FILSAFAT, ILMU, DAN ILMU SOSIAL - Staff Site Universitas .

3y ago
255 Views
70 Downloads
304.38 KB
70 Pages
Last View : 3d ago
Last Download : 5m ago
Upload by : Baylee Stein
Transcription

DIKTAT MATA KULIAHDASAR-DASAR ILMU SOSIALFILSAFAT,ILMU, DAN ILMU SOSIALDisusun OlehSupardi, M.Pd.JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAHFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMIUNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA20091

BAB IFILSAFAT ILMUA. Filsafat IlmuUntuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakanpengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yangdisusun oleh Ismaun (2001) Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of currentscientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy ofscience is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”.(Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapatpendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yangdikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelasbukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods ofscientific thinking and tries to determine the value and significance of scientificenterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metodepemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiahsebagai suatu keseluruhan)A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study ofthe nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions,and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabangpengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu,khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan,serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and therelations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahantentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antarapercobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutralanalysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secaraetis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to dofor science what philosophy in general does for the whole of human experience.Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories aboutman and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on theother, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief2

or action, including its own theories, with a view to the elimination ofinconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yangmencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruhpengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, inimembangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannyasebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafatmemeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasanbagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapanpada penghapusan ketakajegan dan kesalahanStephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, toelucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observationalprocedures, patens of argument, methods of representation and calculation,metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of theirvalidity from the points of view of formal logic, practical methodology andmetaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tamamenjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiahprosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metodepenggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, danseterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya darisudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmumerupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikatilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengankata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan)yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti : Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut?Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yangmembuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupailmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agarmendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebutkebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kitadalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitanantara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimanapenentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimanakaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiahdengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S.Suriasumantri, 1982)3

Filsafat dan Ilmu dikenal di dunia Barat berasal dari Yunani Kuno. Padazaman itu filsafat dan ilmu jalin menjalin menjadi satu dan orang tidakmemisahkannya sebagai hal yang berlainan. (Gie:1) Filsafat dan ilmu masuk dalamkategori pengetahuan rasional.Arab : FalsafahYunani : Philo (kebijaksanaan Sophia (mencintai)Filsafat adalah berfikir dan merasa sedalam-dalamnya terhadap segala sesuatusampai kepada inti persoalan. Kata lain dari filsafat adalah hakikat dan hikmah.B. Filsafat sebagai ilmu pengetahuan Plato (427-348 SM) : Ilmu pengetahuan yang berminat mencari kebenaran yangasli Aristoteles (382-322 SM): Ilmu Pengetahuan yang meliputi kebenaran yangterkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi,politik, dan estetika. Alfarabi : 870-950 : Ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimanahakikatnya yang sebenarnya Descartes (1590-1650) : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan dimanaTuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan Imanuel Kant (1724-1804) : ILmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkaldari segala pengetahuan yang mencakup dalam empat persoalan :1. Apakah yang kita ketahui (jawabnya :metafisika)2. Apakah yang seharusnya kita ketahui ? (jawabnya etika)4

3. Sampai dimanakah harapan kita? (jawabnya agama)4. Apakah yang dinamakan manusia? (jawabnya : antropologi)C. Filsafat sebagai salah satu cara berfikirCaranya berfikir ; induktif, deduktif, ilmiah, filsafatKarakteristik berfikir filsafat :1. Menyeluruh; ingin melihat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya, missalkaitan ilmu dengan moral, agama, dan sebagainya2. Mendasar; tidak percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar3. Spekulatif; renungan dalam secara teori, untung-untungan ;Pengetahuan kepastian filsafat dimulai dengan rasa ingin tahu, ragu-ragu,ingin tahu dan ragu-ragu. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kitaketahui dan apa yang kita belum tahuBerfilsafat berarti rendah hati, tak semuanya akan pernah kita ketahuiBerfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita:1. Apakah yang sebenarnya kita ketahui tentang ilmu2. Apakah cirri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dengan pengetahuanlain3. Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar4. Mengapa kita mesti mempelajari ilmu5. Apa kegunaan yang sebenarnya?5

D. Cabang-cabang filsafatPokok permasalahan yang dikaji dalam filsafat: apa yang disebut benar dansalah (logika), baik dan buruk (etika), indah dan jelek (estetika), ditambah ;metafisika (tentang ada), dan politik (kajian organisasi social yang ideal)Kelima cabang tersebut kemudian berkembang menjadi cabang-cabangfilsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik.1. Epistemologi (Filsafat pengetahuan)2. Etika (filsafat moral)3. Estetika (filsafat seni)4. Metafisika5. Politik6. Filsafat Agama7. Filsafat Ilmu8. Filsafat Pendidikan9. Filsafat Hukum10. Filsafat Sejarah11. Filsafat MatematikaFilsafat Ilmu merupakan bagian epistemologi (filsafat pengetahuan) yangsecara spesifik mengkaji hakikat ilmu.D. Substansi Filsafat Ilmu6

Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalamempat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2)kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.1. Fakta atau kenyataanFakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung darisudut pandang filosofis yang melandasinya. Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensiantara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataanini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensiantara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas,kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirikdengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensiantara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang faktaobyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagianrealitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia.Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaranmanusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasatertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini7

bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yangdiungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatudeskripsi ilmiah.2. Kebenaran (truth)Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namunsecara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensidan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel Williammengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenarankorespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi.Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaranparadigmatik. (Ismaun; 2001)a. Kebenaran koherensiKebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatuyang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatuunsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa padatatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.b. Kebenaran korespondensiBerfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu iturelevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadiansejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antarafakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifikc. Kebenaran performatif8

Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual danmenyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupunyang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benarbila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.d. Kebenaran pragmatikYang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memilikikegunaan praktis.e. Kebenaran proposisiProposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yangmerentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenarandapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles,proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi.Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benarformalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.f. Kebenaran struktural paradigmatikSesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangandari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor,dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satudengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yangdimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebihmenyeluruh.3.Konfirmasi9

Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akandatang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagaikonfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanyamenggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapitidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuatpenjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapatditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.4.Logika inferensiLogika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XXadalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik enologiRusselmenampilkankorespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memangmemuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidakgeneral sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulanideografik.Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antararasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Gubamenampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realismemetafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universaldan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkankebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwapenarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut10

dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika. Secara garis besarnya,logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksi dan logika deduksi.11

BAB IIILMUA. Pengertian IlmuDalam bahasa Inggris “science” (ilmu) tidak sama dengan pengetahuan. Ilmu(bermakna ganda):· Menurut cakupannya ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebutsegenap pengetahuanilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan (Ilmumengacu kepada ilmu seumumnya).· Ilmu menunjuk kepada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yangmempelajari suatu pokoksoal tertentu. Dalam pengertian ini ilmu berarti suatuncabang ilmu khusus seperti misalnya antropologi, sosiologi, biologi, geografi.· Istilah “Science” Inggris kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang lebihterbatas lagi,yakni sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisik ataumaterial.Dari segi maknanya pengertian ilmu dari segi pustaka mencakup 3 hal:- Pengetahuan,- Aktivitas- Metode.Pengetahuan paling umum. Para filsuf cenderung terdapat pemehaman bahwailmu adalah kumpulanyang sistematis dari pengetahuan. Pengerian ilmu sebagai Pengetahuan sesuaidengan asal-usul istilah “Science” Latin “Scientia” Scire to know, to learn12

Istilah Ilmu Pengetahuan merupakan suatu pleonasme, yakni pemakaian lebihdaripada satu perkataan yang sama artinya. Dalam bahasa Inggris “science” (ilmu) tidak samadengan pengetahuanIlmu (bermakna ganda):· Menurut cakupannya ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenappengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan (Ilmu mengacu kepada ilmuseumumnya).Ilmu menunjuk kepada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang·mempelajari suatu pokok soal tertentu. Dalam pengertian ini ilmu berarti suatuncabang ilmu khusus seperti misalnya antropologi, sosiologi, biologi, geografi.· Istilah “Science” Inggris kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang lebihterbatas lagi, yakni sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisik atau material.Dari segi maknanya pengertian ilmu dari segi pustaka mencakup 3 hal:-Pengetahuan,-Aktivitas-Metode.Pengetahuan paling umum. Para filsuf cenderung terdapat pemehaman bahwa ilmuadalah kumpulan yang sistematis dari pengetahuan. Pengerian ilmu sebagai Pengetahuan sesuai dengan asal-usul istilah “Sci- ence” Latin “Scientia” Scire to know, to learn.Oleh sebab itu wajar kalau ada makna tambahan dari ilmusebagai aktivitas (suatu proses,yakni serangkaian aktivitas yang dilakukan manusia). Sehingga ada yang berpendapatbahwa ilmu proses yang membuat pengetahuan. Ada lagi yang berpendapat ilmu: suatu carayang teratur untuk memperoleh pengetahuan dari pada sebagai kumpulan teratur dari13

pengetahuan (intinya metode). Akhirnya digambarkan hubungan ketiganyaAktivitas,metode dan pengetahuan adalah kesatuan logis yang mesti ada secara berurutan. Ilmu harusdiusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu hharus dilaksanakan dengan metodetertentu dan ahkirnya aktivitas metodis itu menghasilkan pengetahuan. Kesatuan dari ketiga menyusun ilmu.Lebih jelas lagi harus dilihat bahwa 3 hal ini mempunyai 3 ciri pokok sebagai:· Kegiatan manusia/proses· sebagai tata tertib tindakan pikiran/prosedur.· Keseluruhan hasil yang dicapai oleh produk yang dinamis dipahami sebagai aktivitaspenelitian, metode,kerja dan pengetahuan sistematis.Pemahaman ilmu sebagai aktivitas, metode dan pengetahuan dapat diringkas menjadibagan: Pengertian ilmu- sebagai proses: Aktivitas penelitian (rasional, kugnitif danbertujuan) sebagai prosedur: metode ilmiah dan sebagai produk: pengetahuan sistematik.Akhirnya Ilmu dapat didefinisikan : Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasionaldan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehinggamenghasilkan kumpulan pengetahuan yanmg sistematis mengenai gejala-gejalakealaman, kemasyarakatan atau individu untuk tujuan mencapai kebenaran, memperolehpemahaman, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan.B. Ilmu Sebagai AktivitasZaman Yunani ilmu merupakan aktivitas kegiatan, suatu kegiatan melakukan sesuatu yangdilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu proses.Seseorang yang melaksanakan rangkaian aktivitas itu Ilmuwan. Ilmuwan : - Seseorang yangmempunyai latihan, kemampuan dan hasrat untuk mencari pengethuan baru, asas- asas baru dan14

bahan-bahan baru dalam sesuatu bidang ilmu.Mereka yang ikut serta dalam ilmu dalam caracara langsung dan kreatif.Sifat rasional aktivitas manusia—Aktivitas rasional kegiatan yangmempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitasberdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri ebagai kegiatan penalaran logisdari pengamatan empiris. Pemikiran rasional pemikiran yang mematuhi kaidah-kaidahlogika, baik logika tradisional maupun modern.Sifat kognitif bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif:suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, penerapan, pengkonsepsian dan penalaranyang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan tentang suatu hal.Bercorak Teleologis: mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalammelakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatutujuan tertentu yang diinginkan setiap ilmuwan.Tujuan-tujuan yang ingin dicapai ini eramalanPengendalianPenerapanIlmu Sebagai Aktivitas: - Rasional – proses pemikiran yang berpegang pada kaidahkaidah logika.-Kognitif – proses mengetahui dan memperoleh pengetahuan.Teleologis: - mencapai kebenaranMemperoleh pemahamanMemberikan penjelasan15

-Melakukan penerapan dengan melalui peramalan atau pengendalian.C. Ilmu Sebagai Metode IlmiahMetode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindak

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2009 DIKTAT MATA KULIAH DASAR-DASAR ILMU SOSIAL . 2 BAB I FILSAFAT ILMU A. Filsafat Ilmu Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang . politik, dan estetika. Alfarabi : 870-950 : Ilmu pengetahuan .

Related Documents:

Filsafat pemerintahan (politik) Filsafat agama Filsafat ilmu Filsafat pendidikan Filsafat hukum Filsafat sejarah Filsafat matematika. Filsafat Ilmu Filsafat ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial ka

Filsafat, Filsafat Hukum, dan Ruang Lingkup Filsafat Hukum Khotibul Umam, S.H., LL.M. M odul 1 merupakan langkah awal yang perlu Anda pahami dalam mempelajari mata kuliah Filsafat Hukum dan Etika Profesi. Pada Modul 1 ini, akan dibahas mengenai pengertian filsafat, filsafat hukum, dan ruang lingkup filsafat hukum.

5. Politik (Filsafat pemerintahan); 6. Filsafat Agama; 7. Filsafat ilmu; 8. Filsafat pendidikan; 9. Filsafat Hukum; 10. Filsafat sejarah; 11. Filsafat matematika. Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi, yakni : 1. Logika (apa yang disebut benar dan apa yang disebut sa

Filsafat merupakan induk dari segala ilmu yang mencakup ilmu-ilmu khusus. Tetapi perkembangan berikutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya yakni filsafat. Sejarah ilmu yang mula-mula melepaskan diri dari filsafat adalah matematika dan fisika pada zaman Renaissance, kemudian diikuti

memahami hakikat filsafat, terutama tentang definisi filsafat, filsafat itu berfikir, filsafat itu mencari, objek kajian dan cabang –cabang filsafat. Buku ini juga mengantarkan pembaca mengenai pendidikan sebagai ilmu dan tujuan pendidikan serta hakikat filsafat pendidikan. Pada akhirny

Suatu disiplin ilmu akan memiliki filsafat ilmunya sendiri [Contoh: Filsafat sains, Filsafat Pendidikan, atau Filsafat Pendidikan Sains] 3. Ilmu dan Agama Ada kelainan keinsyafan antara ilmu

filsafat ilmu sebagai fondasi dalam pengembangan akuntansi sangat besar. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah kontribusi filsafat ilmu sebagai fondasi pengembangan ilmu akuntansi dari waktu ke waktu. Secara khusus, telaah difokuskan pada tiga aspek utama filsafat ilmu

AMERICAN BOARD OF RADIOLOGY, ) ) CLASS ACTION ) Trial by Jury Demanded Defendant. ) CLASS ACTION COMPLAINT Plaintiff Sadhish K. Siva, (“Plaintiff”), for his Complaint against Defendant American Board of Radiology (“ABR” or “Defendant”) hereby alleges as follows: INTRODUCTION 1. This case is about ABR’s illegal and anti-competitive conduct in the market for initial board .