MEMBANGUN PERGURUAN TINGGI BERBUDAYA MUTU

3y ago
58 Views
4 Downloads
252.74 KB
5 Pages
Last View : 3d ago
Last Download : 5m ago
Upload by : Ronan Garica
Transcription

MEMBANGUN PERGURUAN TINGGI BERBUDAYA MUTUOleh Drs. I Made Madiarsa, M.M.A.17Abstrak: Sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan masyarakat di dalam pengelolaan Perguruan Tinggi harusberbudaya mutu. Perguruan tinggi berbudaya mutu harus mampu melaksanakan proses dan menghasilkan lulusansesuai dengan permintaan, sesuai dengan kebutuhan, dan sesuai dengan ketentuan atau standar mutu yang telahditetapkan. Untuk menjadikan Perguruan tinggi berbudaya mutu memerlukan proses dan waktu serta komitmenpara pihak yang terkait. Hal mendesak yang dapat dilakukan dengan melengkapi piranti organisasi yang dibutuhkansehingga pembagian tugas dalam rangka peningkatan mutu dapat dijalankan seperti pembentukan LembagaPenjaminan Mutu di tingkat Universitas, Fakultas, Jurusan, dan Program Studi yang akan menjadi pengawal mutudan penanggung jawab manajemen mutu. Proses manajemen mutu perguruan tinggi melalui fungsi-fungsinya,yaitu: menetapkan standar pendidikan tinggi, melaksanakan standar pendidikan tinggi, evaluasi pelaksanaanstandar pendidikan tinggi, pengendalian pelaksanaan standar pendidikan tinggi, dan peningkatan standarpendidikan tingggi. Pencapaian perbaikan mutu membutuhkan sikap mental yang baik dari penyelenggara SistemPenjaminan Mutu Internal (SPMI).Kata kunci: Perguruan tinggi, dan berbudaya mutu.PendahuluanSecara rasional semua orang, organisasi, atau lembaga menyukai dan mengharapkansegala sesuatunya yang dimilikinya bermutu atau berkualitas. Berbagai upaya dilakukan yangberpacu dengan waktu memanfaatkan sumber daya yang ada. Pengelolaan sumber daya mulaidari perencanaan, pelaksanaan dan akhirnya melakukan evaluasi. Hasil yang bermutu tidakakan datang begitu saja, itu semua melalui proses yang panjang mulai dari penyediaan sumberdaya harus bermutu, dan prosesnya juga harus bermutu. Pengertian suatu hasil bermutu atauberkualitas, dapat dikarenakan produk dan jasa tersebut sesuai dengan permintaan, sesuaidengan kebutuhan atau karena produk dan jasa tersebut sesuai dengan ketentuan atau standarkualitas yang telah ditetapkan. Demikian juga halnya dalam pengelolaan Perguruan Tinggi,harusnya berdasarkan pada standar mutu yang telah ditetapkan. Standar mutu yang ditetapkanmerupakan standar minimal yang harus dicapai atau dipenuhi. Hal ini berarti Perguruan Tinggisudah harus menyiapkan dan memiliki standar mutu yang ingin dicapai. Standar mutuDrs. I Made Madiarsa, M.M.A. adalah staf edukatif pada Fakultas Ekonomi (FE) UniversitasPanji Sakti (Unipas) Singaraja.17213(Prosiding Seminar : Revitalisasi Tata Kelola Perguruan Tinggi Juni 2017 (P.213-217). UnitPenerbitan (UP) Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Unipas Singaraja. ISBN978-979-17637-3-8)

merupakan cerminan kondisi harapan-harapan para stakeholder terkait, utamanya parapengguna lulusan perguruan tinggi bersangkutan. Tugas utama Perguruan Tinggi yang lebihdikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni: pendidikan, penelitian, dan pengabdianpada masyarakat. Standard mutu yang disiapkan dan harus dimiliki juga terkait dengan tigatugas utama tesebut. Bagaimakah upaya yang dapat dilakukan untuk membangun PerguruanTinggi supaya berbudaya mutu?Karakteristik Organisasi Berbudaya MutuBudaya mutu adalah sistem nilai organisasi yang menciptakan lingkungan yang kondusifuntuk keberlangsungan perbaikan mutu yang berkesinambungan. Budaya mutu terdiri dari nilainilai, tradisi, prosedur dan harapan tentang promosi mutu. Sedangkan tujuan dari budaya mutuadalah untuk membentuk suatu lingkungan organisasi yang memiliki sistem nilai, tradisi, danaturan-aturan yang mendukung untuk mencapai perbaikan mutu secara terus menerus.Menurut Nasution (2005), karakteristik organisasi yang memiliki budaya mutu adalah:1. Komunikasi yang terbuka dan kontinyu.2. Kemitraan internal yang saling mendukung.3. Pendekatan kerjasama tim dalam suatu proses dan dalam mengatasi masalah.4. Obsesi terhadap perbaikan terus menerus.5. Pelibatan dan pemberdayaan karyawan secara luas.6. Menginginkan masukan dan umpan balik/feedback.Budaya mutu menurut Goetsch dan Davis (2002, adalah sistem nilai organisasi yangmenghasilkan suatu lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan perbaikan mutu secaraterus menerus. Budaya mutu terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, tradisi, prosedur, danharapan untuk meningkatkan kualitas. Pelibatan dan pemberian wewenang karyawan secaraluas.Membentuk Lembaga Penjaminan Mutu214(Prosiding Seminar : Revitalisasi Tata Kelola Perguruan Tinggi Juni 2017 (P.213-217). UnitPenerbitan (UP) Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Unipas Singaraja. ISBN978-979-17637-3-8)

Seiring dengan penerbitan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SistemPendidikan Nasional (UU Sisdiknas), pada tahun 2003 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggimulai menerapkan Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi secara bertahap. Penjaminan MutuPendidikan Tinggi tersebut bertujuan untuk menjamin mutu. Penerbitan Undang-Undang Nomor12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (UU Dikti) mengokohkan Sistem Penjaminan MutuPerguruan Tinggi yang telah dilaksanakan sejak tahun 2008. Walaupun dengan nama baru,yaitu Sistem Penjaminan Mutu.Menurut Pasal 51 UU Dikti, Pendidikan Tinggi yang bermutu merupakan pendidikantinggi yang menghasilkan lulusan yang mampu secara aktif mengembangkan potensinya danmenghasilkan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi yang berguna bagi masyarakat, bangsa,dan negara. Untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang bermutu tersebut, pemerintahmenyelenggarakan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM Dikti). Pasal 3 ayat (1)Permendikbud No. 50 Tahun 2014 Tentang SPM Dikti; Sistem Penjaminan Mutu PendidikanTinggi terdiri atas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), dan Sistem Penjaminan MutuEksternal (SPME). Pasal 3ayat (2) s.d. ayat (4) Permendikbud No. 50 Tahun 2014 Tentang SPMDikti. SPMI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a direncanakan, dilaksanakan,dikendalikan, dan dikembangkan oleh perguruan tinggi. Sistem Penjaminan Mutu Internal(SPMI) adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan tinggi oleh setiap perguruan tinggisecara otonom untuk mengendalikan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan tinggisecara berencana dan berkelanjutan. Sehubungan dengan hal tersebut menjadi suatu kewajibanperguruan tinggi untuk membentuk lembaga atau badan yang bertanggung jawab untukmelakukan manajemen mutu.Melaksanakan Manajemen MutuManajemen merupakan seni untuk mengatur dan melaksanakan kegiatan untukmencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut melalui beberapa tugasyang dikenal dengan fungsi manajemen, mulai dari merencanakan sampai akhirnya melakukan215(Prosiding Seminar : Revitalisasi Tata Kelola Perguruan Tinggi Juni 2017 (P.213-217). UnitPenerbitan (UP) Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Unipas Singaraja. ISBN978-979-17637-3-8)

evaluasi. Demikian pula halnya dengan manajemen mutu di perguruan tinggi, mulai menetapkanstandar mutu sampai akhirnya melakukan evaluasi terhadap proses dan hasilnya. Sesuaidengan UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 52 ayat (1) disebutkanPenjaminan mutu Pendidikan Tinggi merupakan kegiatan sistemik untuk meningkatkan mutuPendidikan Tinggi secara berencana dan berkelanjutan. (2) Penjaminan mutu sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, danpeningkatan standar Pendidikan Tinggi. Siklus SPMI perguruan tinggi menurut PermendikbudNo. 50 Tahun 2014 tentang Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi pasal 5 yaitu:a. menetapkan Standar Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh Perguruan tinggimerupakan kegiatan penentuan standar/ukuran;b. pelaksanaan Standar Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh Perguruan Tinggimerupakan kegiatan pemenuhan standar/ukuran;c. evaluasi pelaksanaan Standar Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh Perguruan Tinggimerupakan kegiatan pembandingan antara luaran kegiatan pemenuhan standar/ukurandengan standar/ukuran yang telah ditetapkan;d. pengendalian pelaksanaan Standar Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh PerguruanTinggi merupakan kegiatan analisis penyebab standar/ukuran yang tidak tercapai untukdilakukan tindakan koreksi, dane. peningkatan Standar Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh Perguruan Tinggimerupakan kegiatan perbaikan standar/ukuran agar lebih tinggi dari standar/ukuranyang telah ditetapkan.Penetapan standar mutu mengacu pada Permenristek dan Dikti No. 44 Tahun 2015 tentangStandar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti), yang terdiri dari standar nasional pendidikan,standar nasional penelitian, dan standar nasional pengabdian kepada masyarakat.Sebaik apapun rencana dan standar mutu yang ditetapkan, tidak akan mengubah apaapa, kalau tidak diikuti oleh komitmen para pihak yang ada di perguruan tinggi. Sikap MentalPenyelenggaraan SPMI adalah: (1) semua pikiran dan tindakan pengelola PerguruanTinggi216(Prosiding Seminar : Revitalisasi Tata Kelola Perguruan Tinggi Juni 2017 (P.213-217). UnitPenerbitan (UP) Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Unipas Singaraja. ISBN978-979-17637-3-8)

harus memprioritaskan mutu, (2) semua pikiran dan tindakan pengelola Perguruan Tinggi harusditujukan pada kepuasan para pemangku kepentingan (internal dan eksternal), (3) setiap pihakyang menjalankan tugasnya dalam proses pendidikan pada PT harus menganggap pihak lainyang menggunakan hasil pelaksanaan tugasnya tersebut sebagai pemangku kepentingan yangharus dipuaskan, (4) setiap pengambilan keputusan/kebijakan dalam proses pendidikan padaPT harus didasarkan pada analisis data, bukan berdasarkan pada asumsi atau rekayasa, dan(5) setiap pengambilan keputusan/kebijakan dalam proses pendidikan pada PT harus dilakukansecara partisipatif dan kolegial, bukan otoritatif.PenutupUntuk dapat membangun budaya mutu, pimpinan PT, seluruh dosen dan stafpendukung akademik harus memberikan komitmen untuk melakukan peningkatan mutuberkesinambungan (continuous quality improvement). PT harus memiliki sistem manajemenmutu (quality management system) yang dapat menjamin pelaksanaan peningkatan mutuberkesinambungan. Penjaminan mutu dilakukan bukan karena terpaksa, tetapi karena doronganuntuk memperbaiki diri.Daftar PustakaGoetsch, D.L. dan D.L. Davis. 2002. Introduction to Total Quality: Quality Management forProduction, Process, and Service. Edisi Terjemahan. Alih Bahasa oleh BenyaminMolan, Manajemen Mutu Total: Manajemen Mutu untuk Produksi, Pengelolaan, danPelayanan. Jilid I. Jakarta: PT PrenhalindoNasution, M.N. 2005. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Bogor: GhaliaIndonesia.Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (UU Dikti).Permendikbud No. 50 Tahun 2014 tentang SPM Dikti.Permenristek dan Dikti No. 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNDikti).217(Prosiding Seminar : Revitalisasi Tata Kelola Perguruan Tinggi Juni 2017 (P.213-217). UnitPenerbitan (UP) Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Unipas Singaraja. ISBN978-979-17637-3-8)

Proses manajemen mutu perguruan tinggi melalui fungsi-fungsinya, yaitu: menetapkan standar pendidikan tinggi, melaksanakan standar pendidikan tinggi, evaluasi pelaksanaan . (UU Dikti) mengokohkan Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi yang telah dilaksanakan sejak tahun 2008. Walaupun dengan nama baru, yaitu Sistem Penjaminan Mutu.

Related Documents:

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi oleh Perguruan Tinggi, untuk mengawasi penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh Perguruan Tinggi secara berkelanjutan [1]. Dalam SPMI konsep yang digunakan ialah konsep PDCA (Plan, Do, Check, Action) dalam Kaizen. Kaizen berasal .

Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri, Dan Pendirian, Perubahan, Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta Peraturan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor 4 Tahun 2017 Tentang Kebijakan Penyusunan Instrumen Akreditasi SISTEM PENJAMIN MUTU PENDIDIKAN TINGGI SISTEM PENJAMIN MUTU PENDIDIKAN TINGGI SISTEM PENJAMIN MUTU

MUTU PERGURUAN TINGGI Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan tinggi oleh setiap perguruan tinggi secara otonom untuk mengendalikan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan. (Permenristekdikti No. 62 Tahun 2016, Ps. 1 (ayat 3) SPMI

mengukuhkan integrasi penjaminan Mutu Pendidikan Tingi dalam sebuah sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinngi berubah menjadi Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM Dikti) yang terdiri dari Sistem Penjaminan Mutu Internal . Memahami manajemen Perguruan Tinggi. 3.1.3. Obyek atau Area AMI adalah unit yang akan dilakukan audit, dapat

PT) ini merupakan buku ke 2 setelah Pedoman Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi diterbitkan pada tahun 2008 dalam dua versi yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Buku SPM-PT yang disusun tahun 2010 ini, dimaksudkan untuk menginspirasi Perguruan Tinggi dalam menjalankan penjaminan mutu pendidikan. Pada buku

Workshop Implementasi Sistem Manajemen Mutu Universitas Sumatera Utara untuk Gugus Janiman Mutu (GJM) dan Gugus Kendali Mutu (GKM) Siklus 11 Tahun 2018 3. Update Dokumen Kebijakan Mutu dan Siklus Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) USU mengacu pada Permenristekdikti Nomor 62 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi 4.

6. Kebijakan Nasional Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi: Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2014 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, di mana perguruan tinggi seperti UIN Jakarta harus memenuhi standar nasional pendidikan tinggi dan bahkan

American Gear Manufacturers Association AGMA is a voluntary association of companies, consultants and academicians with a direct interest in the design, manufacture, and application of gears and flexible couplings. AGMA was founded in 1916 by nine companies in response to the market demand for standardized gear products; it remains a member- and market-driven organization to this day. AGMA .