HUBUNGAN ASUPAN FE DAN ASAM FOLAT DENGAN KADAR HB PADA .

3y ago
72 Views
2 Downloads
1.05 MB
16 Pages
Last View : 11d ago
Last Download : 3m ago
Upload by : Lilly Kaiser
Transcription

HUBUNGAN ASUPAN FE DAN ASAM FOLAT DENGANKADAR HB PADA PASIEN TB PARU DI BBKPMSURAKARTADisusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Strata Ipada Jurusan Ilmu Gizi Fakultas Ilmu KesehatanOleh :ANDRI SEPTIAN NUGROHOJ 310 140 059PROGRAM STUDI ILMU GIZIFAKULTAS ILMU KESEHATANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA2018

PERNYATAAN KEASLIANDengan ini saya menyatakan bahwa data hasil penelitian dalam naskahpublikasi ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri dan didalamnya tidak terdapatkarya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatuperguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperolehdari hasil penerbitan maupun belum/tidak diterbitkan sumbernya dijelaskan didalam tulisan daftar pustaka.Surakarta, 16 Juli 2018PenelitiAndri Septian Nugroho

HUBUNGAN ASUPAN FE DAN ASAM FOLAT DENGAN KADAR HB PADAPASIEN TB PARU DI BBKPM SURAKARTAAbstrakTuberculosis dapat mengakibatkan berbagai gangguan metabolisme dan gangguan sistem dalamtubuh, salah satunya gangguan sintesis (pembentukan) Hb. Salah satu asupan zat gizi yangberpengaruh dalam pembentukan kadar Hb adalah zat besi (Fe) dan Asam Folat. Pada pasien TBParu terjadi penurunan asupan Fe dan Asam Folat serta gangguan sintesis Hb yang mengakibatkannilai Hb lebih rendah dari nilai normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antaraasupan zat besi (Fe) dan asupan Asam Folat dengan Kadar Hb pada pasien TB Paru di BBKPMSurakarta. Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan jumlahsampel sebanyak 40 pasien, diambil secara consecutive sampling. Data asupan zat besi (Fe) danasupan Asam Folat diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner FFQ (Food Frequency)semi kuantitatif selama 3 bulan, data kadar Hb diperoleh melalui pemeriksaan darah (Hb) denganmetode hematology analyzer. Hasil penelitian menunjukkan 33 pasien (82,5%) memiliki kadar Hbdibawah nilai normal. Sebagian besar subjek memiliki asupan zat besi (Fe) dan asupan asam folatdibawah kebutuhan harian yaitu 30 pasien (75%) dan 36 pasien (90%). Uji statistik menunjukkantidak ada hubungan antara asupan Fe dengan kadar Hb dengan nilai p 0,823 dan tidak adahubungan antara asupan asam folat dengan kadar Hb dengan nilai p 0,64.Kata Kunci : asupan fe, asupan folat, kadar hb, tb paruAbstractTuberculosis pulmonary can lead to various metabolic disorders and system disturbances in thebody, one of which is synthetic disorder of Hemoglobin levels. Some nutrients which can influencethe synthetic of Hemoglobin levels are iron (Fe) and folic acid. Patients with often have low intakeof Fe and folic acid. They also experience in spite of low intake of Fe and folic acid, patients withpulmonary tuberculosis usually experience disturbances of Fe synthesis result to a low level ofHemoglobin in the blood. To determine the association of iron and folic acid intake to theHemoglobin levels among patients with pulmonary tuberculosis in BBKPM of Surakarta. Thesisan observational study with cross-sectional approach. A total of 40 patients, were recruitedconsecutive sampling. The data of iron and folic acid intake were obtained through interviewsusing 3 months semi-quantitative FFQ (Food Frequency) questionnaire. Data of Hemoglobinlevels obtained using hematology analyzer methods. The data were analyzed using PearsonProduct Moment association test. A total of 33 patients (82.5%) had low levels of Hemoglobinbelow the normal values. Most patients had iron and folic acid intake below daily requirement of30 patients (75%) and 36 patients (90%). Based on statistical analysis showed that no associationbetween iron intake with Hemoglobin levels was found with p-value of 0,823 and there was noassociation between folic acid intake with Hemoglobin levels with p-value of 0,64. And There isno association of iron and folic acid intake to Hemoglobin levels.Keywords : folate intake, hemoglobin levels, iron intake, lungs tuberculosis

1. PENDAHULUANTB (Tuberculosis) merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang organparu. TB sendiri bersifat menular yang disebabkan oleh bakteri (mycobakteriumtuberculosis) yang menyerang organ paru yang harus diobati hingga tuntas (Hood,2005). Dalam laporan WHO pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 8,6 juta kasusTB di tahun 2012. Survei prevalensi TB pada tahun 2013 menyebutkan setiap100.000 orang untuk umur 15 tahun keatas terdapat 257 orang menderita TB.Sementara itu di Indonesia sendiri pada tahun 2014 Prevalensi TB yang terdatasebanyak 344.078 orang dengan rentang umur terbanyak antara 45 tahun sampai 75tahun (Depkes, 2016).Prevalensi penderita TB di Jawa Tengah mencapai angka yang cukup tinggi yaitusebesar 11,52% kasus dan 4,63% kasus TB berada di Surakarta sehingga menempatiurutan ke-6 terbanyak kasus TB pada tahun 2016 (BPS Jateng, 2016). Balai BesarKesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta adalah salah satu BBKPM yangada di Indonesia yang dibentuk berdasarkan peraturan menteri kesehatan dandinaungi langsung oleh Kementerian Kesehatan Indonesia. Prevalensi di BBKPMSurakarta dari tahun ke tahun masih cukup tinggi meskipun mengalami penurunan.Pada tahun 2014 jumlah pasien di BBKPM sebanyak 1.186 orang, pada tahun 2015mengalami penurunan 9,61% dan pada tahun 2016 prevalensi penderita TB Parumenurun 15,61% dari tahun sebelumnya. Meskipun mengalami penurunan, namunjumlah pasien TB Paru di Surakarta tertinggi dibanding daerah sekitarnya. Padatahun 2017 sampai bulan Juli prevalensi pasien dengan BTA ( ) masih cukup tinggiyaitu 33,78%.Pasien TB Paru memiliki status gizi yang buruk, kadar Hb yang rendah,peningkatan katabolisme serta penyakit penyerta lain akibat penurunan sistem imuntubuh. Data di BBKPM Surakarta menunjukkan bahwa rata-rata (56,7%) asupanpasien TB Paru masih dibawah Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan. Kekuranganasupan secara terus menerus dan diperburuk oleh katabolisme dalam tubuh aterganggunyasistemmetabolisme dalam tubuh, salah satunya adalah pembentukan Hb. Pada penderita TBnilai Hb lebih rendah dari nilai normal karena terjadinya gangguan pada metabolismeFe atau resistensi eritropoetin dan penurunan kerja hormon eritropoietin, sehinggamenyebabkan pemendekan umur eritrosit (Pramono, 2003).

Pembentukan Hb (sintesis Hb) terjadi karena adanya sintesis heme dan proteinglobin. Faktor penyebab rendahnya kadar Hb selain disebabkan oleh infeksi dapatpula disebabkan oleh asupan kurang (Purnasari, 2011). Asam folat adalah salah satuzat gizi yang dibutuhkan dalam pembentukan globin (Almatsier,2001) danpembentukan heme melibatkan salah satu zat gizi yaitu zat besi (Fe) pada akhirsintesisnya (Muwakhidah, 2009). Menurut Soemardjo (2009), asupan Fememberikan pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan kadar Hb dan Asamfolat berperan dalam pembetukan Hb.Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian terkait hubunganasupan Fe dan Asam Folat dengan kadar Hb pada pasien TB Paru di BBKPM kotaSurakarta. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai hubunganasupan Fe dan Asam folat dengan kadar Hb pada pasien TB serta faktor yangmempengaruhi hal tersebut.2. METODE PENELITIANJenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan crosssectional. Subjek penelitian ini adalah pasien TB Paru kategori baru di BBKPM(Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat) Surakarta dalam waktu dua bulan.Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien TB Paru dengan BTA( ) tanpa comorbid (DM, Gagal Ginjal, dan HIV), usia 19 sampai dengan 59 tahun,belum pernah atau sudah terpapar OAT kurang dari 30 hari tertanggal penegakkandiagnosis, pasien perempuan tidak sedang hamil ataupun menstruasi. Jumlah subjekpenelitian ini adalah 40 orang.Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling,yaitu setiap pasien yang datang ke BBKPM dan memenuhi kriteria inklusi, makadimasukkan sebagai sampel penelitian hingga mencukupi jumlah sampel. Data yangdikumpulkan adalah data identitas responden yang meliputi nama, umur, jeniskelamin, pekerjaan, pendidikan, data mengenai asupan makan (Fe dan Asam Folat)dengan metode FFQ Semi Kuantitatif selama 3 bulan kebelakang, serta data kadarHb didapatkan meenggunakan metode hematology analyzer dengan alat easy touchmelalui darah tepi menggunakan lancet dalam pengambilannya. Analisis data yangdigunakan adalah Uji Pearson Product Moment.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN3.1 Gambaran Umum BBKPM SurakartaBBKPM Surakarta didirikan pada tahun 1957 dengan tujuan sebagai upayapemerintah dalam memberantas penyakit TB Paru sekaligus sebagai sebagaifasilitas kesehatan untuk penderita TB Paru. Kegiatan dan pelayanan yangdilakukan di BBKPM Surakarta meliputi Upaya Kesehatan Masyarakat(UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) serta sebagai pusatpenelitian BBKPM Surakarta memberikan fasilitas dan bimbingan teknisserta pendampingan kepada pihak yang melakukan penelitian agar prosespenelitian berjalan dengan lancar.3.2 Karakteristik Subjek PenelitianKarakteristik subjek penelitian dapat menggambarkan bagaimana kondisisubjek dan dapat digunakan sebagai faktor pendukung dalam suatu penelitian,berikut adalah karakteristik dari 40 subjek penelitian.Tabel 1. Karakteristik subjek penelitianKarakteristik pasienJumlahPersen (%)20 - 29 Tahun30 - 39 Tahun40 - 49 Tahun50 - 59 waTidak ak Menempuh PendidikanTamat SDTamat SMP/sederajatTamat SMA/sederajatPT (Perguruan Tinggi)Total148198402,5102047,520100UmurJenis KelaminPekerjaanPendidikan

Tabel 1 menunjukkan usia dalam rentang 50 hingga 59 tahun memilikipersentase terbanyak sebesar 35%, sedangkan persentase paling sedikitadalah rentang usia 40 sampai dengan 49 tahun dengan persentase sebanyak15%. Umur seseorang mempengaruhi tingkat pengetahuan, kepercayaan,kebiasaan, hal ini akan memempengaruhi pola/kebiasaan makan seseorangsehingga akan mempengaruhi jumlah asupan makan, variasi makanan danmempengaruhi status gizinya. Status gizi seseorang akan mempengaruhitingkat kesehatan seseorang (Notoatmodjo, 2007). Usia merupakan salah satufaktor resiko terkena TB Paru, dimana usia dewasa muda dan usia lansiamemiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan usiadewasa (Achmadi, 2005).Sebagian besar subjek penelitian (65%) adalah laki-laki, sedangkanperempuan sebanyak 35%. Timgginya kasus TB paru pada laki-laki berkaitandengan kebiasaan merokok. Merokok dapat mempengaruhi penurunantingkat imunitas dan juga mempengaruhi angka progresifitas kumah TB parumenjadi lebih aktif (Watkins dan Plant, 2006). Penelitian ini menunjukkan100% subjek penelitian laki-laki memiliki kebiasaan merokok. Selain haltersebut diatas, laki-laki memiliki mobilitas yang lebih tinggi dibandingkandengan perempuan, sehingga kontak sosial dengan lebih luas diluar rumahtermasuk lingkungan kerja juga dapat menjadi faktor pemicu.Sebagian besar subjek (52,5%) bekerja sebagai karyawan swasta.Pekerjaan berkaitan dengan pendapatan, dimanapendapatan akanmempengaruhi pola konsumsi makan secara langsung. Pendapatan yangtinggi akan memperbesar peluang dalam membeli makanan dengan kualitasdan kuantitas lebih baik, sedangkan pendapatan yang kurang akanmengakibatkan hal sebaliknya yang akan mengakibatkan tidak terpenuhinyatubuh akan zat gizi seperti asupan Fe dan Asam Folat (Yayuk dkk, 2004).Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (67,5%) subjek penelitianberpendidikan lanjut (SMA/Sederajat dan Perguruan Tinggi). Tingkatpendidikan yang lebih tinggi akan mempengaruhi tingkat pengetahuanseseorang dan informasi mengenai gizi akan lebih baik dibandingkan denganyang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah (Permaesih, 2005).

3.3 Asupan FeFe (Zat besi) merupakan salah satu mikronutrien yang berfungsi sebagai zatyang digunakan dalam pembentukan heme pada proses sintesis Hb (Gibney,2009). Berikut adalah hasil penelitian mengenai asupan Fe pada 40 pasienTabel 2. Asupan FeKlasifikasiJumlahPersen (%)Baik1025Kurang3075Total40100Hasil penelitian menunjukkan bahwa 75% pasien penelitian mengalamiasupan Fe kurang dari kebutuhan. Asupan Fe dipengaruhi oleh banyak danjenis bahan makanan yang dikonsumsi. Bahan makanan yang dikonsumsimengandung tinggi Fe maka jumlah asupan Fe yang masuk kedalam tubuhjuga akan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Hasil wawancara denganmetode FFQ dapat diambil kesimpulan bahwa 75% pasien mengkonsumsibahan makanan yang rendah kandungan Fe nya, dimana sebagian besarmengkonsumsi sumber makanan dari tumbuh-tumbuhan (non heme). Contohbahan makanan yang rata-rata dikonsumsi oleh pasien adalah tomat(0,5mg/100g), kangkung (1,1mg/100g), kacang panjang (0,8mg/100g), dannangka muda (0,2mg/100g).Suplementasi pada pasien TB paru bukan menjadi salah satu solusi yangtepat, karena beberapa penelitian meningkatkan asupan Fe dengan pemberiansuplementasi Fe tidak dianjurkan, hal tersebut berkaitan dengan suplementasiFe berakibat pada terjadinya peningkatan pertumbuhan sel mycobacteriumtuberculosis (Range, 2006).3.4 Asupan Asam FolatAsam folat berperan dalam pembentukan kadar Hb, yaitu sebagai pembentukglobulin (Almatsier, 2003). Hasil penelitian pada 40 pasien mengenai asupanasam folat dapat dilihat pada tabel berikut.Tabel 3. Asupan asam folatKlasifikasiJumlahPersen (%)Baik410Kurang3690Total40100

Asam folat memiliki karakteristik yang berbeda dari Fe, dimana asam folatsangat rentan terhadap proses pemanasan dengan suhu tinggi. Penelitianmenunjukkan bahwa 90% pasien memiliki asupan asam folat yang kurang,dimana pasien mengkonsumsi bahan makanan yang rendah asam folatnyaseperti wortel, nangka muda, mangga, dan jambu. Selain itu, hasil penelitanpada 40 resonden menujukkan sebagian besar pasien memasak bahanmakanan sumber asam folat dengan proses pemanasan suhu tinggi sepertimenggoreng dan merebus. Makanan seperti sayuran dan buah-buahanmerupakan sumber asam folat terbanyak. Proses pemanasan pada sayurandapat merusak asam folat (Almatsier, 2003).Asam folat bersama dengan beberapa vitamin dan mineral (A, C, E, D,Seng, Tembaga, Selenium dan Fe) berfungsi sebagai antioksidan danberperan dalam peningkatan imunitas tubuh dalam melawan infeksimycobacterium tuberculosis (Papatakhis, 2008). Asupan asam folat yangrendah akan berakibat pada penurunan sistem imunitas tubuh, selain itukekurangan asam folat akan menghambat pembentukan sel eritrosit dimanaterdapat hemoglobin didalamnya (Gupta, 2009).3.5 Kadar HbHb (Hemoglobin) memiliki peran vital dalam tubuh manusia. Hb memilikifungsi sebagai pengikat oksigen dan karbondioksida dalam darah.Kekurangan Hb atau biasa disebut Kadar Hb yang rendah dapat menggangguproses distribusi oksigen dalam tubuh (Riswanto, 2013). Tabel berikutmenunjukkan hasil penelitian kadar Hb pada 40 subjek penelitian.Tabel 4. Kadar hemoglobinKlasifikasiJumlahPersen (%)Normal717,5Tidak Normal3382,5Total40100Hasil penelitian kadar Hb menujukkan 82,5% pasien memiliki kadar Hblebih rendah dari nilai normal. Nilai normal kadar Hb menurut WHO tahun2013 untuk perempuan adalah 12 g/dL dan untuk laki-laki adalah 13 g/dL.Banyak faktor yang mempengaruhi kadar Hb, diantaranya adalah asupan Fe,

asupan Asam folat, adanya penyakit infeksi, dan penggunaan obat-obatantertentu. Pada kasus TB Paru ada 2 faktor utama yang mempengaruhi kadarHb secara langsung yaitu Asupan dan penyakit infeksi.Asupan asam folat dan asupan Fe mempengaruhi proses pembentukanatau sintesis Hb, hal tersebut akan mempengaruhi kadar Hb. Defisiensi asamfolat akan mengganggu sistem replikasi DNA dalam proses pembentukanglobin dan akan mengakibatkan kecacatan pada sintesis globin. Asam folatdalam berbagai reaksi transfer karbon, termasuk purin dan biosintesistimidilat, metabolisme asam amino dan oksidasi format. Purin dan timidilatmerupakan biosintesis dalam pembentukan DNA dan sintesis RNA yang padaakhirnya akan menjadi inti sel muda eritrosit yang terdapat hemoglobindidalamnya (Barua, 2014). Sedangkan defisiensi Fe akan mengganggupembentukan heme. Sintesis heme yang tidak sempurna darHbakanrendah(Vijayaraghavan, 2004).Kebiasaan konsumsi makanan yang menghambat absorbsi juga mejadisalah satu penyebab terganggunya pembentukan Hb. Sebagian besar pasien(90%) mengonsumsi teh dan kopi, dimana 70% pasiennya mengonsumsiteh/kopi bersamaan dengan saat makan. Seperti yang telah dijelaskansebelumnya bahwa konsumsi teh/kopi bersamaan dengan makan dapatmengakibatkan gangguan proses absorbsi Fe, hal tersebut akan menyebabkandefisinsi. Asupan yang defisit atau kurang akan menurunkan kadar Hb.Faktor kedua selain asupan adalah adanya penyakit infeksi. Penyakitinfeksi dalam hal ini adalah TB Paru, TB Paru mempengaruhi kadar Hbdengan memperpendek umur eritrosit. Hb terdapat dalam eritrosit, jika umureritrosit lebih pendek dan terjadi lisis/pecahnya sel eritrosit maka Hb yangterdapat dalam sel eritrosit tersebut juga rusak sehingga tidak mampuberfungsi dengan baik. Pada pasien TB Paru, sel eritrosit memiliki umur yanglebih pendek, yaitu kurang dari 120 hari (Pramono, 2003).3.6 Analisis Hubungan Asupan Fe dengan Kadar HbAsupan zat gizi Fe merupakan salah satu penentu kadar hemoglobin, sehinggadibutuhkan zat gizi Fe yang cukup/adekuat agar proses pembentukanhemoglobin berjalan dengan baik. Zat besi (Fe) didalam tubuh manusia

sangat penting dalam proses sintesis hemoglobin, rendahnya kadar Fe dalamtubuh akan berdampak pada proses sintesis heme dalam pembentukanhemoglobin (Halim, 2014). Berikut hasil analisis mengenai hubungan asupanFe dengan kadar Hb.Tabel 5. Analisis hubungan asupan Fe dengan kadar HbKadar HbAsupan FeBaikNormalTidak NormalJumlahSig. (p)N%N%N%660440101002996,6730100Kurang13,33*Uji Korelasi Pearson Product Moment0,823Hasil Penelitian Menunjukkan Fe yang kurang memiliki kadar Hb yangtidak normal sebesar 96,67%. Dari hasil uji statistik menggunakan uji korelasiPearson Product Moment antara variabel asupan Fe dengan kadar Hbmenunjukkan nilai p 0,05, dimana nilai p 0,823 yang artinya tidak adahubungan yang signifikan antara asupan Fe dengan Kadar Hb. Hasilmenunjukkan pada subjek penelitian yang memiliki asupan Fe baik maupunkurang, lebih banyak yang mempunyai kadar Hb dibawah nilai normal,karena pasien dalam penelitian ini memiliki kebiasaan konsumsi teh/kopibersamaan dengan makan. Kandungan polifenol terdapat pada teh, kopi, dananggur merah serta tanin dalam teh hitam merupakan penghambat terbesardalam absorbsi Fe (Vijayaraghavan, 2004). Sumber Fe yang banyakdikonsumsi berasal dari sumber nabati, seperti bayam, daun singkong, tahu,tempe dan kacang tanah.Dilain sisi infeksi pada pasien TB Paru menurunkan usia eritrosit. Proseslisis/pecahnya sel eritrosis membuat tubuh memberikan respon yangberlawanan yaitu meningkatkan produksi sel eritrosit yang membutuhkan zatFe sebagai pembentuknya, namun karena suplai Fe dalam tubuh/darah kurangakan mengakibatkan cacatnya produksi Hb atau perubahan morfologi padaeritrosit (Kaushansky, 2010).

3.7 Analisis Hubungan Asupan Asam Folat dengan Kadar HbAsam folat memiliki fungsi utama sebagai koenzim dalam berbagaimetabolisme. Asam folat juga berfungsi sebagai pembentukan sel darahmerah dan sel darah putih dalam sumsum tulang belakang. Asam folatberperan sebagai pembawa karbon tunggal dalam pembentukan heme(Almatsier, 2009). Asam folat berperan dalam proses pembentukaneritrosit/sel darah merah. Defisiensi asam folat mengakibatkan hambatandalam sintesis/pembentukan DNA yang mengakibatkan terjadinya prekursoreritrosit megaloblastik di dalam sumsum tulang dan makrositik dalam darahperifer (Indrawati, 2004). Berikut adalah analisis hubungan antara asupanasam folat dengan kadar Hb.Tabel 6. Analisis hubungan asupan asam folat dengan kadar HbAsupanKadar HbAsamNormalJumlahTidak ,8931*Uji Korelasi Pearson Product MomentSig. (p)0,64Tabel 6 menunjukkan pasien dengan asupan

hubungan antara asupan asam folat dengan kadar Hb dengan nilai p 0,64. Kata Kunci : asupan fe, asupan folat, kadar hb, tb paru . Abstract . Tuberculosis pulmonary can lead to various metabolic disorders and system disturbances in the body, one of which is synthetic disorder of Hemoglobin levels. Some nutrients which can influence the synthetic of Hemoglobin levels are iron (Fe) and folic .

Related Documents:

History of ASAM Criteria 1991: First edition of ASAM’s Patient Placement Criteria for the Treatment of Psychoactive Substance Use Disorders 1996: ASAM PPC-2 : Included Continuing Stay and Discharge Criteria 1998/99 ASAM PPC endorsed by 30 states, Dept of Defense, & some MCOs 2001: ASAM

Konsumsi asam folat, vitamin B12 dan vitamin C pada ibu hamil tergolong masih rendah, sehingga konsumsi sumber vitamin perlu ditingkatkan untuk mencegah masalah selama kehamilan, seperti anemia, prematur, dan kematian ibu dan anak. Kata kunci: asam folat, ibu hamil, vitamin B12, vitamin C *Korespondensi: Telp: 628129192259, Surel: hardinsyah2010@gmail.com J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 1 .

Fe, asam folat dan vitamin B 12). Dosis plasebo yaitu laktosa 1 mg (berdasarkan atas laktosa 1 mg tidak mengandung zat gizi apapun sehingga tidak memengaruhi asupan pada kelompok kontrol), Fe 60 mg dan asam folat 0,25 mg (berdasarkan kandungan Fero Sulfat), vitamin vitamin B 12 0,72 µg berdasarkan atas kekurangan

and ASAM. The ASAM Resource User Guide. Intake/Assessment. Intervention/Treatment Outcomes. The information provided here will help you best implement ASAM’s criteria. The products and services offered under the collaborative partnership of ASAM and The Change Companies provide treatment teams and clinicians with support throughout the .

ASAM Criteria must require more staff, expense, and administration to provide all the levels ASAM Criteria is a medical model and requires everyone to hire a medical director ASAM Criteria is biased to advocate for more inpatient treatment ASAM Criteria is biased to advocate for more outpatient treatmentFile Size: 556KB

American Society of Addiction Medicine, Third Edition, 2013 The Change Companies, Publisher To help you learn more about ASAM . Illustrate the important role of ASAM in the changing world of behavioral health care Define and review the ASAM Criteria Connect the ASAM with othe

Gambar 2.1 Grafik hubungan antara nilai opsi jual-beli dan harga saham . 16 Gambar 2.2 Grafik hubungan antara nilai opsi jual-beli dan harga penyerahan 16 Gambar 2.3 Grafik hubungan antara nilai opsi jual-beli dan jangka waktu 17 Gambar 2.4 Grafik hubungan antara nilai opsi jual-beli terhadap Volatility . 18 Gambar 2.5 Grafik hubungan .

Keywords: Korean, heritage language, multiliteracies, university-level language classroom, multimodal reading response Journal of Language and Literacy Education Vol. 11 Issue 2—Fall 2015 117 eritage language (HL) learners1 who are exposed to and speak a language other than English exclusively in their homes and communities exhibit relatively lower reading and writing skills compared to .