BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL .

3y ago
169 Views
27 Downloads
1.34 MB
64 Pages
Last View : 6d ago
Last Download : 5m ago
Upload by : Kaden Thurman
Transcription

8BAB IITINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODELPENELITIAN2.1 Tinjauan PustakaTinjauan pustaka adalah kajian mengenai penelitian sebelumnya yangmemiliki relevansi permasalahan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kajianterhadap penelitian-penelitian sebelumnya diharapkan memberikan wawasan agarbisa lebih memahami metode maupun landasan teori yang relevan. Selain itu,kajian ini bertujuan juga untuk mengantisipasi duplikasi penelitian atauplagiarism serta memungkinkan penelitian ini sebagai bantahan terhadappenelitian sejenis yang sebelumnya.Penelitian yang pertama dilaksanakan di Pasuruan oleh Antariksa (2009)dengan judul Pelestarian Kawasan Pecinan Kota Pasuruan. Penelitian ini menelititentang tindakan dan arahan pelestarian yang tepat pada bangunan kolonial diKawasan Pecinan Kota Pasuruan. Penelitian ini menitikberatkan pada wajahbangunan rumah kolonial yang memiliki ciri-ciri spesifik dan dapat menjadipetunjuk tentang kebudayaan, status sosial pemiliknya, dan kejayaan arsitekturkolonial. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metodepenelitian deskriptif. Sedangkan pemilihan sampelnya menggunakan metodepurpossive sampling. Kemudian dilanjutkan dengan analisa dengan menggunakanmetode deskriptif-kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bangunan rumah tinggal kolonial diKawasan Pecinan Pasuruan, dapat ditentukan tipologinya berdasarkan beberapa8

9ciri, sifat, dan kesamaan dasar, seperti a) Era pembangunan, b) Struktur konstruksibangunan yang meliputi bagian kepala, badan, dan kaki bangunan, c) Berdasarkangaya/langgam yang mempengaruhi tampilan wajah bangunan rumah tinggalkolonial tersebut. Berdasarkan era/periode pembangunan, bangunan kolonial yangada di Kawasan Pecinan Pasuruan dapat ditipologikan menjadi tiga kelompok,yaitu bangunan yang dibangun pada era 1800-1840, 1850-1890, dan 1900-1945.Berdasarkan elemen wajah bangunan, tipologi wajah bangunan kolonial dapatditentukan berdasarkan keberadaan, fungsi, bentuk, bahan, ornamen, danperubahan elemen-elemen tersebut. Berdasarkan gaya bangunan, wajah bangunankolonial di Kawasan Pecinan Pasuruan yang paling banyak digunakan adalahGaya Indisch Empire, yang mengindikasikan bahwa Kota Pasuruan berkembangpesat pada akhir abad ke-18 sampai dengan pertengahan tahun 1800-an.Arahan pelestarian ada 2 (dua) yaitu arahan fisik dan non fisik. Arahanpelestarian fisiknya yaitu : a) Pelestarian pada bangunan kuno meliputi preservasi,konservasi, rekonstruksi/renovasi, b) Elemen pembentuk kawasan, dan c)Penetapan elemen jalan bersejarah di wilayah studi. Sedangkan arahan pelestariannon fisik dilakukan melalui aspek kebijakan, ekonomi, dan sosial.Hasil temuan Antariksa yang akan dijadikan acuan dalam penelitian ini adalaharahan pelestarian fisik dan non fisik yang akan dilakukan. Hasil penemuan iniakan digunakan dalam menganalisa kemanfaatan adaptive reuse bagi terletakpadarumusanpermasalahan yaitu meneliti perubahan karakteristik bangunan yang berkembangdi Pecinan. Perbedaannya adalah pada karakteristik bangunan dari obyek yangditeliti. Antariksa meneliti perkembangan arsitektur kolonial sedangkan penelitian

10ini pada perkembangan Arsitektur China.Penelitian kedua dilakukan oleh Chantell (2005) yang berjudul The Adaptivereuse of Historic Industrial Buildings: Regulation Barriers, Best Practices andCase Studies. Latar belakang penelitian yang dilakukannya adalah keberadaanbangunan-bangunan industri bersejarah di Amerika Serikat yang mempunyaikendala regulasi dan harga/cost yang harus dikeluarkan dalam proses adaptivereuse. Metode yang dipakai adalah studi kasus bangunan-bangunan industribersejarah di Amerika kemudian analisa deskriptif dengan regulasi yang berlakudi daerah dimana studi kasus dilakukan. Hasil dari penelitiannya bahwa solusiuntuk mengatasi kendala adaptive reuse bangunan-bangunan industri bersejarahdi Amerika adalah regulasi dari pemerintah yang digunakan sebagai panduanadaptive reuse seharusnya memuat dengan jelas tentang kode zonasi. Kode zonasiberdasarkan intervensi bagaimana memperlakukan wajah baru, serta reviewdaerah-daerah mana yang bisa dilakukan adaptive reuse. Ada daerah dengantingkat tinggi, sedang, rendah bahkan zero intervention (tidak boleh dilakukanadaptive reuse) di lokasi tersebut.Persamaan dengan penelitian ini adalah proses adaptive reuse yang dilakukanpada bangunan bersejarah. Perbedaannya adalah pada obyek penelitian. Chantellmeneliti bangunan industri bersejarah dengan metode studi kasus pada bangunanbangunan industri bersejarah di kota-kota besar Amerika. Sedangkan penelitian inimeneliti bangunan bersejarah arsitektur China di satu daerah yaitu Pecinan diSampangan Pekalongan. Hasil Penelitian dari Chantell yang diambil dalampenelitian ini adalah solusi zonasi kawasan bangunan bersejarah yang akandilestarikan.

11Penelitian dari Li (2005) yang berjudul Adaptive reuse in Beijing’s TraditionalNeighbourhoods. Penelitian ini memaparkan tentang adaptive reuse sebagaisebuah strategi pelestarian kampung tradisional yang ada di kawasan urban kotatua Bejing, China. Dengan harapan bahwa hasil dari penelitian ini mengurangikonflik yang berkembang di kawasan urban. Metode yang dipakai dalampenelitian Lie adalah menganalisis nilai masyarakat tradisional China dan kondisikebutuhan kawasan urban dalam hal pemukiman berdasarkan teori adaptive reusedan contoh yang dilakukan di negara lain dengan mengedepankan manfaat daripenerapan adaptive reuse dan pertumbuhan kawasan tersebut. Persamaanpenelitian Li dengan penelitian ini adalah perubahan fungsi yang terjadi padabangunan Arsitektur China di Beijing yang merupakan Perkampungan China.Perbedaan dengan penelitian ini adalah bahwa penelitian Li fokus padapermasalahan urbanisasi dan pertambahan penduduk menjadikan adaptive reusebangunan-bangunan China bersejarah beralih fungsi sebagai tempat tinggal baru.Sedangkan penelitian yang dilakukan fokus pada bangunan-bangunan ArsitekturChina bersejarah yang beralih fungsi dari fungsi umum menjadi khusus maupunsebaliknya. Penelitian Li yang dipakai dalam penelitian ini adalah pembuatanregulasi khusus kawasan dan pelaksana adaptive reuse dari berbagai elemen yaituunsur pemerintah, swasta dan masyarakat setempat.Penelitian yang dikaji berikutnya adalah penelitian dari Nurmala (2003) yangberjudul Panduan Pelestarian Bangunan Tua di Kawasan Pecinan Pasar BaruBandung. Dalam penelitiaannya Nurmala memaparkan bahwa Kawasan PecinanKota Bandung merupakan kawasan bangunan tua yang telah rusak, tidakterpelihara dan juga berganti dengan bangunan modern dengan tidak

12memperhatikan karakter asli bangunan. Bentuk pengendalian telah dilakukan olehpemerintah Kota Bandung maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)Bandung Heritage dengan melakukan inventarisasi pada tahun 1997 yang ternyatamasih kurang untuk menjaga kelestarian karena bangunan yang dilindungi tidaktercantum secara eksplisit dan daftar bangunan yang ada belum disahkan secarahukum. Metode yang dipakai oleh Nurmala adalah metode kualitatif denganmenelaah tentang kebijakan dan aturan teknis pelestarian bangunan tua, sejarahperkembangan Kawasan Pecinan Kota Bandung secara keseluruhan, menelaahdasar pertimbangan pengelolaan pelestarian dan komponen pengendalianbangunan tua, sehingga dihasilkan panduan pelestarian bangunan tua untukKawasan Pecinan Kota Bandung.Persamaan penelitian Nurmala dengan penelitian ini adalah obyek penelitianyaitu Pecinan. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah bahwa penelitianNurmala menitikberatkan pada pentingnya regulasi pelestarian bangunan tua diKawasan Pecinan Kota Bandung sedangkan penelitian ini menitikberatkan padaproses adaptive reuse yang terjadi pada bangunan tua/ bersejarah arsitektur Chinadi Pecinan Ssampangan Pekalongan. Hasil penelitian Nurmala yang dipakai dalampenelitian ini adalah pedoman pelestarian Kawasan Pecinan yang bisa digunakansebagai acuan pelestarian Pecinan di Sampangan Pekalongan.Dari kajian pustaka tersebut diatas digunakan sebagai dasar penelitian yangdilakukan dan kemungkinan untuk pengembangan penelitian.2.2 Kerangka Berpikir dan KonsepKerangka berpikir adalah narasi (uraian) atau pernyataan (proposisi) tentangkerangka konsep pemecahan masalah yang telah diidentifikasi atau dirumuskan.

13Konsep merupakan bagian untuk menjelaskan arti dari cuplikan kata yangterdapat pada judul dan rumusan masalah penelitian agar tidak menimbulkanpersepsi yang berbeda antara peneliti dengan pembaca, sehingga maksud daripeneliti dapat tersampaikan dengan benar terhadap pembaca. Penjelasan konsepakan dijabarkan dengan mendalam untuk menyamakan persepsi.2.2.1 Kerangka berpikirUntuk memudahkan pemahaman tentang penelitian ini maka kerangkapemikiran yang terstruktur jelas diharapkan memberi arah terhadap penelitian.

14Penjelasan Kerangka Berpikir penelitian ini dijelaskan di gambar 2.1.Latar Belakang- Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi bangunanbangunan di dalamnya.- Adaptive reuse sebagai cara preservasi sekaligus menyelaraskan pelestarianbangunan pada kawasan bersejarah dan idealnya akan memperkuat karakter danintegritas arsitekturalnya.- Kota Pekalongan sebagai anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia yangmerupakan jaringan kota di Indonesia yang memiliki bangunan lama dan bersejarah.- Kondisi bangunan bersejarah arsitektur China di Sampangan Pekalongan banyakmengalami perubahan fungsi maupun perubahan karakter bangunan dan tidaksesuai kaidah pelestarian.- Regulasi Pemerintah Daerah tentang pelestarian bangunan bersejarah belum ada.- Pelestarian kawasan cagar budaya Pecinan diperlukanRumusan Masalah- Perubahan fungsi bangunan ketika fungsi tersebut diwadahi dan pengaruh perubahanterhadap karakter bangunan arsitektur China dan karakter lingkungan Pecinan.- Faktor penyebab perubahan fungsi, perubahan karakter bangunan arsitektur Chinadan lingkungan Pecinan di Sampangan Pekalongan- Strategi pelestarian lingkungan Pecinan di Sampangan PekalonganKajian pustaka tentang adaptive reuseKonsep Adaptive reuse pada bangunanLandasan Teori Teori perubahan Teori fungsi, bentuk dan makna dalambersejarah Bangunan bercorak arsitektur China Pecinan Pelestarian Kawasan Cagar Budayaelemen arsitektur Teori semiotik semantik arsitekturProses analisis dataStudi adaptive reuseGambar 2.1Kerangka berpikir

152.2.2 KonsepTerkait dengan judul dan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka ada 5(lima) konsep yang akan dijelaskan yaitu konsep adaptive reuse pada bangunanbersejarah, bangunan bercorak arsitektur China, Pecinan, perubahan fungsi dankarakter bangunan bercorak arsitektur China dan pelestarian kawasan cagarbudaya.2.2.2.1 Adaptive reuse pada bangunan bersejarahPerubahan fungsi suatu bangunan atau kawasan bersejarah kerap dijadikanalternatif dalam mempertahankan keberlanjutan fisik. Chantell (2005) dalampenelitiannya memaparkan,Today, historic districts around the country are experiencingunprecedented revitalization as cities use their cultural monumentsas anchors for redevelopment. Sometimes, efforts to preserve andrevitalize historic buildings run up against financial obstacles,restrictive zoning and codes, contamination, and structuralproblems that create challenges in reusing these unique structures.Jadi menurut Chantell, banyak kawasan bersejarah di negara – negara seluruhdunia yang menjalankan proses revitalisasi kawasan dengan menggunakanbangunan bersejarah untuk pengembangan kawasan. Upaya untuk melestarikandan merevitalisasi bangunan bersejarah berjalan melawan hambatan keuangan,aturan dan zonasi yang restriktif, kontaminasi, dan masalah struktural yangmenciptakan tantangan dalam pemanfaatan kembali bangunan bersejarah. Untukitu perlu adanya perencanaan pengelolaan memfungsikan kembali bangunanbersejarah (adaptive reuse) dengan tujuan keberlanjutan dengan tetapmempertahankan bangunan dan sesuai kaidah pelestarian. Terkait dengan konsep

16reuse bangunan bersejarah, Viollet-le Duc dalam Plevoets dan Cleempoel (2012)menyampaikan pernyataannya, The best of all ways of preserving a building is to find a use forit, and then to satisfy so well the needs dictated by that use thatthere will never be any further need to make any further changesin the building. In such circumstances, the best thing to do is totry to put oneself in the place of the original architect and try toimagine what he would do if he returned to earth and was handedthe same kind of programs as have been given to us. Now, thissort of proceeding requires that the restorer be in possession ofall the same resources as the original master – and that heproceeds as the original master did‖Pernyataaan Viollet-le Duc menunjukkan bahwa cara terbaik untuk melestarikanbangunan adalah menemukan penggunaan bangunan untuk memenuhi kebutuhandengan batasanpenggunaan selanjutnya pada perubahan fisik bangunan. Halterbaik untuk dilakukan dalam keadaan ini adalah mencoba menempatkan diripada posisi arsitek sebelumnya dan mencoba membayangkan apa yang akandilakukannya jika dia kembali dan menyerahkan keinginanyangsamasebagaimana telah diberikan kepada kita. Proses ini mengisyaratkan bahwakeinginan menempatkan kembali bangunan mensyaratkan bahwa proses yangterjadi selaras dengan keinginan arsitek sebelumnya dan posisi arsitek sekarangadalah melanjutkan seperti yang arsitek sebelumnya lakukan.ICOMOS (1999) menyebutkan pengertianadaptive reuse adalahmemodifikasi sebuah tempat untuk disesuaikan dengan fungsi eksisting ataufungsi yang diusulkan. Jogja Heritage Society (2009) merumuskan adaptive reusesebagai aktifitas menggunakan struktur lama untuk fungsi baru. Pada umumnyadilakukan rehabilitasi eksterior atau interior. Austin (dalam Chantell, 2005)mengemukakan,

17Adaptive reuse is the act of finding a new use for a building. It isoften described as a process by which structurally sound olderbuildings are developed for economically viable new uses.Jadi Austin menyimpulkan makna adaptive reuse sebagai tindakan menemukanpenggunaan baru sebuah bangunan dan digambarkan sebagai suatu proses dimanasecara struktural, bangunan tua dikembangkan untuk penggunaan baru ekonomis.Wilkes (dalam Lie 2005) mendefinisikan adaptive reuse sebagai berikut:The field of architecture concerned with continuing a Building orstructure in service by means of creating a new use for it, or withreconfiguration of a building so its original use can continue in anew form that meets new requirements.Artinya bahwa menurut Wilkes yang dimaksud dengan adaptive reuse merupakansalah satu bidang arsitektur yang fokus pada keberlanjutan bangunan maupunstrukturnya dalam rangka menciptakan penggunaan fungsi baru pada bangunanatau dengan konfigurasi ulang bentuk bangunan sehingga penggunaannya dapatterus berjalan secara terus menerus dalam bentuk bangunan baru yang memenuhipersyaratan fungsi baru. Tindakan adaptive reuse dalam Undang-Undang No.11Tahun 2010 diartikan sebagai tindakan adaptasi. Adaptasi adalah upayapengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhanmasa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkankemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilaipenting. Bahwa Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapatdilakukanadaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kinidengan tetapmempertahankan ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah KawasanCagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi (pasal 83 ayat 1).Sedangkan Heritage Council of New South Wales (2012) menjelaskan

18perbedaan pengertian antara adaptasi dan adaptive reuse sebagai berikut:Adaptation; means modifying a place to suit the existing use or aproposed use. Examples include works for interpretation - such as signsand paths, installing new wiring, piping, equipment and services.Adaptation can also include construction of substantial new structures.Adaptive reuse;means the modification of a building or structure and itscurtilage to suit an existing or proposed use, and that use of thebuilding or structure. Curtilage is the area of land surrounding an item,area or place of heritage significance that is essential for retaining andinterpreting its heritage significance.Jadi menurut Heritage Council of ofNew South Wales terdapat perbedaansignifikan antaraadaptiveadaptasi denganreuse.Adaptasiberartimemodifikasi sebuah tempat untuk disesuaikan pada fungsi yang ada sekarangatau fungsi baru yang mana adaptasi bisa juga termasuk konstruksi dari strukturbaru yang substansial. Sedangkan adaptive reuse merupakan modifikasi bangunanatau strukturnya atau kawasan untuk disesuaikan dengan fungsi lama dan ataufungsi baru.Rypkema dalam Avakyan (2013) mengidentifikasi lima hal manfaatsebagai dampak ekonomi dari adaptive reuse bangunan bersejarah jika dilakukandengan serius, yaitu: a) Penghasilan rumah tangga dan pekerjaan bagi lingkungansetempat, b) Pusat revitalisasi kota yang dikelola pemerintah, c) arah,d)Nilaijualperumahan/property yang semakin meningkat di lingkungan setempat, e) Usahakecil menengah (UKM) yang tumbuh di lingkungan setempat.Dari beberapa definisi tentang adaptive reuse, definisi yang digunakandalam penelitian ini adalah:1. Adaptive reuse merupakan proses penggunaan kembali bangunan lama denganmemberikan ruang bagi pemilik untuk menambah fasilitas maupun mengubah

19susunan ruang secara terbatas sesuai dengan kebutuhan fungsi baru.2. Perubahan dengan fungsi baru dan wajah yang baru yang dilakukandiupayakan tetap mempertahankan gaya arsitektur bangunan lama, konstruksiasli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya berdasarkan kaidahpelestarian.Definisi historic building atau bangunan bersejarah menurut Feilden(2003) adalah:One that gives us a sense of wonder and makes us want to knowmoreabout the people and culture that produced it. It has architectural,aesthetic, historic, documentary, archaeological, economic, sosial andeven political and spiritual or symbolic values; but the first impact isalways emotional, for it is a symbol of our cultural identity andcontinuity-a part of our heritage. If it has survived the hazards of 100years of usefullnes, it has a good claim tobeing called historicJadi, Feilden menyimpulkan bangunan bersejarah merupakan sesuatu yangmemberi kita rasa kagum dan membuat kita ingin tahu lebih banyak tentang (latarbelakang) orang-orang dan budaya pada jamannya. Bangunan bersejarah memilikinilai arsitektur, nilai estetika, nilai sejarah, nilai dokumenter, nilai arkeologi, nilaiekonomi, nilai sosial dan bahkan politik dan spiritual atau nilai simbolis danemosional, erlangsungan warisan kitadengan usia bangunan 100 tahun, maka bangunantersebut layak disebut bangunan bersejarah.Nelson (1988) dalam Architectural Character—Identifying the VisualAspects of Historic Buildings as an Aid to Preserving their Charactermenjelaskan metode untuk mengetahui karakteristik bangunan bersejarah, yaitu:Step 1) Identify the building's overall visual aspects, by examining theexterior from afar to understand its distinctive features, and the

20building site, or landscape. Step 2) Identify the visual aspects of theexterior at close range by moving up very close to see its materials,craftsmanship and surface finishes. Step 3) Identify the interior visualaspects – spaces, features and finishes by going into and through thebuilding.Yang artinya bahwa 3 langkah metode singkat diatas yaitu mengidentifikasi aspekvisual bangunan secara keseluruhan kemudian mengidentifikasi aspek visual darieksterior untuk melihat bahan yang digunakan maupun pengerjaannya sertamengidentifikasi aspek visual interior, merupakan cara mengenali karakteristikbangunan bersejarah.Undang-undang No. 11 Tahun 2010 tidak menjelaskan tentang definisibangunan bersejarah. Dalam Undang-undang hanya disebutkan tentang kriteriabenda, bangunan, atau struktur cagar budaya (Pasal 5) apabila memenuhi kriteria:a. Berusia 50 (lima

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL. PENELITIAN . 2.1 Tinjauan Pustaka. Tinjauan pustaka adalah kajian mengenai penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi permasalahan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kajian terhadap penelitiapenelitian sebelumnya diharapkan memberikan wawasan agar n-

Related Documents:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian ini menggunakan beberapa pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini. Hal ini berfungsi untuk pedoman dan pembanding penelitian yang akan dilakukan. Urfan (2017) melakukan penelitian berjudul Aplikasi Kalender Event Seni

10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Penelitian tentang aplikasi mobile berbasis android yang dibuat oleh universitas atau berisi info seputar kampus atau panduan bagi mahasiswa atau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Keagenan Keagenan adalah hubungan yang mempunyai kekuatan hukum yang terjadi bilamana kedua pihak bersepakat, memuat perjanjian, dimana salah satu pihak diamakan agen, setuju untuk mewakili pihak lainnya yang

6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Chronic kidney disease (CKD) a. Definisi Chronic kidney disease merupakan suatu keadaan kerusakan ginjal secar

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam penyusunan skripsi ini dibutuhkan tinjauan pustaka yang berisi teori-teori atau konsep-konsep yang digunakan sebagai kajian dan acuan bagi penulis 2.1.1. Pengertian Sistem Suatu sistem t

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pemahaman Konsep Pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan ke dalam bentuk yang lebih dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu mengaplikasikannya. Pemahaman konsep merupakan tingkat kemampuan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian ini mengacu pada beberapa sumber dan tinjauan yang sudah ada dimana masing-masing penulis menggunakan metode yang berbeda sesuai dengan permasalahan yang di

dealing with financial and monetary transactions such as deposits, loans, investments or currency exchanges. NB. Do not include trust companies in this section, although it can be considered a financial institution. All of the clients/customers categorized in A02-A12 are to total all active clients disclosed in A01a above. Introduction