MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN IPA

3y ago
121 Views
12 Downloads
212.07 KB
17 Pages
Last View : 13d ago
Last Download : 6m ago
Upload by : Ophelia Arruda
Transcription

MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN IPA1Oleh: Wahono WidodoA. Rasional (Apa dan Mengapa Supervisi Pendidikan IPA)Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari dirisendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannyadi dalam kehidupan sehari‐hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberianpengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahamialam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehinggadapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalamtentang alam sekitar (Permendiknas No. 22 tahun 2006).Untuk dapat memfasilitasi pembelajaran IPA tersebut, diperlukan guru IPA yangmemiliki kompetensi memadai, yang mampu mendidik, mengajar, membimbing,mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa yang belajar IPA. Akan tetapi, perludisadari bahwa seorang guru tidak serta merta menjadi guru yang kompeten (profesional),namun secara bertahap mengalami pertumbuhan kompetensinya. Salah satu bantuan yangdiberikan kepada guru IPA untuk meningkatkan kompetensinya adalah dalam bentuksupervisi pendidikan IPA.Supervisi pendidikan IPA merupakan salah satu jenis pengawasan yang dilakukanterhadap guru IPA dalam kerangka kepatuhan profesional (proffesional compliance).Supervisi pendidikan IPA dilakukan oleh supervisor (orang‐orang yang memiliki “pandangansuper” dalam area yang disupervisi) terhadap guru IPA, dengan obyek yang diamatitertentu, dan menggunakan cara/prosedur tertentu. Supervisor pendidikan IPA adalahorang‐orang yang terlatih untuk melakukan supervisi dalam pendidikan IPA, dalam artimemiliki visi, pemahaman, dan telah terbukti dapat menerapkan dengan baik aspek‐aspekpembelajaran IPA serta memiliki visi, kemampuan dan keterampilan untuk melakukansupervisi.1Diterbitkan dalam Jurnal Wacana Vol. 05 No. 04 November 20081

Obyek yang diamati dalam supervisi pendidikan IPA meliputi kemampuan‐kemampuanprofesional guru dalam hal:(1) merencanakan pembelajaran IPA; (2) melaksanakanpembelajaran IPA; (3) menilai proses dan hasil pembelajaran IPA; (4) memanfaatkan hasilpenilaian bagi peningkatan layanan pembelajaran IPA; (5) memberikan umpan balik secaratepat dan terus menerus kepada siswa; (6) melayani siswa yang mengalami kesulitanbelajar; (7) menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan; (8) mengembangkan danmemanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran; (9) memanfaatkan sumber‐sumberbelajar yang tersedia; (10) mengembangkan interaksi pembelajaran; (11) melakukanpenelitian praktis bagi pembelajaran (Satori, 2007). Dalam konteks pendidikan IPA, perludicermati apakah pembelajaran IPA telah berbasis inkuiri, serta melakukan pengkaitan IPA‐teknologi‐masyarakat sesuai Standar Isi.Supervisi pendidikan IPA merupakan kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki danmeningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan IPA. Dalam konteks pendidikanpersekolahan, mutu pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru(Satori, 2007). Supervisi pendidikan IPA berkepentingan dengan upaya peningkatankemampuan profesional guru IPA, dan pada gilirannya akan berdampak terhadappeningkatan proses dan hasil pembelajaran IPA.Jika pembelajaran IPA dijadikan fokus, supervisi dilakukan untuk “mengawasi” (dalamkerangka profesional) agar pembelajaran berada dalam koridor konsep dan teoripembelajaran IPA. Sebagai contoh, konsep apa yang diajarkan, bagaimana carapembelajarannya, bagaimana penilaiannya, apakah sudah sesuai dengan kaidahpembelajaran IPA. Supervisi bukan kebutuhan supervisor untuk melakukan supervisi,namun (dalam kerangka pembelajaran IPA) supervisi merupakan kebutuhan guru IPA untukmeningkatkan kinerja profesionalnya. Dampak langsung dari peningkatan keprofesionalanguru IPA adalah peningkatan kualitas pembelajaran, dan pada akhirnya meningkatkan mutupengelolaan pendidikan dalam satuan pendidikan tersebut.Supervisi pendidikan IPA perlu dilakukan, karena mutu pendidikan IPA bergantung padamutu persekolahan yang di dalamnya ada pembelajaran IPA. Mutu pembelajaran IPA sangatbergantung pada keprofesionalan guru IPA. Keprofesionalan guru IPA tidak mungkin muncul2

dengan tiba‐tiba, melainkan melalui proses yang disebut pertumbuhan profesional (dariguru muda, guru madya, menjadi guru yang “matang”). Guru IPA perlu mendapat bantuanuntuk menumbuhkan keprofesionalannya. Bantuan ini dapat bermacam‐macam, (sepertipelatihan dan studi lanjut), salah satu bantuan profesional ini adalah Supervisi pendidikanIPA. Jadi, supervisi pendidikan IPA perlu dilakukan sebagai upaya untuk terus‐menerusmenumbuhkan keprofesionalan guru IPA.Supervisi dalam pendidikan (instructional supervision) diperlukan guru sebagai umpanbalik terhadap pengajarannya sehingga memperkuat keterampilan mengajarnya untukmeningkatkan kinerjanya. Supervisi pendidikan memfokuskan pada peningkatan pengajaranguru, dan pada gilirannya meningkatkan kemampuan akademik siswa. Di sini supervisipendidikan sebagai alat untuk meningkatkan pengajaran guru. Supervisi dapat dilihatsebagai analogi pengajaran, dalam supervisi supervisor berupaya meningkatkan perilaku,kemampuan, dan sikap‐sikap guru.B. TujuanTujuan pengembangan model supervisi pendidikan IPA ini adalah menghasilkan sebuahmodel supervisi pendidikan IPA yang dapat mengembangkan kompetensi guru IPA, denganbantuan supervisor, sehingga guru IPA dapat mengetahui kekurangannya dan dapatmelakukan perbaikan praktik pengajarannya dan pada gilirannya meningkatkan mutupembelajaran IPA.C. Asumsi-asumsiAsumsi‐asumsi yang mendasari model supervisi pendidikan IPA ini adalah sebagai berikut:1. Hubungan antara supervisor dan guru IPA adalah hubungan profesional yang salingmenguntungkan dalam rangka pertumbuhan profesional kedua belah pihak (adaptasidari Satori, 1996/1997). Asumsi ini muncul, karena selama ini seringkali timbul anggapanyang tidak tepat terhadap kegiatan supervisi, yang dipandang oleh guru sebagai“mencari‐cari kesalahan guru”. Asumsi ini digunakan sebagai dasar bahwa dalamsupervisi pendidikan IPA, tugas utama supervisor adalah membantu guru untukmelakukan refleksi diri terhadap kelebihan dan kekurangannya, sehingga pada akhirnyamampu menumbuhkan profesionalitas dirinya.3

2. Keputusan apapun dalam supervisi pendidikan IPA harus didasarkan atas pengukuranyang telah dilakukan terhadap kinerja guru. Asumsi ini untuk menjamin bahwahubungan antara supervisor dan guru adalah hubungan profesional dan berbasis data.Kelebihan guru ditunjukkan oleh data, dan sebaliknya kekurangan guru didapat pula daridata pengukuran (dalam hal ini pengamatan terhadap kinerja guru), sehingga perbaikanyang dilakukan berdasarkan data yang ada.3. Terdapat keterampilan‐keterampilan generik esensial tertentu dan seseorang yangmenyatakan dirinya guru IPA profesional seharusnya mampu untuk mendemonstrasikandan menempatkan keterampilan‐keterampilan itu dalam situasi yang sesuai. Asumsi iniberimplikasi adanya keterampilan‐keterampilan generik esensial guru IPA yang dapatdiamati supervisor, misalnya: “keterampilan memotivasi”, “keterampilan bertanya dasardan lanjutan”, “keterampilan mengelola kelas”, dan lain‐lain.4. Pengajaran IPA yang baik memerlukan persiapan. Asumsi ini digunakan sebagaidasar perlu adanya Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) sebagai acuanpengajaran yang dilakukan guru, dan sebagai salah satu sumber data bagisupervisor untuk membantu guru merefleksikan efektivitas pengajarannya.5. Perilaku pengajaran IPA yang baik dapat diidentifikasi, stabil, dan efeknya terhadapsiswa konsisten untuk berbagai konteks. Asumsi ini berimplikasi bahwa efektivitaspengajaran adalah stabil, dapat diulang oleh guru setiap waktu dan dalam konteksinstruksional yang berbeda, sehingga pengukuran efektivitas pengajaran oleh guru IPAdapat dilakukan melalui pengamatan terhadap kinerja guru di suatu kelas tertentu saja,dan kenerja guru dapat pula dilihat berdasarkan pertumbuhan kemampuan siswa(artinya pertumbuhan kemampuan siswa mencerminkan efektivitas pembelajaran yangdilakukan guru).6. Kegiatan supervisi pendidikan IPA merupakan bagian dari kegiatan manajemenmutu di dalam satuan pendidikan. Asumsi ini sebagai dasar bahwa supervisipendidikan merupakan keniscayaan dan kebutuhan guru IPA dalam satuanpendidikan tersebut, sebagai upaya meningkatkan kinerja guru yang pada4

gilirannya meningkatkan kinerja satuan pendidikan tersebut dalam memberikanlayanan kepada kastemernya.7. Supervisi yang efektif dapat melahirkan wadah kerjasama yang dapatmempertemukan kebutuhan profesional guru‐guru (Satori, 1996/1997).8. Supervisi yang efektif mampu membangun kondisi yang memungkinkan guru‐guru dapat menunaikan pekerjaannya secara profesional (Satori, 1996/1997).D. Komponen-komponen Model Supervisi Pendidikan IPA1. Permasalahan dalam SupervisiUntuk merumuskan model supervisi pendidikan IPA, perlu ditelusuri permasalahan‐permasalahan yang muncul dalam supervisi berdasarkan kajian dan hasil penelitiansebelumnya, dengan harapan agar model yang dihasilkan sudah memperhatikanpermasalahan‐permasalahan tersebut. Kata supervision diturunkan dari dua kata “superior”dan “vision”. Asal kata ini memberi kesan bahwa satu pihak dalam supervisi lebih berkuasadaripada pihak lain. Hasil analisis Reitzug (dalam Gentry, 2002) menunjukan bahwasupervisor digambarkan sebagai seorang yang “expert dan superior”, sedangkan gurudigambarkan sebagai penuh kekurangan dan memerlukan bantuan ahli.Zepeda dan Ponticell (Gentry, 2002) menemukan 5 kategori supervisi menurut guru,yakni: 1) supervisi sebagai hubungan antara “anjing dan kuda poni” (anjing dan kucing); 2)supervisi sebagai senjata; 3) supervisi sebagai kegiatan rutin yang tidak bermakna; 4)supervisi sebagai sarana memenuhi daftar isian; dan 5) supervisi sebagai intervensi yangtidak diharapkan guru. Blumberg (Gentry, 2002) mendeskripsikan hubungan negatif antarasupervisor dengan guru, yakni adanya rasa sebal guru terhadap supervisor, dan hal inimenjadi penghalang utama untuk medapatkan keuntungan dari praktik supervisi. Gurumerasa bahwa supervisor tidak memberikan bantuan yang bernilai, dan supervisi sekedarsebagai alat kontrol dan perpanjangan tangan kekuasaan. Sergiovanni dan Starratt (Gentry,2002) menyatakan bahwa “Pada keadaan terbaik, supervisi memandu dalam memberikankeputusan evaluatif berdasarkan bukti/kenyataan. Pada keadaan terburuk, supervisimenghancurkan otonomi, kepercayaan diri, dan integritas personal guru”.5

Guru seharusnya memandang supervisi sebagai evaluasi setara (antara supervisordengan guru), untuk menemukan faktor‐faktor, sehingga supervisi yang dilakukan dalamkunjungan kelas untuk mendapatkan data yang obyektif, bebas prasangka, dan berfokusuntuk peningkatan pengajaran guru. Hal ini membutuhkan rasa saling percaya, terutamarasa percaya guru terhadap supervisor, bahwa supervisi tidak digunakan sebagai alatpenekan yang mengusik dan menghancurkan wilayah teritorial guru. Jadi, kata kunci yangdigunakan dalam membangun model supervisi pendidikan IPA adalah kesetaraan dan rasasaling percaya, seperti yang disampaikan Schmuck dan Runkel (1994, dalam Gentry, 2002)bahwa “kualitas dibangun setapak demi setapak, ditancapkan oleh dedikasi dibandingkankata‐kata dan dikekalkan oleh keterbukaan dalam hubungan interpersonal”.2. Pertumbuhan Profesional Guru IPASeperti telah dikemukakan di atas, guru IPA tidak serta merta hadir sebagai sosok guru yangprofesional dan memiliki kompetensi yang lengkap, namun merupakan prosespertumbuhan setapak demi setapak. Pertumbuhan kompetensi guru IPA dapat bersumberutama dari kemauan dan kerja keras guru IPA, dengan bantuan dari berbagai pihak,ditunjukkan dalam bagan berikut.Pendidikan sebelumnyadan pendidikan dalamJabatanKegiatan berpikir reflektifdan kolaboratif melaluiPenelitian Tindakan KelasKompetensi guruIIPABantuan rekansejawat (supervisipengawas atauLPMP/PPPG)Bantuan rekansejawat (forumMGMP atau PKG)Bantuan atasan(supervisi KepalaSekolah)Pelatihan‐pelatihan,seminar,6

Gambar 1: Berbagai sumber pertumbuhan kompetensi guru IPA3. Supervisi Pendidikan IPA dalam Sistem Penjaminan Mutu Satuan PendidikanSistem penjaminan mutu pendidikan IPA adalah sebuah sistem yang dikembangkan olehsatuan pendidikan untuk memastikan bahwa tidak ada penyimpangan berdasarkanstandar mutu yang telah ditetapkan dalam proses pendidikan IPA, mulai dariperencanaan, masukan siswa, pembelajaran, asesmen, sampai dengan pengambilankeputusan terhadap siswa. Sistem ini menjamin bahwa luaran pendidikan IPA (atau bisadiperluas sampai alumni satuan pendidikan tersebut) telah ditangani dengan benar (theright first time and every time), sehingga kompetensinya sesuai dengan standar yangtelah ditetapkan. Sistem penjaminan mutu pendidikan IPA juga bermuara pada upayapeningkatan terus‐menerus (quality improvement), untuk memberi layanan yangmemuaskan kastemer (Mukhopadhyay, 2005; Sallis, 1993; Widodo, 2007).Secara umum sistem penjaminan mutu terdiri dari komponen planning,implementation, assessment, dan improving. Sebagai sistem yang ditujukan untukmemuaskan kastemer, dalam langkah planning, seharusnya sistem penjaminan mutudalam satuan pendidikan memasukkan kegiatan supervisi pendidikan IPA sebagai salahsatu indikator mutu yang harus dipenuhi dalam sistem tersebut. Sebagai contoh,indikator mutu: 1) Supervisi pembelajaran IPA oleh pengawas dan/atau LPMP palingsedikit dilakukan satu kali setiap tahun, dan 2) Pengamatan pembelajaran IPA olehsesama guru dilakukan paling sedikit satu kali untuk setiap dua bulan. Dengan adanyaindikator mutu seperti itu dan harus dilakukan, maka pihak satuan pendidikan menjaminadanya supervisi, dan supervisi dipandang sebagai kebutuhan untuk meningkatkanmutu, bukan kebutuhan supervisor.4. Model, Komponen Model, dan Hubungan antar Komponen SupervisiPendidikan IPA7

Berdasarkan uraian di atas, selanjutnya dirumuskan model supervisi pendidikan IPA,ditunjukkan dalam Gambar 2. Model ini berawal dari analisis kebutuhan untukmeningkatkan kinerja guru (yang juga dicerminkan oleh kinerja siswa) oleh sekolah8

LPTK, PPPG, LPMP, Dinas PendidikanKegiatan: Kunjungan kelas Pertemuan pribadi Rapat guru Kunjungan antar kelas Kunjungan sekolah Penerbitan buletinprofesional PenataranAnalisisKebutuhanKelompok KerjaPengawasSekolahMusyawarahKepala SekolahSupervisor: Kepala sekolah Pengawas Guru intiProgramSupervisiPendidikanSasaran: Merencanakan PBM IPA Melaksanakan PBM IPA Menilai proses dan hasil pembelajaran Memanfaatkan hasil penilaian bagi peningkatanlayanan pembelajaran Memberikan umpan balik kepada siswa Melayani peserta didik yang mengalamikesulitan belajar Menciptakan lingkungan belajar yangmenyenangkan Mengembangkan dan memanfaatkan alat bantudan media pembelajaran Memanfaatkan sumber‐sumber belajar yangtersedia Mengembangkan interaksi pembelajaran(strategi, metode, teknik) yang tepat Melakukan penelitian tindakan kelasPeningkatanKompetensiGuru IPAPeningkatanKualitasPembelajaran IPAGuru IPAKKG atau MGMPatau PKGKerja kolaboratif(misalnya PTK)Peningkatan Prosesdan HasilPembelajaran IPAUmpan balikGambar 2: Model supervisi pendidikan IPA9

melalui program penjaminan mutu, oleh musyawarah guru, atau oleh para supervisoritu sendiri.Berdasarkan analisis kebutuhan, selanjutnya disusun program supervisipendidikan. Sasaran supervisi pemberdayaan akuntabilitas professional guru IPA,penciptaan sekolah sebagai oranisasi belajar, dan manajemen sumberdaya pendidikan.Seluruh sasaran tersebut pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kualitaspembelajaran IPA.Bentuk kegiatan (teknik‐teknik) supervisi akademik ini dapat berupa kunjungankelas, pertemuan pribadi antara pengawas dengan guru, rapat guru, kunjungan antarkelas, kunjungan sekolah, penerbitan buletin profesional, atau penataran (Satori,1996/1997). Sedangkan yang menjadi fokus supervisi pendidikan IPA ini adalahkemampuan guru IPA dalam merencanakan PBM IPA, melaksanakan PBM IPA, menilaiproses dan hasil pembelajaran, memanfaatkan hasil penilaian bagi peningkatan layananpembelajaran, memberikan umpan balik kepada siswa, melayani peserta didik yangmengalami kesulitan belajar, menciptakan lingkungan belajar yang danmediapembelajaran,memanfaatkan sumber‐sumber belajar yang tersedia, mengembangkan interaksipembelajaran (strategi, metode, teknik) yang tepat, dan melakukan penelitian tindakankelas (Satori, 1996/1997).Supervisi dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas, guru inti, dan/atau pejabatdinas pendidikan. Sesuai dengan Permendiknas nomor 12 tahun 2007, pengawas harusmemiliki kualifikasi dan kompetensi tertentu. Kompetensi pengawas meliputikompetensi kepribadian, kompetensi supervisi manajerial, kompetensi supervisiakademik, kompetensi evaluasi pendidikan, kompetensi penelitian dan pengembangan,dan kompetensi sosial. Sedangkan menurut Permendiknas nomor 13 tahun 2007, kepalasekolah harus memiliki kualifikasi dan kompetensi tertentu. Kompetensi kepala sekolahmeliputi kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan,kompetensi supervisi, dan kompetensi sosial. Para pejabat struktural dinas pendidikanterutama berperan dalam menciptakan iklim yang memungkinkan terjadinya proses10

“pembaruan diri” pada tingkat kelembagaan sekolah. Pejabat struktural hendaknyamendukung program‐program sekolah yang dapat meningkatkan mutu denganmemanfaatkan sumberdaya pendididikan yang diakomodasi sendiri (Satori, 1996/1997).Jalur lain yang sifatnya nonstruktural dapat dikembangkan, misalnya forum rapatguru yang dapat dijadikan balikan kepada guru oleh guru lain untuk meningkatkankinerjanya serta mengkomunikasikan danmengartikulasikan program‐programpeningkatan mutu sekolah. Forum MGMP atau PKG dapat dimanfaatkan usebagaimekanisme yang handal dalam supervisi akademik. Pada forum ini pengawasseharusnya berperan aktif bekerjasama dengan guru untuk menyusun programpembelajarannya (misalnya membuat bersama silabus pembelajaran IPA), termasukmemberikan masukan dan saran untuk perbaikan pengajaran yang dilakukan guru.Kedekatan profesional antara guru IPA dengan pengawas dapat dibentuk melalui forumsemacam ini, sehingga ketika pengawas melakukan kunjungan kelas, pengawas tidaklagi dicurigai guru sebagai “mengintervensi teritorial guru”, namun memang ningkatkankapasitaskeprofesionalannya.Bentuk lain kegiatan informal supervisi pendidikan IPA adalah kerja kolaboratifantar guru IPA serta antara guru IPA dengan pengawas dalam bentuk PenelitianTindakan Kelas (PTK). Pada kegiatan ini guru IPA mengungkapkan permasalahan yangditemui di kelas. Selanjutnya dilakukan diskusi terfokus antar guru IPA dan denganpengawas untuk menemukan hipotesis tindakan dan merencanakan tindakan untukmengatasi permasalahan tersebut. Pada saat implementasi hipotesis tindakan,dilakukan pengamatan (oleh rekan guru IPA dan/atau pengawas). Berdasarkan datapengamatan dan kinerja siswa, dilakukan refleksi bersama apakah tindakan yang telahdilakukan dapat mengatasi permasalahan serta kelemahan tindakan yang dilakukanuntuk dilakukan alternatif perbaikan tindakan. Dengan PTK, kegiatan supervisipendidikan IPA dapat dijalankan, bermuara pada peningkatan profesionalisme guru IPAdan peningkatan kualitas pembelajaran IPA.11

PPPG, LPMP, dan LPTK dapat berperan dalam kegiatan supervisi pendidikan IPA,misalnya dengan melakukan pembinaan pada forum MGMP, KKG, KKS, dan KKPS. Selainitu bisa juga PPPG, LPMP, dan LPTK membuat program supervisi pendidikan IPA,misalnya supervisi dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (sesuai tugaspokok dan fungsinya menurut Permendiknas nomor 24 tahun 2006). PPPG, LPMP, danLPTK dapat menghasilkan inovasi‐inovasi dalam pembelajaran IPA, dan selanjutnyaditularkan kepada guru IPA melalui jalur‐jalur MGMP/PKG atau pelatihan‐pelatihansecara berkelanjutan bagi guru‐guru IPA.E. Strategi ImplementasiProgram supervisi yang baik disusun secara realistis yang dikembangkan berdasarkankebutuhan sekolah. Langkah‐langkah implementasi mo

dan menempatkan keterampilan‐keterampilan itu dalam situasi yang sesuai. Asumsi ini berimplikasi adanya keterampilan‐keterampilan generik esensial guru IPA yang dapat diamati supervisor, misalnya: “keterampilan memotivasi”, “keterampilan bertanya dasar dan lanjutan”, “keteramp

Related Documents:

Qowaid/Nahwu II Psikologi Umum SELASA Media Pemb.Bahasa Arab Maharah Istima' IV Muthala"ah IV ROSTER KULIIAH DAN DOSEN SEMESTER GENAP FAKULTAS IILMU TARBIIYAH DAN KEGURUAN . Manajemen Perkantoran Supervisi Pendidikan Statistik Pendidikan Aplikasi Kom. Manaj II (VB) Supervisi Pendidikan

Daftar Isi ix Bab VEvaluasi Kebijakan Pendidikan 101 A. Konsepsi Evaluasi Kebijakan Pendidikan — 101 B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Kebijakan Pendidikan — 104 C. P ermasalahan dalam Evaluasi Kebijakan Pendidikan — 106 D. Manfaat Evaluasi Kebijakan Pendidikan — 108 E. Monitoring Evaluasi Kebijakan Pendidikan — 109 F. Kriteria Evaluasi Program Kebijakan Pendidikan — 111

muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kelender pendidikan dan sumber belajar. KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawh koordinasi dan supervisi dinas atau kantor Depertemen Agama KabupatenIKota untuk pendidikan dasar dan propinsi untuk pendidikan memengah.

PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN IPA SECARA TERPADU Dadan Rosana Pendidikan IPA, FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, email:danrosana.uny@gmail.com ABSTRAK Kurikulum 2013, yang menekankan pada penerapan pendekatan saintifik, menuntut pembelajaran IPA yang menekankan pada pembelajaran terpadu juga menerapkan

ANALISIS BUTIR SOAL UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN IPA SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH TAHUN AJARAN 2014/2015 DIY SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Untuk memenuhi sebagaian persyaratan Guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh Aulia Ulfa Dewi NIM 12108241126 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PENDIDIKAN PRA SEKOLAH DAN SEKOLAH .

PPG: Konsep Dasar Pendidikan IPA, Zuhdan K. Prasetyo-FMIPA UNY 2013 Page 1 PENDAHULUAN Menurut American Association of Physics Teacher (1988: 3), “Pemegang peran paling penting pada mutu pendidikan adalah guru”. Guru adalah kunci mutu pendidikan.

pendidikan koresponden sampai pendidikan melalui e-learning lintas ruang dan waktu. UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi Bagian Ketujuh Pendidikan Jarak Jauh Pasal 31 1) Pendidikan jarak jauh merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi. 2) Pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan: a. memberikan .

dealing with financial and monetary transactions such as deposits, loans, investments or currency exchanges. NB. Do not include trust companies in this section, although it can be considered a financial institution. All of the clients/customers categorized in A02-A12 are to total all active clients disclosed in A01a above. Introduction