PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

3y ago
73 Views
4 Downloads
379.50 KB
64 Pages
Last View : 3d ago
Last Download : 5m ago
Upload by : Genevieve Webb
Transcription

KEMENTERIAN PENDIDIKANDAN KEBUDAYAANREPUBLIK INDONESIAKonsep dan PedomanPENGUATANPENDIDIKANKARAKTERTingkat Sekolah DasardanSekolah Menengah Pertama2017

iiKonsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan KarakterKementerian Pendidikan dan KebudayaanTIM PENYUSUN BUKUPenasihat: Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., Menteri Pendidikan dan KebudayaanPengarah: 1. Didik Suhardi, Ph.D. , Sekretaris Jenderal2. Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D., Dirjen Dikdasmen3. Sumarna Surapranata, Ph.D., Dirjen Guru dan Tendik4. Ir. Totok Suprayitno, Ph.D, Kepala Balitbang5. Ir. Harris Iskandar, Ph.D, Dirjen PAUD dan Dikmas6. Hilmar Farid, Ph.D., Direktur Jenderal Kebudayaan7. Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa8. Daryanto, Ak., MIS., Gdip.Com, QIA, CA., Inspektur Jenderal9. Prof. Suyanto, Ph.D., Universitas Negeri Yogyakarta10. Dr. James Modouw, M.MT., Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Pusat dan Daerah11. Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc., Ph.D., Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Daya Saing12. Chatarina Muliana Girsang, S.H., S.E., M.H., Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi13. R. Alpha Amirachman, M.Phil., Ph.D., Staf Khusus Menteri Bidang Monitoring Implementasi Kebijakan14. Prof. Ir. Nizam, M.Sc. DIC., Ph.D., Plt. Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan15. Dra. Poppy Dewi Puspitawati. M.A., Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar16. Dra. Garti Sri Utami, M.Ed., Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Dikdasmen17. Dr. Sukiman, M.Pd., Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga18. Dr. Biyanto, M.Ag., UIN Sunan Ampel19. Dra. Arbayah Yusuf, M.A., UIN Sunan AmpelTim PPK KetuaSekretarisKoordinator SDKoordinator SMP0: Dr. Arie Budhiman, M.Si., Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Karakter0: Prof. Dr. Ilza Mayuni, M.A., Kepala Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan0: Drs. Wowon Widaryat, M.Si., Direktur Pembinaan Sekolah Dasar0: Dr. Supriano, M.Ed., Direktur Pembinaan Sekolah Menengah PertamaTim Penyusun Ir. Hendarman, M.Sc., Ph.D., Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan KebudayaanProf. Dr. Djoko Saryono, Universitas Negeri MalangProf. Dr. Supriyono, Universitas Negeri MalangProf. Dr. Waras Kamdi, Universitas Negeri MalangProf. Dr. Sunaryo, Universitas Pendidikan IndonesiaLatipun, Ph.D., Universitas Muhammadiyah MalangDr. Tulus Winarsunu, Universitas Muhammadiyah MalangDra. Hj. Lise Chamisijatin, M.Pd., Universitas Muhammadiyah MalangDoni Koesoema A., M.Ed., Tenaga Ahli Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Dr. Bambang Indriyanto, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan KebudayaanSri Hidayati, M.Si., Kepala Bidang Kurikulum, Pusat Kurikulum dan PerbukuanKurniawan, Kepala Bidang Pemantauan dan Evaluasi, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Dr. Susanti Sufyadi, S.Pd., M.Si., Kepala Seksi Penilaian, Direktorat Pembinaan SDDra. Ninik Purwaning Setyorini, M.A., Kepala Seksi Pembelajaran, Direktorat Pembinaan SMPErry Utomo, Ph.D., Pusat Kurikulum dan PerbukuanOdo Hadinata, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan DasarElly Wismayanti, Direktorat Pembinaan SMPLanny Anggraini, S.Pd., M.A., Direktorat Pembinaan SDHeri Puspito Diyah Setiyorini, Tim Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan KarakterAlsha Kania, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Tsalitsa Haura S., Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Tim Pendukung Fransisca Nur’aini Krisna, S.Si., Apt. MPP., Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan KebudayaanSri Fajar Martono, S.Psi., Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan KebudayaanPutri Pandora, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Dwiyani Widhiharsi Kusuma Putri, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Rizki Muhammad Ramdhan, Tim Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan KarakterShaskia Shinta Rialny, Tim Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan KarakterVitri Dwi Martini D., Tim Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan KarakterRusprita Putri Utami, S.E., M.A., Kasubbag Tata Usaha, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Muhammad Sopian, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Marista Sinaga, Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA)Editor Bahasa Dr. Liliana Muliastuti, M.Pd.Desain sampul Zaitun Y.A. Kherid, M.Pd.dan tata letakSekretariat TIM PPK KemendikbudGedung A Lantai 2 Komplek Kemendikbud. Jl. Jendral Sudirman, Jakarta. Telp. (62-21) 57950176Website: http://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id ; email: pendidikankarakter@kemdikbud.go.id

Penguatan Pendidikan KarakterTingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah PertamaiiiSambutanMenteri Pendidikan dan KebudayaanRepublik IndonesiaBangsa besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuatberdampingan dengan kompetensi yang tinggi, yang tumbuh danberkembang dari pendidikan yang menyenangkan dan lingkungan yangmenerapkan nilai-nilai baik dalam seluruh sendi kehidupan berbangsadan bernegara. Hanya dengan karakter yang kuat dan kompetensi yangtinggilah jati diri bangsa menjadi kokoh, kolaborasi dan daya saing bangsameningkat sehingga mampu menjawab berbagai tantangan era abad 21.Untuk itu, pendidikan nasional harus berfokus pada penguatan karakterdi samping pembentukan kompetensi.Penguatan karakter bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yangdicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional RevolusiMental (GNRM). Komitmen ini ditindaklanjuti dengan arahan Presidenkepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengutamakan danmembudayakan pendidikan karakter di dalam dunia pendidikan. Atasdasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkanPenguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara bertahap mulai tahun 2016.Penguatan Pendidikan Karakter bukanlah suatu kebijakan barusama sekali karena sejak tahun 2010 pendidikan karakter di sekolah sudahmenjadi Gerakan Nasional. Satuan pendidikan menjadi sarana strategisbagi pembentukan karakter bangsa karena memiliki sistem, infrastruktur,dan dukungan ekosistem pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia,mulai dari perkotaan sampai pedesaan. Sudah banyak praktik baik yang

ivKonsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan KarakterKementerian Pendidikan dan Kebudayaandikembangkan sekolah, namun masih banyak pekerjaan rumahyang harus dituntaskan untuk memastikan agar proses pembudayaannilai-nilai karakter berjalan dan berkesinambungan. Selain itu, sangatdiperlukan kebijakan yang lebih komprehensif dan bertumpu padakearifan lokal untuk menjawab tantangan zaman yang makin kompleks,mulai dari persoalan yang mengancam keutuhan dan masa depan bangsasampai kepada persaingan global. Kebijakan ini akan menjadi dasar bagiperumusan langkah-langkah yang lebih konkret agar penyemaian danpembudayaan nilai-nilai utama pembentukan karakter bangsa dapatdilakukan secara efektif dan menyeluruh.Saya mengucapkan terima kasih kepada Tim yang sudah menyusundan menerbitkan buku-buku Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yangterdiri dari Konsep dan Pedoman PPK, Panduan Penilaian PPK, ModulPelatihan PPK bagi Guru, Kepala Sekolah, Pengawas dan Komite Sekolah,serta Pedoman Pelaksanaan Pelatihan Calon Pelatih PPK. Buku-buku iniakan menjadi rujukan bagi sekolah dan seluruh pemangku kepentingandalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter di sekolah.Saya berharap PPK dapat terlaksana dengan baik dan menghimbaudukungan orang tua, komite sekolah, pengawas, perguruan tinggi danmasyarakat luas untuk memberikan masukan bagi pelaksanaan danpenyempurnaan kebijakan PPK ini.Semoga PPK dapat menumbuhkan semangat belajar danmengoptimalkan potensi peserta didik sehingga menjadi warga negarayang memiliki karakter kuat, mencintai bangsanya dan mampu menjawabtantangan era global. Selamat berkarya.Muhadjir Effendy

Penguatan Pendidikan KarakterTingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah PertamavDAFTAR ISISambutan Menteri Pendidikan dan KebudayaaniiiDaftar IsivBAB I PENDAHULUAN1A. Rasional1B. Situasi Saat Ini6C. Nilai-Nilai Utama7D. Prinsip-Prinsip Pengembangan dan Implementasi PPK10E. Fokus Gerakan PPK12F. Basis Gerakan PPK15G. Tujuan PPK16H. Manfaat dan Implikasi Gerakan PPK16I.17Konsep-Konsep DasarBAB II TATA KELOLA DAN DAYA DUKUNG19A. Tata Kelola Gerakan PPK19B. Sarana dan Prasarana20C. Pembiayaan20D. Pelaksana dan Pemangku Kepentingan PPK20E. Pengembangan SDM PPK25BAB III IMPLEMENTASI PENGUATAN PENDIDIKANKARAKTER27A. PPK Berbasis Kelas27B. PPK Berbasis Budaya Sekolah35C. PPK Berbasis Masyarakat41

viKonsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan KarakterKementerian Pendidikan dan KebudayaanBAB IV PENDAMPINGAN47A. Konsep dan Tujuan Pendampingan47B. Sasaran Pendampingan48C. Pola Pendampingan48BAB V PENILAIAN DAN EVALUASI PROGRAM51A. Penilaian PPK51B. Evaluasi Program PPK53ReferensiLampiran57

Penguatan Pendidikan KarakterTingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama1BAB IPENDAHULUANA. RasionalDunia abad XXI sekarang berbeda secara signifikan dengan duniaabad XX. Dalam skala makro dunia abad XXI sekarang ditandai oleh6 (enam) kecenderungan penting, yaitu (a) berlangsungnya revolusidigital yang semakin luar biasa yang mengubah sendi-sendi kehidupan,kebudayaan, peradaban, dan kemasyarakatan termasuk pendidikan,(b) terjadinya integrasi belahan-belahan dunia yang semakin intensifakibat internasionalisasi, globalisasi, hubungan-hubungan multilateral,teknologi komunikasi, dan teknologi transportasi, (c) berlangsungnyapendataran dunia (the world is flat) sebagai akibat berbagai perubahanmendasar dimensi-dimensi kehidupan manusia terutama akibatmengglobalnya negara, korporasi, dan individu, (d) sangat cepatnyaperubahan dunia yang mengakibatkan dunia tampak berlari tungganglanggang, ruang tampak menyempit, waktu terasa ringkas, dankeusangan segala sesuatu cepat terjadi, (e) semakin tumbuhnyamasyarakat padat pengetahuan (knowledge society), masyarakatinformasi (information society), dan masyarakat jaringan (network society)yang membuat pengetahuan, informasi, dan jaringan menjadi modalsangat penting, dan (f) makin tegasnya fenomena abad kreatif besertamasyarakat kreatif yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagaimodal penting untuk individu, perusahaan, dan masyarakat. Keenamhal tersebut telah memunculkan tatanan baru, ukuran-ukuran baru, dankebutuhan-kebutuhan baru yang berbeda dengan sebelumnya, yangharus ditanggapi dan dipenuhi oleh dunia pendidikan nasional dengansebaik-baiknya.Dalam skala mikro pendidikan, dunia abad XXI sekarang jugaditandai oleh adanya imperatif-imperatif global pendidikan, di antaranya

2Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan KarakterKementerian Pendidikan dan KebudayaanPendidikan untuk Semua (PUS), Pendidikan bagi PembangunanBerkelanjutan (ESD), Tujuan Pembangunan Milenium (MDG’s), dan LiterasiDunia bagi Pemberdayaan. Selain itu, juga ditandai oleh munculnyatemuan-temuan dan pemikiran-pemikiran baru yang berkenaan dengandimensi tertentu pendidikan, di antaranya temuan neurosains pendidikandan pembelajaran (misalnya hubungan otak dan belajar), munculnyapelbagai teori kecerdasan, tumbuhnya pemikiran baru pembelajaran(misalnya blended learning, mindful learning), dan kebijakan baru bidangpendidikan dan pembelajaran. Lebih jauh lagi, juga muncul pergeseranperanan dan fungsi pendidikan dalam masyarakat, tugas pranata danlembaga pendidikan, dan bentuk organisasional pendidikan sertakeberadaan modal manusia dalam pendidikan. Hal tersebut menimbulkankonsekuensi tantangan, tuntutan, dan kebutuhan baru dalam sendi-sendipendidikan termasuk sendi-sendi pendidikan nasional Indonesia.Sementara itu, dalam skala regional dan nasional Indonesia, abadXXI ditandai oleh berbagai perubahan mendasar yang paradigmatis.Selain Reformasi pada penghujung abad XX, Indonesia memasuki abadXXI dengan sistem kenegaraan, pemerintahan, bahkan kemasyarakatandan kebudayaan yang baru, misalnya orientasi baru pembangunan,desentralisasi, otonomi daerah, dan demokrasi serta bonus demografi.Di samping itu, memasuki abad XXI Indonesia mengalami keterbukaandan interaksi global yang semakin intensif dan masif. Bagi Indonesia,bahkan tahun 2015 menjadi garis batas agenda berbagai kesepakatandan kebijakan global dan nasional Indonesia di berbagai bidang baikbidang pendidikan maupun non-pendidikan. Berkenaan dengan bidangpendidikan, sebagai contoh, tahun 2015 merupakan tahun terakhiragenda kebijakan Pendidikan untuk Semua (Education For All), TujuanPembangunan Milenium (Milenium Development Goals), dan agendapendidikan nasional. Terkait dengan bidang non-pendidikan, tahun 2015merupakan tahun dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN, berlakunyaberbagai peraturan perundang-undangan baru, dan dimulainya kebijakanbaru pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu, tahun 2015 menjaditonggak penting urusan pemerintahan dan kemasyarakatan Indonesia,salah satunya urusan pendidikan nasional Indonesia.Sehubungan dengan itu, sendi-sendi pendidikan nasionalIndonesia perlu ditata kembali atau ditransformasikan sedemikian rupasehingga pendidikan nasional Indonesia semakin sanggup memberi

Penguatan Pendidikan KarakterTingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama3kontribusi berarti bagi kiprah dan kemajuan Indonesia dalam abadXXI yang sudah mengalami perubahan mendasar yang paradigmatissebagaimana telah disinggung di atas. Di samping itu, penataankembali atau transformasi pendidikan nasional Indonesia itu dihajatkanuntuk memberikan tanggapan dan jawaban atas berbagai tantangan,tuntutan, dan kebutuhan baru sebagai konsekuensi berbagai keadaankekinian. Hal ini menunjukkan bahwa penataan kembali atau transformasipendidikan nasional Indonesia merupakan tugas sejarah (imperatif)yang harus dikerjakan secara sungguh-sungguh. Dikatakan demikiankarena tiga alasan. Pertama, bangsa-bangsa di dunia yang sekarangmengalami kemajuan sangat berarti, misalnya Jepang, Singapura,Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, dan Finlandia, telah ditopangatau disangga oleh pendidikan yang baik, bermutu, dan maju. Dalamberbagai pemeringkatan pendidikan di aras global, misalnya LearningCurve, TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study),dan PISA (Programme for International Student Assessment), negaranegara tersebut selalu menduduki peringkat atas. Kedua, pelbagai studiinternasional dan nasional tentang pendidikan Indonesia memberikanjustifikasi betapa mendesaknya transformasi pendidikan nasionalIndonesia sekarang. Laporan-laporan Bank Dunia, UNDP, dan UNESCOtentang pendidikan Indonesia merekomendasikan transformasi secaraterarah pada pendidikan nasional Indonesia supaya Indonesia mamputumbuh dan berkembang dengan baik, terhindar dari jebakan-jebakanyang membawa aneka kemerosotan pada satu sisi dan pada sisi lainmampu memanfaatkan peluang-peluang yang terbuka. Ketiga, berbagaifakta dan bukti kinerja pendidikan nasional yang telah dipublikasikan olehberbagai pihak mengamanatkan betapa mendesaknya penataan kembaliatau transformasi pendidikan nasional Indonesia secara komprehensifdan sistemis.Penataan kembali atau transformasi pendidikan nasional Indonesiatersebut dapat dimulai dengan menempatkan kembali karakter sebagairuh atau dimensi terdalam pendidikan nasional berdampingan denganintelektualitas yang tercermin dalam kompetensi. Dengan karakter yangkuat-tangguh beserta kompetensi yang tinggi, yang dihasilkan olehpendidikan yang baik, pelbagai kebutuhan, tantangan, dan tuntutanbaru dapat dipenuhi atau diatasi. Oleh karena itu, selain pengembanganintelektualitas, pengembangan karakter peserta didik sangatlah penting

4Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan KarakterKementerian Pendidikan dan Kebudayaanatau utama dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Dikatakandemikian karena pada dasarnya pendidikan bertujuan mengembangkanpotensi-potensi intelektual dan karakter peserta didik.Hal ini telahdilandaskan oleh berbagai pemikiran tentang pendidikan dan berbagaiperaturan perundang-undangan tentang pendidikan. Sebagai contoh,beberapa puluh tahun lalu Ki Hadjar Dewantara, Bapak PendidikanIndonesia, telah menandaskan secara eksplisit bahwa “Pendidikan adalahdaya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin,karakter), pikiran (intelec) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak bolehdipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anakkita” (Karya Ki Hadjar Dewantara Buku I: Pendidikan). Demikian jugalaporan Delors untuk pendidikan abad XXI, sebagaimana tercantumdalam buku Pembelajaran: Harta Karun di Dalamnya, menegaskan bahwapendidikan abad XXI bersandar pada lima tiang pembelajaran sejagat(five pillar of learning), yaitu learning to know, learning to do, learningto live together, dan learning to beserta learning to transform for oneselfand society. Selain itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional telah menegaskan bahwa “Pendidikannasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watakserta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskankehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi pesertadidik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada TuhanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.Selanjutnya, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) juga terpapar secara tersuratberbagai kompetensi yang bersangkutan dengan karakter di sampingintelektualitas. Ini semua menandakan bahwa sesungguhnya pendidikanbertugas mengembangkan karakter sekaligus intelektualitas berupakompetensi peserta didik.Sehubungan dengan itu, penyelenggaraan pendidikan nasionalterutama pendidikan dasar dan menengah dapat dikatakan sudahberada pada jalur yang tepat, karena telah memberikan pendidikankarakter sekaligus membentuk intelektualitas berupa kompetensi.Meskipun demikian, proporsi penerapan pendidikan karakter denganpendidikan intelektual belum berimbang akibat berbagai faktor.Usaha penyeimbangan pendidikan karakter dengan pembentukan

Penguatan Pendidikan KarakterTingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama5kompetensi senantiasa harus dilakukan. Demi kepentingan masa depanbangsa Indonesia, bahkan sejak sekarang perlu dilakukan pemusatan(centering) pendidikan karakter dalam penyelenggaraan pendidikannasional Indonesia. Kesadaran sekaligus usaha pemusatan pendidikankarakter di jantung pendidikan nasional semakin kuat ketika pada tahun2010 pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakankebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan RencanaAksi Nasional (RAN) Pendidikan Karakter Bangsa. Hal tersebut perludilanjutkan, dioptimalkan, diperdalam, dan bahkan diperluas sehinggadiperlukan penguatan pendidikan karakter bangsa. Untuk itu, sejaksekarang perlu dilaksanakan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter(PPK) dengan mengindahkan asas keberlanjutan dan kesinambungan.Gerakan PPK menempati kedudukan fundamental dan strategispada saat pemerintah mencanangkan revolusi karakter bangsasebagaimana tertuang dalam Nawacita (Nawacita 8), menggelorakanGerakan Nasional Revolusi Mental, dan menerbitkan RPJMN 2014—2019 berlandaskan Nawacita. Sebab itu, Gerakan PPK dapat dimaknaisebagai pengejawantahan Gerakan Revolusi Mental sekaligus bagianintegral Nawacita. Sebagai pengejawantahan Gerakan NasionalRevolusi Mental sekaligus bagian integral Nawacita, Gerakan PPKmenempatkan pendidikan karakter sebagai dimensi terdalam atauinti pendidikan nasional sehingga pendidikan karakter menjadi porospelaksanaan pendidikan dasar dan menengah. Lebih lanjut, GerakanPPK perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligusmenyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakteryang sudah dilaksanakan sampai sekarang. Dalam hubungan inipengintegrasian dapat berupa pemaduan kegiatan kelas, luar kelas disekolah, dan luar sekolah (masyarakat/komunitas); pemaduan kegiatanintrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler; pelibatan secara serempakwarga sekolah, keluarga, dan masyarakat; perdalaman dan perluasandapat berupa penambahan dan pengintensifan kegiatan-kegiatan yangberorientasi pada pengembangan karakter siswa, penambahan danpemajanan kegiatan belajar siswa, dan pengaturan ulang waktu belajarsiswa di sekolah at

Penguatan Pendidikan Karakter bukanlah suatu kebijakan baru sama sekali karena sejak tahun 2010 pendidikan karakter di sekolah sudah menjadi Gerakan Nasional. Satuan pendidikan menjadi sarana strategis bagi pembentukan karakter bangsa karena memiliki sistem, infrastruktur, dan dukungan ekosistem pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia,

Related Documents:

IMPLEMENTASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER . MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA . PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR . FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN . UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG . 2017 . i IMPLEMENTASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER . Implementasi Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SD Negeri Purwantoro 2 Malang .

pembelajaran karakter di sekolah-sekolah dan bentuk model teoretis integrasi pendidikan karakter lintas agama. Key words: lintas agama, pendidkan karakter, penelitian dan pengembangan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah .

Istilah "Pendidikan Karakter" pada inpres nomor 1 Tahun 2010 menjadi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada Perpres 87 Tahun 2017 dapat dilihat dari aspek " pengintegrasian, pendalaman, perluasan dan penyelarasan antara olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi) dan olah raga (kinesteti).

pendidikan karakter yang efektif bagi pembangunan budi pekerti subjek didik. Semoga kehadiran buku ini makin memperkaya khazanah wacana pendidikan karakter sekaligus dapat menjadi rujukan yang baik dalam pengembangan pendidikan karakter di perguruan tinggi di negeri ini. Dengan

Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama BAB II: PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER SECARA TERINTEGRASI DI DALAM PROSES PEMBELAJARAN 39 A. Pembelajaran Kontekstual 39 B. Integrasi Pendidikan Karakter di Dalam Pembelajaran 45 1. Perencanaan Pembelajaran 45 2. Pelaksanaan Pembelajaran 51 3. Evaluasi Pencapaian Pembelajaran 59 4.

F. Nilai-Nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 7 BAB II : PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA MELALUI INTEGRASI MATA PELAJARAN, PENGEMBANGAN DIRI, DAN BUDAYA SEKOLAH A. Prinsip dan Pendekatan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 11 B. Perencanaan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 14

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Pembimbing : 1 Ardhana Januar, S.AP. M.KP Pembimbi : 2 Drs.Mahmud Isro’i, M.Pd Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Disiplin Siswa Pendidikan karakter diartikan sebagai : Karakter berasal dari akar kata bahasa Latin yang berarti dipahat (Hidayatullah, 2010: 12).

The computational anatomy of psychosis hypothesis that the mean is zero. The sample mean provides evi-dence against the null hypothesis in the form of a prediction error: namely, the sample mean minus the expectation under the null hypothesis. The sample mean provides evidence against the null but how much evidence? This can only be quantified in relation to the precision of the prediction .