Majalah Anak Berbahasa Jawa : Alternatif Pembentukan Watak .

3y ago
44 Views
2 Downloads
538.50 KB
12 Pages
Last View : 15d ago
Last Download : 3m ago
Upload by : Raelyn Goode
Transcription

Majalah Anak Berbahasa Jawa :Alternatif Pembentukan Watak Dan PekertiTarti Khusnul KhotimahBalai Bahasa YogyakartaAbstrakMemperkenalkan bahasa dan sastra Jawa kepada anak-anak sangat efektifbila dilakukan sejak dini. Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui majalahanak berbahasa Jawa. Majalah anak yang dimaksud, baik dari segi isimaupun bentuk disajikan sesuai dengan usia anak, sudut pandang dan ragambahasa anak. Majalah anak berbahasa Jawa dapat menjadi alternatifpembentukan watak dan pekerti mengingat berbagai informasipengetahuan, teknologi, budaya, sejarah, maupun karya sastra yangmencerminkan budaya Jawa khususnya, dan keanekaragaman budayabangsa Indonesia pada umumnya, dapat ditampilkan. Majalah anakberbahasa Jawa bahkan tidak hanya menjadi media pembentukan watak danpekerti, tetapi juga menjadi media pembinaan keterampilan berbahasa danbersastra Jawa, serta pembentukan dan pengembangan identitas diri dankepribadian anak sebagai anggota masyarakat Jawa sekaligus juga sebagaibagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya.Kata kunci: majalah anak, bahasa Jawa, budaya, watak, pekerti1. PengantarKurang lebih dalam satu dasawarsa terakhir, perhatian dan kesadaranakan pentingnya peranan bacaan anak dalam mencerdaskan kehidupanbangsa semakin meningkat. Hal ini ditandai antara lain oleh tersedianyaberbagai pilihan bacaan anak (berbahasa Indonesia dan Inggris), khususnyamajalah anak, yang semakin beragam dan dengan kemasan yang menarik.Selain disajikan melalui media cetak (misalnya majalah Bobo, Kreatif,Mombi, Bee, Aku Anak Shaleh, Kinan, dan XY Kids), dalam perkembanganlebih lanjut juga dapat dinikmati dalam bentuk digital (misalnya majalahBobo, Bravo, Kidnesia) dan dengan mudah dapat diakses di internet (lih.Khotimah, 2009:105).1

Lantas bagaimana dengan majalah anak berbahasa Jawa? Kenyataanmenunjukkan bahwa bacaan anak berbahasa Jawa sangat langka, bahkansepengetahuan penulis majalah anak berbahasa Jawa saat ini tidak ada.[1]Pada beberapa majalah (umum/dewasa) berbahasa Jawa, Djaka Lodhang,Panjebar Semangat, dan Jaya Baya memang dapat kita temukan rubrikcerita anak (“wacan bocah” atau “crita taman putra”) dan puisi(“geguritan”), tetapi hal ini tentu saja masih jauh dari memadai untukmemenuhi kebutuhan anak akan informasi, edukasi, dan hiburan.Bagaimanapun juga, keadaan ini akan memengaruhi pembentukan identitasdiri dan perkembangan kepribadian anak-anak masyarakat Jawa, khususnyayang berkaitan dengan perkembangan bahasa, sastra, dan budaya Jawa.Apalagi, kini telah terindikasi semakin kaburnya identitas kejawaanmasyarakat Jawa, yang antara lain dapat dilihat dari semakin melemahnyapenggunaan bahasa Jawa dan apresiasi terhadap sastra Jawa.Bertolak dari realitas tersebut, perlu ada upaya atau terobosan untukmengatasi krisis jati diri yang dialami masyarakat Jawa, khususnya bagianak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Salah satu cara yang dapatdilakukan adalah dengan meningkatkan peran dan fungsi bahasa dan sastraJawa, yang dalam hal ini adalah majalah anak berbahasa Jawa, sebagaipembentuk watak dan pekerti. Hal ini mengingat pembentukan watak danpekerti merupakan pengembangan nilai-nilai yang menjadi dasar bagipendidikan budaya dan karakter bangsa. Melalui majalah anak berbahasaJawa diharapkan nilai dan karakter Jawa yang dikembangkan pada diri anakakan menjadi kokoh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan diri,masyarakat, dan negara.2. Hakikat Majalah Anak, Watak, dan PekertiMajalah anak adalah majalah yang berisi bacaan yang ditujukan untukanak-anak. Mengacu pada pandangan Huck, Hepler dan Hickman (dalamSumardi, 2003:136) yang menyebutkan bahwa bacaan anak mempunyai ciriesensial berupa penggunaan sudut pandang anak dalam menghadirkaninformasi, maka majalah anak berbahasa Jawa yang dimaksud, baik darisegi isi maupun bentuk disajikan sesuai dengan usia anak, sudut pandanganak, dan ragam bahasa anak. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinanmajalah anak disukai dan dibaca anak remaja dan orang dewasa.Majalah anak sebagai bacaan anak, tidak hanya terbatas memuatmasalah kehidupan anak-anak, tetapi juga dunia orang dewasa, bahkandunia binatang dan tumbuhan, asalkan diceritakan dengan kacamata anak2

dan dengan ragam bahasa anak. Diksi, penalaran, dan struktur bahasa yangdigunakan disesuaikan dengan dunia anak. Pada umumnya bacaan yang adadi dalam majalah anak ditulis dengan kalimat-kalimat pendek (singkat) sertapilihan kosakata dan tata bahasanya lebih sederhana dibandingkan denganbacaan orang dewasa. Selain itu, salah satu ciri khas dalam majalah anakadalah adanya berbagai ilustrasi (gambar, foto, atau lukisan) yang menyertaitulisan. Ilustrasi dalam bacaan anak dimaksudkan untuk memperjelas,mengkonkretkan, dan membantu anak untuk mengimajinasikan cerita yangdiungkapkan lewat teks verbal. Oleh karena itu, antara teks verbal dengangambar ilustrasi yang menyertainya harus ada kesesuaian. Dengan adanyailustrasi, tampilan majalah anak juga tampak lebih menarik sehingga anakakan tertarik dan mau membacanya.Berdasarkan isi, bentuk, dan ragam bahasa yang ditampilkan dalammajalah anak, pada makalah ini, istilah anak dalam majalah anak berbahasaJawa diasumsikan sebagai anak usia setingkat sekolah dasar (SD). Hal inisejalan dengan pendapat Piaget (dalam Nurgiyantoro, 2005:12) yangmenyebutkan bahwa anak usia SD sudah dapat digolongkan ke dalamtingkat berpikir “konkret-operasional”. Pada usia ini, anak sudah mampumenganalisis kata yang tidak ada hubungan langsung dengan pengalamanpribadinya. Hal ini memungkinkan anak untuk menambah kata-kata abstrakke dalam perbendaharaan kosakata dan meningkatkan keterampilanpenggunaan tata bahasa. Dengan kata lain, anak usia ini sudah memilikiketerampilan menggunakan bahasa dalam membaca dan menulis.Selain itu, majalah anak dikatakan sebagai bacaan anak yang baikapabila mengandung nilai personal dan nilai pendidikan bagi anak.Dikatakan mengandung nilai personal apabila bacaan anak tersebut antaralain mampu memberikan kesenangan, mengembangkan imajinasi,memberikan beraneka ragam pengalaman, mengembangkan kemampuanbernalar, dan menghadirkan pengalaman universal. Dalam hubungannyadengan nilai pendidikan, bacaan anak mempunyai kontribusi dalam aspekperkembangan bahasa, perkembangan kognitif, perkembangan personalitas,dan perkembangan sosial (Tarigan, 1995:1-13).Adapun watak diartikan sebagai sifat batin manusia yangmemengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku (KBBI, 1997:1127)sedangakan pekerti adalah perangai, tabiat, akhlak, watak; perbuatan (KBBI,1997:742). Dalam bahasa Sansekerta, kata pekerti berasal dari akar kata kr‘bekerja’, ‘berkarya’, ‘berlaku’, ‘bertindak(keragaan)’; pekerti adalahtindakan (via Endraswara, 2006:2). Dari pengertian tersebut, dapat3

dikatakan bahwa watak lebih mengacu kepada hal yang sifatnya batiniahsedangkan pekerti lebih pada lahiriahnya. Meski antara watak dan pekertidapat dibedakan tetapi kedua kata itu saling berkaitan erat. Watak seseorangbaru tampak apabila terwujud dalam pekerti (tindakan).Dari uraian diatas, maka majalah anak berbahasa Jawa yang dimaksuddalam makalah ini adalah majalah anak sebagaimana halnya denganmajalah-majalah anak pada umumnya, yang di dalamnya memuat berbagaiinformasi aktual dan faktual, pengetahuan, sejarah, budaya, maupun karyasastra yang mencerminkan budaya Jawa khususnya, dan keanekaragamanbudaya bangsa Indonesia pada umumnya. Selain itu, penampilan majalahanak berbahasa Jawa juga dikemas secara menarik serta dilengkapi denganbermacam ilustrasi sehingga dapat dijadikan modal awal untuk menarikperhatian dan minat anak untuk membacanya.Dengan adanya ‘pergaulan’ anak dengan majalah anak berbahasaJawa diharapkan akan berdampak positif terhadap peningkatanketerampilan berbahasa dan bersastra Jawa pada diri anak, dan pada giliranselanjutnya dapat membentuk dan mengembangkan identitas diri dankepribadian anak sebagai anggota masyarakat Jawa yang berjati diri Jawa,tetapi sekaligus menjadi orang Jawa yang berbangsa Indonesia sertamenjadi orang Jawa yang merupakan anggota masyarakat dunia.3. Wujud Pembentukan Watak dan Pekerti dalam Majalah AnakBerbahasa JawaDi dalam Pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya dan KarakterBangsa (Pusat Kurikulum, 2010:9-10) diidentifikasi sejumlah nilai-nilaiyang dapat dikembangkan dalam pendidikan budi pekerti untuk anak usiaSD, lin,harga diri,tanggung jawab,potensi diri,cinta dan kasih sayang,kebersamaan dan gotong royong,kesetiakawanan,saling menghormati,4

k. tata krama dan sopan santun, danl. kejujuran.Di dalam majalah anak berbahasa Jawa, perilaku dasar di atasmewujud dalam bermacam genre bacaan anak. Nancy Anderson[2]mengelompokkan bacaan anak atas tujuh genre, yaitua)b)c)d)e)f)g)buku bergambar,ilmu pengetahuan,sastra tradisional,fiksi,biografi dan autobiografi,ilmu pengetahuan, danpuisi/syair.Sementara Nurgiyantoro (2005:30) mengelompokkan bacaan anak ataslima genre, yaituh)i)j)k)l)fiksi,nonfiksi,puisi,sastra tradisional, dankomik.Pada dasarnya pengelompokan di atas saling melengkapi satu denganyang lain (band. Sarumpaet, 2010:13-36). Oleh karena itu, penyebutangenre dalam makalah ini mengambil dari keduanya disesuaikan dengankebutuhan.Dalam pembentukan watak dan pekerti anak, kesadaran akan identitasdiri dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Kesadaran tersebuthanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikanpencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu yangmenghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. Berkaitan dengan hal ini,majalah anak berbahasa Jawa dapat berperan membangun kesadaran anak,misalnya dengan menampilkan rubrik “sejarah” yang berisi pengetahuansejarah kerajaan-kerajaan yang (pernah) ada di wilayah Jawa, sepertikerajaan Majapahit, Kasultanan Yogyakarta, atau Kasunanan Surakarta dansejarah berdirinya bangsa Indonesia. Pengetahuan sejarah dapat pula berupaartikel dari hasil reportase atau cerita-cerita fiksi tentang asal-usul tempatbersejarah, seperti asal-mula candi Ratu Boko dan asal usul candiPrambanan.5

Sementara itu, untuk membangun kesadaran, pengetahuan, wawasan,dan nilai-nilai yang hidup di lingkungan masyarakat dapat dilakukan denganmenampilkan rubrik “budaya" atau “tradisi” yang berisi pengetahuantentang adat istiadat (upacara tradisi, pakaian adat/daerah, dan rumah adat)baik yang ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY, maupun daerahdaerah lain di seluruh wilayah Indonesia. Demikian pula pusat-pusatkerajinan (batik, wayang, keris, gamelan, permainan/dolanan anak); pasarpasar tradisional; jajanan tradisional, bahkan dongeng tentang asal-usulnama tempat, gunung, sungai, atau peristiwa-periatiwa budaya yang bersifatlokal, seperti asal mula perayaan Kasada di Tengger dan asal mula perayaanSekaten di Yogyakarta juga penting dan menarik bila ditampilkan.Nilai-nilai sosial, moral, etika, dan religius juga perlu ditanamkankepada anak sejak dini. Hal ini dapat dicontohkan lewat karya-karya fiksi,baik fiksi modern maupun sastra tradisional, seperti dongeng Jaka Tarub,Lara Jonggrang, Nyai Rara Kidul, Andhe-Andhe Lumut, Cindhelaras,dancerita Kancil. Contoh sikap dan perilaku dalam tokoh cerita tersebutdapat dipandang sebagai salah satu cara efektif dalam menanamkan nilainilai moral kepada anak. Biasanya, anak akan mengidentifikasikan dirinyadengan tokoh-tokoh yang baik atau yang diidolakannya dan meneladanisikap dan perilaku tokoh tersebut.Cerita wayang yang dikenal sebagai warisan seni-budaya adiluhung,juga penting untuk diperkenalkan sebagai sebuah warisan nenek moyangyang telah bereksistensi sejak zaman prasejarah. Aspek ajaran moral yangdikandung, alur cerita, dan karakter tokoh dapat dikemas ulang ke dalamberbagai genre sastra anak. Hal ini dilakukan mengingat cerita wayangselama ini lebih populer dan mewaris melalui pertunjukan wayang kulit atauwayang orang. Cerita wayang pada intinya mengisahkan kepahlawananpara tokoh yang berwatak baik dalam menghadapi dan menumpas tokohyang berwatak jahat. Inti ajaran moral kurang lebih “kebaikan versuskejahatan pasti dimenangkan oleh kebaikan”. Oleh karena itu, perlupelestarian cerita wayang apalagi mengingat sebagian besar anak-anakzaman sekarang tidak lagi mengenal cerita wayang tetapi sebaliknya lebihakrab dengan cerita komik atau film kartun produk impor yang setiap hariditayangkan di televisi.Sastra tradisional, selain berfungsi mendukung berbagaiperkembangan emosional, afektif, kognitif, imajinatif, perasaan estetis, jugamendukung perkembangan kebahasaan dan memberikan hiburan yangmenyenangkan (Nurgiyantoro, 2005:167-168). Bahkan, membaca berbagai6

cerita dalam sastra tradisional dapat juga dipandang sebagai fasilitas bagianak untuk mengenal dan memahami warisan leluhur nenek moyang dimasa lalu yang menyebabkan eksistensi kita di masa kini. Cerita tradisionaldari berbagai penjuru tanah air dan dari berbagai pelosok dunia juga akanmemberikan kesempatan kepada anak untuk menanamkan danmengembangkan wawasan multikutural, menanamkan kesadaran bahwaada budaya lain selain budaya sendiri.Rubrik biografiatau riwayat hidup tokoh-tokoh terkenal jugamerupakan salah satu bacaan yang disukai anak. Apalagi jika disampaikandengan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi dengan ilustrasi (foto,gambar/lukisan) yang mendukung penokohan. Dengan membaca riwayatseorang tokoh, anak yang sedang dalam usia mencari identitas diri, akanmemperoleh banyak hal yang menyangkut pengetahuan, pengalaman hidup,dan keteladanan. Selain mengenalkan tokoh-tokoh Jawa, sepertiRanggawarsito, para wali (Wali Sanga) atau tokoh-tokoh pahlawannasional, seperti Bung Karno, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, R.A.Kartini, dan Ki Hadjar Dewantara, sebaiknya anak juga diperkenalkankepada tokoh-tokoh dunia, terutama tokoh ilmuwan, seperti Thomas Edison(penemu listrik), A. Graham Bell (penemu telepon), dan Wright bersaudara(penemu pesawat terbang). Penulisan profil atau tokoh remaja dan anakanak berprestasi juga akan mendorong anak untuk turut mengeksplor diri,menggali potensi menjadi anak berprestasi.Cerita bergambar dan komik strip (komik yang hanya terdiri atasbeberapa panel gambar saja) juga merupakan salah satu bacaan yang palingdigemari anak. Genre ini dapat dipakai untuk mengekspresikan berbagaigagasan, pemikiran, atau maksud-maksud tertentu. Isi cerita dapat berupacerita fiksi, cerita binatang, cerita historis, atau biografi. Bahkan ide-idefaktual dapat pula digunakan untuk menyindir atau menampilkan ceritalucu. Cerita bergambar dan komik dapat berfungsi mengkonkretkan isicerita, membantu memperkuat pemahaman, dan menstimulasi imajinasi.Selain itu, cerita bergambar juga dapat membantu anak untuk mengapresiasikeindahan, yang pada tahap tingkat lanjut berimplikasi pada pengembanganperilaku halus.Rubrik “Surat Pembaca” juga dapat dipakai sebagai bentuk latihanawal mengembangkan keterampilan berbahasa Jawa. Anak dapat belajarmenuangkan pikiran dan perasaan secara tertulis melalui pertanyaan,keinginan, atau pendapat yang ditujukan kepada redaksi. Dalam hal ini,kemampuan anak diasah untuk menciptakan dan menyusun kata dan kalimat7

yang komunikatif, yaitu bagaimana caranya memperkenalkan diri kepadaorang lain, bagaimana cara menyampaikan pertanyaan, mengajukanpermintaan/usulan, atau menyatakan pendapat/mengkritisi sesuatu denganmenggunakan bahasa Jawa yang sopan, sesuai dengan unggah-ungguh.Rubrik yang berisi hasil karya anak, baik berupa pengalaman pribadi(pengalaman lucu/tak disangka) sebanyak 2-3 paragraf, cerita cekak,geguritan, dan gambar/lukisan juga penting untuk dimunculkan di dalammajalah anak berbahasa Jawa. Selain berfungsi merangsang anak untukmengamati dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya juga dapat berfungsisebagai media pengembangan eksistensi diri. Dengan dimuatnya hasil karyadi majalah, anak akan merasa lebih percaya diri dan terdorong untuk lebihbanyak menggali potensi dan menciptakan berbagai kreativitas yangdiwujudkan dalam bentuk karya nyata.Beberapa gambaran wujud pembentukan watak dan pekerti di atashanyalah sebagian contoh kecil dari sekian banyak upaya yang dapatdilakukan melalui majalah anak berbahasa Jawa. Pengenalan/panduanpenulisan aksara Jawa dan unggah-ungguh basa serta pemuatan ungkapanungkapan Jawa, seperti paribasan, bebasan, dan saloka juga dapat menjadisarana penanaman kembali kearifan nilai-nilai budaya Jawa kepada anak,agar mereka lebih santun, arif, dan bijaksana dalam bertindak. Bentuk sastraJawa lainnya yang tak kalah menarik untuk ditampilkan adalah cangkriman,parikan, wangsalan, dan tembang dolanan anak. Demikian pula tips-tipspraktis membuat dolanan anak, resep masakan dan resep obat tradisional(yang sederhana), semuanya merupakan wujud pengenalan, pewarisan, danpelestarian nilai-nilai tradisi dan budaya Jawa yang berguna dalammemperkokoh jati diri dan ketahanan budaya bangsa.4. Menerbitkan Majalah Anak Berbahasa Jawa: Tantangan danHarapanSalah satu amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 adalahmenegaskan kewajiban pemerintah daerah untuk mengembangkan,membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhikedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai denganperkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budayaIndonesia (pasal 42).Berkaitan dengan amanat Undang-Undang di atas, maka menerbitkanmajalah anak berbahasa Jawa merupakan salah satu “kewajiban” yang harus8

dilakukan pemerintah daerah dalam rangka mengembangkan, membina, danmelindungi bahasa dan sastra Jawa. Selain itu, menerbitkan majalah anakberbahasa Jawa juga merupakan salah satu bentuk usaha mengembangkanindustri kreatif, khususnya dunia penulisan. Apalagi kenyataan di lapanganmenunjukkan bahwa jalur majalah lebih berperan dalam mendukungkehidupan sastra Jawa. Namun, sejak masa prakemerdekaan—sekarangpenerbitan majalah berbahasa Jawa (umum/dewasa) justru didominasi olehpihak swasta (Sedyawati, dkk., 2001:209, 212).Kehidupan majalah-majalah berbahasa Jawa yang ada selama iniumumnya tidak dapat bertahan lama karena lemah dalam sistempengelolaan, terutama dari segi pemasaran. Begitu pula yang dialamimajalah (umum/dewasa) berbahasa Jawa Jaya Baya, Panjebar Semangatdan Djaka Lodhang. Tiga majalahyang dianggap sebagai penyanggakehidupan sastra Jawa ini mengalami nasib yang kurang menggembirakan,seperti terbatasnya segmen pembaca, dianggap (didudukkan) sebagai mediamassa marginal, dan adanya desakan nasionalisme yang terus berkelanjutanyang mengakibatkan peran dan fungsi bahasa dan sastra Jawa menjadisangat terbatas (Sedyawati, dkk., 2001:214).Melihat fenomena di atas, maka untuk menerbitkan majalah anakberbahasa Jawa, selain diperlukan kemauan, tekad, dan dukungan daripemerintah maupun para pengambil kebijakan (stakeholder) jugadiperlukan profesionalitas, baik dalam pemroduksian maupunpemasaran.[3] Sosialisasi sebagai bagian dari bentuk promosi juga perludilakukan terus-menerus agar majalah anak berbahasa Jawa bisa tetap eksisdi tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, tidak ada salahnya mencontohstrategi, taktik, dan sentuhan emosional sebagaimana yang telah dilakukanoleh majalah anak Bobo[4]majalah anak berbahasa Indonesia yang eksis diIndonesia sejak tahun 1973 hingga sekarang dalam memenangkan danmemenetrasi pasar.Salah satu bentuk promosi yang dapat dilakukan majalah anakberbahasa Jawa adalah hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan di tengahtengah masyarakat. Contohnya mengadakan kegiatan/lomba/pelatihan yangberhubungan dengan bahasa, sastra dan budaya Jawa. Kegiatan sayembarapenulisan cerita (misalnya geguritan, cerita cekak, dongeng, dan ceritarakyat), lomba permainan tradisional (misalnya gasingan, gobak sodor,egrang, dan benthik), lomba pembuatan dolanan anak (misalnya gasing,kitiran, dan layangan), lomba memasak makanan/jajanan tradisional(misalnya klepon, dan cemplon), atau lomba adu kecerdasan (misalnya9

cangkriman) selaindapat mengembangkanbahasa, sastra, dan budaya Jawajuga dapat menjadi sarana pembentuk watak dan pekerti.Apabila semua usaha ini dilakukan, maka buka

Majalah anak adalah majalah yang berisi bacaan yang ditujukan untuk anak-anak. Mengacu pada pandangan Huck, Hepler dan Hickman (dalam Sumardi, 2003:136) yang menyebutkan bahwa bacaan anak mempunyai ciri esensial berupa penggunaan sudut pandang anak dalam menghadirkan informasi, maka majalah anak berbahasa Jawa yang dimaksud, baik dari

Related Documents:

KERA, dan majalah-majalah lain seperti COSMODE, Popteen, Gothic & Lolita Bible, ViVi, CanCam, Men’s Knuckle, dan Cosnap menimbulkan keinginan anak- anak muda Jepang pelaku fashion untuk lebih menonjolkan eksistensi diri agar dapat difoto dan dicantumkan dalam majalah- majalah tersebut. Para fotografer majalah

kalau membaca majalah-majalah bergambar cewek-cewek berbikini tersebut. Kalau sudah memegang majalah itu, dia tak akan bisa diganggu. Kalau ada yang berani mengganggu, siap-siap saja tak bakal dapat pinjaman majalah porno. Koleksi majalah pornonya Fauzi memang kelewat banyak. Ada saj

ANAK MEMBACA DINI Belajar membaca dini memenuhi rasa ingin tahu anak. Situasi akrab dan informal di rumah dan di KB atau TK merupakan faktor yang kondusif bagi anak untuk belajar. Anak-anak yang berusia dini pada umumnya perasa dan mudah terkesan serta dapat diatur. Anak-anak yang berusia dini dapat mempelajari sesuatu dengan mudah .

A. Pengertian Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini 2 B. Hubungan Antara Bahasa dan Pikiran 4 C. Berbahasa dan Berbicara 6 1. Pengertian berbahasa dan berbicara 6 2. Proses belajar berbicara 7 D. Faktor yang mempengaruhi perkembangan berbahasa dan berbicara 16 1.

(Dari Majalah Dewasa Hingga Majalah Anak Pra-Remaja “Tween”) Bab II membahas mengenai tubuh, perempuan, dan media massa khususnya terkait dengan citra tubuh (body image) dan majalah. Bab ini sekaligus bertujuan memenuhi kriteria

penggunaan bahasa Indonesia dengan kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar sesuai pedoman yang berlaku di era saat ini. Berdasarkan pernyataan tersebut, dipilihlah judul skripsi Kesalahan Berbahasa pada Majalah Mimbar Pembangunan Agama Edisi Junisampai denganAgustus 2016 dengan harapan dapat mendeskripsikan kesalahan-kesalahan penulisan dan .

Dewasa ini juga berkembang majalah yang diterbitkan secara online di internet. Bahkan beberapa majalah memiliki kedua versi cetak dan internet sekaligus. Ada juga majalah yang hanya memiliki baik dalam versi cetak saja atau versi internet saja. Pada dasarnya baik majala

Copyright National Literacy Trust (Alex Rider Secret Mission teaching ideas) Trademarks Alex Rider ; Boy with Torch Logo 2010 Stormbreaker Productions Ltd .