejabat yang ditunjuk dengan menggunakan Formulir Model Pm-I.(2) Setelah Formulir Model Pm-I diterima secara lengkap dan benar, Walikota atauPejabat yang ditunjuk selambat-lambatya 14 (empat belas) hari kerja wajibmemberikan Persetujuan Prinsip dengan menggunakan Formulir PI-I.(3) Terhadap permintaan Persetujuan Prinsip yang diterima, tetapi tidak lengkap ataubelum benar, Walikota atau Pejabat yang ditunjuk selambat-lambatnya 14 (empatbelas) hari kerja sejak diterima Permintaan Persetujuan Prinsip wajib menolak untukmemberikan Persetujuan Prinsip dengan menggunakan Formulir Model PI-VI.(4) Terhadap permintaan Persetujuan Prinsip yang ternyata jenis industrinya termasukdalam bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal, selambat-lambatnya 14(empat belas) hari sejak diterima Permintaan Persetujuan Prinsip, Walikota atauPejabat yang ditunjuk wajib mengeluarkan Surat Penolakan dengan menggunakanFormulir model PI-VI.(5) Persetujuan Prinsip dapat diubah sesuai dengan permintaan dari yang bersangkutan.(6) Persetujuan Prinsip berlaku selama jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung mulaiPersetujuan Prinsip diterbitkan.(7) Dalam melaksanakan Persetujuan Prinsip, Perusahaan Industri yang bersangkutanwajib menyampaikan informasi kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk tentangkemajuan pembangunan pabrik dan sarana produksi setiap 1 (satu) tahun sekalipaling lambat pada tanggal 31 Januari pada tahun berikutnya dengan menggunakanFormulir Model Pm-II.(8) Persetujuan Prinsip batal dengan sendirinya apabila dalam jangka waktu selambatlambatnya 3 (tiga) tahun pemohon/pemegang Persetujuan Prinsip tidakmenyelesaikan pembanguna

organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya; o. Perdagangan adalah kegiatan jual beli barang atau jasa yang dilakukan secara terus menerus dengan tujuan pengalihan hak atas barang atau jasa dengan disertai imbalan atau kompensasi; p. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan .

Related Documents:

13. Peraturan Daerah Kota Madiun Nomor 02 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Kota Madiun; 14. Daerah Kota Madiun Nomor 04 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Madiun Nomor 02 Tahun 2010; 15.

Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat 2009-2029; Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 13 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaaan Keuangan Daerah; 12) Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kota Bogor (Lembaran Daerah Kota Bogor Tahun 2008 Nomor 2 Seri E);

dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan

GAMBARAN UMUM STUDI DAN PERSEPSI MASYARAKAT 3.1 Tinjauan Kebijakan RTH Yang Relevan 3.1.1 Kebijakan Pengembangan Kota Bandung (RTRWK Bandung 2013) Fungsi Kota Bandung Sesuai dengan visi dan misi Kota Bandung sebagai Kota Jasa yang Genah, Merenah dan Tumaninah, maka sektor-sektor perekonomian yang akan dikembangkan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Depok tahun 2006-2025 merupakan dokumen perencanaan jangka panjang yang memuat visi, misi dan arah pembangunan jangka panjang daerah Kota Depok yang disusun dengan mengacu kepada RPJP Nasional, dan diselaraskan dengan RPJMD Kota Depok tahun 2006-2011.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara, Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. (Lembaran Negara Republik .

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 7. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan

Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821); 3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara . Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Ta