PENINGKATAN KUALITAS PENGHAYATAN TOKOH PADA PEMBELAJARAN .

1y ago
51 Views
1 Downloads
434.76 KB
109 Pages
Last View : 8d ago
Last Download : 9m ago
Upload by : Amalia Wilborn
Transcription

PENINGKATAN KUALITAS PENGHAYATAN TOKOHPADA PEMBELAJARAN APRESIASI DRAMAMELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA SISWAKELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 KARTASURATAHUN PELAJARAN 2009/2010SkripsiOleh:ROSE DYAH SETYOWATIK1206037PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIAFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2010

PENINGKATAN KUALITAS PENGHAYATAN TOKOHPADA PEMBELAJARAN APRESIASI DRAMAMELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA SISWAKELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 KARTASURATAHUN PELAJARAN 2009/2010Oleh:ROSE DYAH SETYOWATINIM K1206037SKRIPSIDitulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar SarjanaPendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2010ii

PERSETUJUANSkripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim PengujiSkripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas MaretSurakarta dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelarSarjana Pendidikan.Persetujuan PembimbingPembimbing I,Pembimbing II,Drs. Slamet Mulyono, M. Pd.NIP 19620728 199003 1 002Sri Hastuti, S.S., M.Pd.NIP 19690628 200312 2 001iii

PENGESAHANSkripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi FakultasKeguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterimauntuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.Hari:Tanggal:Tim Penguji Skripsi:Nama TerangTanda TanganKetua: Dra. Raheni Suhita, M. Hum.Sekretaris: Atikah Anindyarini, S. S., M. Hum.Anggota I: Drs. Slamet Mulyono, M. Pd.Anggota II: Sri Hastuti, S. S., M. Pd.Disahkan olehDekan Fakultas Keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Sebelas Maret,Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.NIP 19600727 198702 1 001iv

ABSTRAKRose Dyah Setowati. K1206037. Peningkatan Kualitas Penghayatan Tokohpada Pembelajaran Apresiasi Drama melalui Metode Bermain Peran padaSiswa Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura Tahun Pelajaran 2009/2010.Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas SebelasMaret, Mei 2010.Tujuan penelitian ini adalah (1) meningkatkan kualitas prosespembelajaran penghayatan tokoh melalui metode bermain peran pada siswa kelasXI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura dan (2) meningkatkan kualitas hasilpembelajaran penghayatan tokoh melalui metode bermain peran pada siswa kelasXI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura. Bentuk penelitian ini adalah penelitiantindakan kelas (classroom action research) yang dilakukan di SMA Negeri 1Kartasura dengan subjek penelitian siswa kelas XI IPS 1 yang berjumlah 45siswa. Objek penelitian adalah pembelajaran penghayatan tokoh dalam apresiasidrama yang merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.Pelaksanaan tindakan penelitian ini dilakukan mulai dari survei awal, kemudiandilanjutkan dalam dua siklus oleh guru kelas sebagai fasilitator pembelajaran sertapeneliti sebagai partisipan pasif. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yakni (1)perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi dan interpretasi;dan (4) analisis dan refleksi. Tahap perencanaan tindakan meliputi membuatskenario pembelajaran, mempersiapkan sarana pembelajaran, mempersiapkaninstrumen penilaian, dan mengajukan solusi alternatif berupa penerapan metodebermain peran untuk pembelajaran penghayatan tokoh. Pada tahap pelaksanaanpeneliti mengadakan pengamatan mengenai tindakan yang dilakukan, selain itu,pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan data yang nantinya diolah untukmenentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Tahap observasidilakukan untuk mengamati dan menginterpretasikan penggunaan metode bermainperan dalam pembelajaran penghayatan tokoh pada apresiasi drama, juga untukmengetahui adanya peningkatan proses dan hasil pembelajaran penghayatantokoh. Tahap analisis dan refleksi dilakukan untuk mengolah data hasil observasidan mencari kekurangan dalam pembelajaran untuk kemudian diperbaiki padasiklus selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat peningkatankualitas proses pembelajaran penghayatan tokoh melalui metode bermain peranpada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura: (a) meningkatnya keaktifansiswa saat apersepsi, (b) meningkatnya keaktifan siswa dalam prosespembelajaran, dan (c) meningkatnya antusiasme siswa dalam pembelajaran, (2)terdapat peningkatan kualitas hasil pembelajaran penghayatan tokoh melaluimetode bermain peran pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura, yaitu:pada siklus I sebesar 45 % atau sebanyak 20 siswa, dan (b) pada siklus IIdiperoleh hasil sebesar 74 % atau 33 siswa.v

MOTTOHanya orang bodoh dan orang mati yang tidak pernah mengubah pendapatnya(James Russel Lowell).Saya tidak dapat memastikan apakah perubahan akan memperbaiki sesuatu,tetapi saya dapat memastikan bahwa untuk menjadi lebih baik,sesuatu mesti berubah (George Christoph Lichtenberg).Hidup itu seperti musik, harus dikomposisikan dengan pikiran dan perasaan(penulis).vi

PERSEMBAHANPersembahan khusus atas karya ini teruntuk:1. Bapak dan Ibu tersayang yang teramat sabar dalammembimbingku,2. Kakakku (Andrian P. R.) yang setia mengawalku,3. Kakak-kakak dan adik-adikku di Peron yang telahmengajarkanku tentang kehidupan,4. Sahabat-sahabatku yang telah menyemangatiku.vii

KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmatdan hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sebagai syarat untukmendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalammenyusun skripsi ini, penulis menemukan banyak permasalahan dan hambatan.Namun, berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya permasalahan dan hambatanyang dialami dapat diatasi. Untuk itulah, penulis mengucapkan terima kasihkepada:1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruandan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telahmemberikan izin penulisan skripsi ini;2. Drs. Soeparno, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni,Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakartayang telah memberikan izin penulisan skripsi kepada penulis;3. Drs. Slamet Mulyono, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasadan Sastra Indonesia sekaligus sebagai pembimbing I yang telah memberikanizin penulisan skripsi dan memberi arahan kepada penulis;4. Sri Hastuti, M Pd., selaku pembimbing II yang telah memberikan arahan dannasihat kepada penulis dalam menyusun skripsi ini;5. Drs. Juari M.M., selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kartasura yang telahmemberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian ini;6. Sri Supraptiningsih, S.Pd., selaku guru bahasa dan sastra Indonesia kelas XIIPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura yang telah membantu penulis menjadi gurukolaborator dalam penelitian tindakan kelas ini;7. Siswa-siswi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura yang membantuterlaksananya penelitian ini;8. Keluarga besar Kelompok Peron Surakarta atas goresan kehidupan yangmenakjubkan; danviii

9. Teman-teman Mahasiswa Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia2006 atas persahabatan dan kebersamaan yang menjadi kenangan indah.Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi perkembangan duniapendidikan, pembaca, dan pihak-pihak yang berkepentingan.Surakarta,PenulisixMei 2010

DAFTAR ISIHalamanJUDUL. iPERSETUJUAN.iiiPENGESAHAN. ivABSTRAK. vMOTTO. viPERSEMBAHAN. viiKATA PENGANTAR.viiiDAFTAR ISI.xDAFTAR TABEL. xiiiDAFTAR GAMBAR . xivDAFTAR LAMPIRAN . xvBAB I. PENDAHULUAN .1A. Latar Belakang Masalah.1B. Rumusan Masalah.5C. Tujuan Penelitian.5D. Manfaat Penelitian.6BAB II. LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR.7A. Landasan Teori.71. Hakikat Pembelajaran Apresiasi Drama.7a. Pengertian Pembelajaran Apesiasi Drama.7b. Evaluasi atau Penilaian Pembelajaran Drama.12c. Pembelajaran Apresiasi Drama di SMA.16d. Manfaat Mengapresiasi Sastra. 192. Hakikat Bermain Peran.21a. Pengertian Bermain Peran.21b. Konsep Teknik Bermain Peran.25c. Langkah-langkah Bermain Peran.31d. Masalah-masalah dalam Bermain Peran.33x

e. Manfaat Bermain Peran. 34f. Prinsip-prinsip Bermain Peran yang Efektif.343. Hakikat Penghayatan Tokoh dalam Drama.36a. Pengertian Tokoh.36b. Sifat-sifat Tokoh.40B. Penelitian yang Relevan . 43C. Kerangka Berpikir. 46D. Hipotesis Tindakan. 47BAB III. METODOLOGI PENELITIAN.48A. Tempat dan Waktu Penelitian. 48B. Bentuk dan Strategi Penelitian. 48C. Sumber Data.50D. Teknik Pengumpulan Data. 51E. Uji Validitas Data. 53F. Analisis Data. 54G. Prosedur Penelitian. 55H. Indikator Keberhasilan . 58BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .60A. Kondisi Pra-tindakan 60B. Deskripsi Hasil Penelitian . 651. Siklus Pertama . 65a. Perencanaan Tindakan I . 65b. Pelaksanaan Tindakan I . 67c. Observasi dan Interpretasi . 69d. Analisis dan Refleksi Tindakan I 732. Siklus Kedua 74a. Perencanaan Tindakan II. . 74b. Pelaksanaan Tindakan II . 76c. Observasi dan Interpretasi . . 77d. Analisis dan Refleksi Tindakan II . 82C. Pembahasan 82xi

BAB V.SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN 89A. Simpulan 89B. Implikasi . 91C. Saran 92DAFTAR PUSTAKA. 94LAMPIRAN 96xii

DAFTAR TABELTabelHalaman1. Nilai Pratindakan Siswa XI IPS 1 .32. Penilaian Indikator Keaktifan Siswa .153. Penilaian Indikator Bermain Peran. 154. Kompetensi Dasar Pembelajaran Pemeranan Tokoh Drama. 185. Rincian Kegiatan Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian . 486. Rincian Indikator Keberhasilan Penelitian. 597. Nilai Hasil Penghayatan Tokoh Siklus I. 718. Nilai Hasil Penghayatan Tokoh Siklus II. 809. Presentase Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran. 8510. Deskripsi Hasil Penelitian. 85xiii

DAFTAR GAMBARGambarHalaman1. Kerangka Berpikir .462. Tahap-Tahap Penelitian . 56xiv

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahApresiasi sastra kini hadir sebagai salah satu materi pembelajarandalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran apresiasidrama diharapkan agar siswa mampu menemukan hubungan antara proses danhasil yang diperoleh dalam cipta sastra yang dilakukan. Oleh karena itu, siswaharus dihadapkan langsung dengan karya sastra agar dapat berkomunikasisecara langsung dengan karya sastra tersebut. Kegiatan tersebut yangdinamakan dengan apresiasi sastra. Pembelajaran drama tercakup dalampembelajaran apresiasi sastra, karena di dalamnya siswa tidak hanya diajariteori semata, tetapi juga menemukan hubungan antara proses dan hasil yangnantinya akan dicapai.Drama merupakan salah satu jenis karya sastra yang menjadi bahanajar pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di tingkat Sekolah MenengahAtas (SMA). Drama merupakan bentuk karya sastra yang bersifat dialogis,karena berwujud percakapan atau dialog antara tokoh. Mempelajari karyasastra, dalam hal ini drama bukanlah tanpa tujuan, seperti yang ditegaskanoleh Rahmanto (1988: 90) bahwa tujuan utama mempelajari drama adalahuntuk memahami bagaimana suatu tokoh harus diperankan dengan sebaikbaiknya dalam suatu pementasan. Sehingga dapat dikatakan bahwapembelajaran drama merupakan sebuah proses pembinaan apresiasi sastradalam bentuk memahamkan seluk beluk drama baik dalam bentuk teks dramamaupun pementasan drama.Pembelajaran drama masih kurang mendapat respon yang positif darikalangan siswa ataupun guru berdasarkan pengamatan yang telah dilakukanoleh IGK Tribana (2005) seorang guru dari SMA N 6 Denpasar. Drama hanyamendapat porsi yang tidak banyak dalam kurikulum, dan hal ini menjadi salahsatu kendala perkembangan pembelajaran drama, sedangkan dari segi guruxv

adalah minimnya pengetahuan guru tentang drama serta penggunaan metodeyang belum tepat. Guru masih berkutat pada materi kebahasaan saja.Pembelajaran drama di kalangan tertentu menjadi momok bagi guru Bahasadan Sastra Indonesia. Tidak semua guru mempunyai pengetahuan tentangdrama dan mampu menularkannya pada anak didik. Sehingga pembelajarandrama berlangsung seadanya, tanpa upaya lebih dari guru. Kualitas prosespembelajaran kurang diperhatikan sehingga hasilnya pun kurang sesuaidengan harapan. Pembelajaran drama yang menggunakan metode belum tepatini, membuat siswa menjadi kurang tertarik.Pembelajaran apresiasi drama di sekolah memang banyak dikeluhkan olehguru. IGK Tribana (2005) menyatakan bahwa kualitas proses pembelajaranapresiasi drama kurang diperhatikan sehingga hasilnya pun kurang sesuai denganharapan. Model pembelajaran drama selama ini juga masih memakai modelpembelajaran tradisional yang kurang menarik perhatian siswa. Modelpembelajaran tersebut guru mendominasi pembelajaran serta kurang mengajaksiswa untuk kreatif. Padahal semestinya sastra, dalam hal ini drama dapat menjadipemicu siswa untuk memunculkan kreativitas baru karena objek kajian sastraadalah daya imajinasi dan nilai rasa seseorang. Daya imajinasi dapatmemunculkan pemikiran-pemikiran yang menunjang kreativitas siswa, sedangkannilai rasa dapat membuat siswa peka terhadap fenomena yang terjadi disekitarnya. Bila daya imajinasi dan nilai rasa tersebut digabungkan, pembelajaransastra tentu dapat menarik dan menjadi wahana pengembangan kreativitas siswadan juga guru.Kesimpulan dari penelitian IGK Tribana (2005) adalah pembelajarandrama di lapangan kurang dapat menjadi wahana siswa untuk mengembangkankreativitas, sehingga pembelajaran drama hanya berlangsung tanpa ada upayalebih. Hal ini berimbas pada kurang tertariknya siswa untuk mempelajari sastra.Pembelajaran drama seharusnya mampu menjadi wahana bagi siswa untukmengembangkan kreativitas dan melatih kepekaan diri. Tetapi berdasarkan data dilapangan membuktikan bahwa pembelajaran drama yang diterapkan olehkebanyakan guru Bahasa Indonesia kurang mampu memotivasi siswa untuk lebihxvi

mengakrabi dunia sastra. Bertolak dari data lapangan yang ada dapat ditarikkesimpulan bahwa sumber permasalahan dalam pembelajaran drama adalah siswamenjadi tidak tertarik dengan pembelajaran drama sehingga menurunkan minatsiswa terhadap dunia drama. Lebih lanjut lagi, hal ini akan mematikan kreativitassiswa dalam berkarya.Hal itulah yang saat ini terjadi di dalam pembelajaran apresiasi drama disekolah, khususnya di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura. Hasil observasiyang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkkan bahwa kualitas pembelajaranapresiasi drama di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura masih rendah. Hal inidapat dilihat dari hasil pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI IPS 1Kartasura, dari 45 orang siswa, hanya 20% yang dinyatakan memenuhi standarketuntasan belajar dari guru, yaitu mendapatkan nilai 7 ke atas pada pembelajaranapresiasi drama.Tabel. 1 Nilai Penghayatan Tokoh Pratindakan Siswa XI IPS 1KriteriaKurang (0-64)Cukup (65-69)Baik (70-100)Laki-laki11 siswa7 siswa6 siswaPerempuan8 siswa11 siswa2 siswaJumlah : Laki-laki: 24 siswaPerempuan : 21 siswaData di lapangan menunjukkan kualitas pembelajaran apresiasi drama dikelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura rendah. Hal ini disebabkan oleh; belumdimanfaatkannya bahan pengajaran drama secara maksimal, aspek afektif siswayang cenderung diabaikan dalam pembelajaran apresiasi drama, pembelajaranapresiasi drama lebih mementingkan hasil sebagai produk daripada proses, pesertadidik selalu merasa jenuh dan bosan dalam pembelajaran apresiasi drama, danterbatasnya pemahaman guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam apresiasi drama.Berkaitan dengan hal tersebut, guru sastra yang kreatif harus mempunyaijalan alternatif dalam membelajarkan apresiasi drama di sekolah. Guru harusmemiliki metode sendiri dalam menyikapi hal tersebut. Salah satunya denganmenerapkan pementasan drama dalam pembelajaran apresiasi drama.xvii

Berdasarkan hasil diskusi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan SastraIndonesia di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura disepakati masalahpembelajaran tersebut diperbaiki dengan metode bermain peran. Bertolak dariuraian di atas dalam kaitannya dengan penelitian ini perlu dilakukannya upayapeningkatan kualitas proses dan hasil penghayatan tokoh pembelajaran apresiasidrama pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura berbentuk penelitiantindakan kelas (PTK). Dipilihnya metode bermain peran untuk meningkatkankualitas pembelajaran apresiasi drama karena berdasarkan hasil survei yang telahdilakukan oleh peneliti, siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Kartasura merupakansiswa unggulan, sangat kreatif, dan mam

baiknya dalam suatu pementasan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran drama merupakan sebuah proses pembinaan apresiasi sastra dalam bentuk memahamkan seluk beluk drama baik dalam bentuk teks drama maupun pementasan drama. Pembelajaran drama masih kurang mendapat respon yang positif dari

Related Documents:

Evolusi Pengendalian Kualitas ( Feigenbaum , 1988 ) Tahun Perioda 1900 Pengendalian Kualitas oleh operator 1900-1920 Pengendalian Kualitas oleh mandor 1920-1940 Pengendalian Kualitas dengan inspeksi 1940-1960 Pengendalian Kualitas dengan statistik 1960 -1970 Pengendalian kualitas total (TQC) 1970-1980 TQ

Peningkatan ini terbukti pada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dari skor rerata pratindakan sebesar 64.25 menjadi 69.63 pada siklus I dan meningkat menjadi 78.25 pada siklus II. Siswa yang mencapai kriteria keberhasilan mengalami peningkatan dari 43.75% pada pratindakan menjadi 62.5% pada siklus I dan meningkat menjadi 87.5% pada .

pengendalian kualitas produk (quality control) pada CV Bina Tehnik meliputi proses pengendalian kualitas (qualitycontrol) pada bahan baku, pengendalian kualitas selama proses produksi berlangsung, sampai pada produk akhir/produk jadi yang disesu

ekspresi yang sesuai dengan karakter tokoh dalam drama. Penilaian keterampilan berbicara ini didasarkan pada lima aspek drama yaitu lafal, intonasi, penghayatan, ekspresi, dan improvisasi. Role playing juga dikenal dengan nama model pembelajaran bermain peran merupakan model pembelajaran yang mengajak

Pengendalian kualitas menentukan ukuran, cara dan persyaratan fungsional lain suatu produk dan merupakan manajemen untuk memperbaiki kualitas produk, mempertahankan kualitas yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah bahan yang rusak. Dengan adanya pengawasan kualitas

pengendalian kualitas yang baik, karena kualitas merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen. Produk yang baik adalah produk yang memiliki kualitas yang sesuai dengan keinginan pelanggan dengan tingkat kecacatan seminimal mungkin. Pengendalian kualitas

pengendalian kualitas. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Kualitas Ishikawa mendefinisikannya dengan melihat kualitas dari sudut pandang konsumen. Beliau menya-takan bahwa tingkat kualitas ditentukan oleh seberapa baik suatu karakteristik kualitas pengganti (spesifikasi produk) dalam memenuhi karakteri

The Handbook has been prepared for University students as the textbook in English Phonetics. It can as well be used by the teachers and students of English at any level as a ‘guide’ to correct pronunciation. I am very grateful to my colleagues for reading the draft and giving me valuable recommendations for improving the material. 6 Section A THEORY What are the English sounds and how do .