KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH

3y ago
54 Views
2 Downloads
797.06 KB
112 Pages
Last View : 10d ago
Last Download : 5m ago
Upload by : Jerry Bolanos
Transcription

KONSEP PENDIDIKAN ISLAMMENURUT IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAHSKRIPSIOleh:Zainal ArifNIM. D01205225FAKULTAS TARBIYAHJURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAMINSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPELSURABAYA2010

PERSETUJUAN PEMBINIBING SKRNSISkripsi Oleh:Nama: Zainal ArifNEVI: D01205225Judul: KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNUQAYYLVI AL-JAUZIYYAHIni tel.ah diperiksa dan disetujui untuk diujikan.Surabaya, 18 Februari 2010PembimbingDr All Mas'ud M.ANIP. i 96301231993031002III

PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSISkripsi oleh Zainal Arif ini telah dipertahankan di depan Tim Penguji SkripsiSurabaya, 25 Februari 2010Mengesahkan, Fakultas TarbiyahInstitut Agm Negeri Sunan Ampel Surabayaamim MA3121991031002KetuaDr Ali Mas'ud M.A196301231993031002SekretarisSiti Asmiyah, S.PdNIP. 197704142006042003PenIDrs. H.NIb 4512151977031001Penguji IIDrs. Nadlir, M. d.INIP. 196807221996031002iv

ABSTRAKSkripsi ini dilatarbelakangi adanya doktrin liberalisme dalam pendidikan yangditekankan pada peserta didik telah membuat siswa berlaku tidak etis danmengabaikan etika moral yang selama ini kita hargai dan junjung tinggi. Yangmenjadi permasalahan adalah bagaimana pendidikan Islam merespon dan menyikapihal seperti iniDalam penelitian ini, konsep pendidikan Islam perspektif Ibnu Qayyim adalahmencakup tarbiyah qalb (pendidikan hati) dan tarbiyah badan secara sekaligus.Adapun konsep pendidikan Islam menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah adalah: Tujuanpendidikan yang diarahkan pada empat aspek tujuan yaitu: tujuan jismiyyah (fisik),tujuan akhlakiyyah (akhlak), tujuan fikriyyah (akal) dan tujuan maslakiyyah (skill).Sasaran pendidikan yang diarahkan pada sembilan sasaran pendidikan yaitu:pendidikan imaniyyah (iman), pendidikan ruhiyyah (rohani), pendidikan ‘athifiyyah(perasaan), pendidikan khulukiyyah (akhlak), pendidikan ijtimaiyyah (bermasyarakat),pendidikan iradiyyah (kehendak), pendidikan badaniyyah (jasmani) dan pendidikanjinsiyyah (seksual). Menurut Ibnu Qayyim seorang guru harus memiliki adab-adabyang harus dipenuhi untuk dirinya sendiri, maupun adab terhadap muridnya. Selainitu beliau juga menghimbau agar seorang guru harus bisa memahami teori kejiwaananak didik. Menurut beliau seorang murid itu harus memenuhi adab-adab seorangmurid yang telah dinasehatkan beliau. Baik adab terhadap gurunya maupun terhadapdirinya sendiri. Selain itu, beliau juga menasehatkan agar seorang murid itubermulazamah (menyertai) gurunya dan senantiasa ia menuruti nasehat danpetunjuknya. Dalam lembaga pendidikan, Ibnu Qayyim menawarkan lembagapendidikan yang dilakukan di rumah (keluarga), masjid, majlis ilmu dan madrasahsebagai tempat yang kondusif (cocok) untuk amalan tarbiyah. Sedangkan tanggungjawab dalam pendidikan Islam itu dibebankan di atas pundak bapak, murabbi(pendidik) dan mereka yang bertanggung jawab atas perawatan dan pendidikan anak(keluarga). Dibebankan kepada para nabi, para rasul dan para ulama yang menjadipewaris para nabi (pendidikan umat secara umum).Metode pengumpulan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metodedocumenter. Yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,xiidigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

transkrip buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, catatan agenda dansebagainya.Konsep pendidikan Islam perspektif Ibnu Qayyim sangat relevan sekalidiaplikasikan dalam pendidikan Islam yang ada di Indonesia ini, karena konseppendidikan ini masih sesuai dengan tuntutan zaman saat ini. Hal ini sebagaian upayauntuk meningkatkan pendidikan Islam yang saat ini mengalami penurunan.xiiidigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

DAFTAR ISIHalamanSAMPUL DALAM . iiPERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI.iiiPENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI . ivMOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN .vKATA PENGANTAR .viiDAFTAR ISI .ixABSTRAK . xiiBAB I : PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah. 1B. Rumusan Masalah.7C. Tujuan Penelitian.8D. Kegunaan Penelitian .8E. Definisi Operasional .8F. Metode Penelitian .10G. Sistematika Pembahasan .13BAB II : KAJIAN TEORI KONSEP PENDIDIKAN ISLAMA. Pengertian Pendidikan Islam.15ixdigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

B. Tujuan Pendidikan Islam.18C. Sasaran Pendidikan Islam.231. Pendidikan Jasmani. 232. Pendidikan Akal .263. Pendidikan Agama.284. Pendidikan Akhlak.305. Pendidikan Rohani.326. Pendidikan Rasa Keindahan.337. Pendidikan Sosial.34D. Pendidik Dan Peserta Didik .381. Pendidik Dalam Pendidikan Islam.382. Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam .43E. Lembaga Pendidikan Islam.471. Pengertian Lembaga Pendidikan Islam .472. Jenis-Jenis Lembaga Pendidikan Islam .49BAB III : KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU QAYYIMAL-JAUZIYYAHA. Biografi Tokoh.521. Biografi Singkat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.522. Karya-Karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.55B. Kajian Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.561. Pengertian Pendidikan Islam.56xdigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

2. Tujuan Pendidikan Islam.583. Sasaran pendidikan Islam.614. Pendidik Dan Peserta Didik.765. Lembaga Pendidikan Islam. .82BAB IV : ANALISIS KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN PENDIDIKANISLAM IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAHA. Analisis Pemikiran Pendidikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.85B. Kontribusi Pemikiran Pendidikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah terhadapPendidikan Islam.91BAB V : PENUTUPA.Kesimpulan.94B.Saran.97DAFTAR PUSTAKA .99PERNYATAAAN KEASLIAN TULISAN .105RIWAYAT HIDUP .106LAMPIRAN .107xidigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

1BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahIstilah pendidikan berasal dari bahasa yunani terdiri dari kata “pais” artinyaanak dan “again” berarti membimbing.1 Pendidikan merupakan bimbingan ataupertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orangdewasa agar ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupanyang lebih tinggi dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti usahayang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang atau ia menjadi dewasaatau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam artimental. Dengan demikian pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalampergaulan dalam anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani.2Pengertian pendidikan Islam secara umum yaitu usaha dan asuhan terhadapanak didik agar kelak esok pribadinya bisa berubah ke arah yang lebih baik dandilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.3 Apabila sasaran pendidikan adalahmanusia, maka pendidikan disini akan membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya.4Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan, karenapendidikan juga merupakan sarana mencapai modernisasi. Di sisi lain,1Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h.69.Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,1998), h.l1.3Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta Bumi Aksara, 1995), h.92.4Umar Tirtoraharjo dan Lasula, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: Departemen Pendidikan danKebudayaan, Rineka Cipta, 1991), h.1.2digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

2pendidikan juga dipandang sebagai passion (kekuatan) yang menjadikan suatumasyarakat atau negara berkembang pesat sejajar dengan negara lain. Mengingatsangat pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa dan negara maka hampirseluruh negara seluruh dunia ini menangani secara langsung masalah-masalahyang berhubungan dengan pendidikan. Dalam hal ini masing-masing negaramenentukan sendiri dasar dan tujuan pendidikan di negaranya. Masing-masingbangsa mempunyai pandangan hidup sendiri yang berbeda antara satu denganyang lainnya, begitu juga dengan penddidikan Islam.Sejak awal perkembangan pendidikan Islam telah berdiri tegak di atas duasumber pokok yang amat penting yaitu al-Qur’an dan sunnah nabi di dalam kitabsuci ini terkandung ayat-ayat mufasshalat (terinci) dan ayat-ayat mubayyinat(yang memberikan bukti-bukti kebenaran) yang mendorong kepada orang untukbelajar membaca dan menulis serta untuk menuntut ilmu, memikirkan danmenganalisis ciptaan langit dan bumi.Pendidikan Islam mulai dilaksanakan oleh Rasulullah SAW sebagaiMuballigh Agung di tengah masyarakat di rumah arqam bin al arkam di Mekkah.Beliau mengajarkan tentang ajaran Islam dan semua ayat al-Qur’an yangditurunkan kepadanya, dengan membacakan secara berurutan dan bertahap,pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang dan berkembang seiring dengankemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, dimana Islamlahir dan berkembang, kedatangan Islam sarat akan usaha-usaha pendidikan yangdiupayakan untuk menanamkan nilai–nilai ajaran Islam dan sekaligusmemperbaiki perilaku masyarakat Arab waktu itu (rahmatal lil ‘alamin).digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

3Pendidikan Islam dalam era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologidewasa ini semakin dipertanyakan keberadaan dan sumbangsihnya, apalagi biladikaitkan dengan peran dan kontribusinya pada pembentukan budaya modernyang tentu saja sangat dipengaruhi dengan dinamika ilmu pengetahuan danteknologi. Pendidikan di era modern ini lebih banyak menyentuh kecerdasanakliyat (aspek kognitif) dan kecerdasan ajsamiyat (aspek psikomotorik) dankurang memerhatikan kecerdasan rukhiyat (afektif). Hal ini terbukti dariproduktivitas pendidikan yang banyak melahirkan siswa dan kesarjanaan cerdasdan terampil, tetapi masih banyak siswa yang tawuran, perkelahian, dan lainsebagainya serta masih banyak juga sarjana berdasi yang korupsi, menindas,maling hak rakyat. Semua kejadian ini adalah indikator bahwa pendidikan yangdiperoleh siswa belum lengkap. Walaupun ada yang berhasil tapi jumlahnya tidakbanyak. Padahal Islam menuntut secara keseluruhan meskipun dengan bijak.5Pendidikan Islam sekarang ini sedikit banyak juga mengalami degradasifungsional, hal ini dapat diketahui dari kenyataan bahwa pendidikan saat inisemakin berorentasi pada sifat materialistik. Ia cenderung ditetapkan hanya asetnasional yang memiliki fungsi khusus dalam menyiapkan tenaga kerja yang akanmemenuhi tuntutan dunia (lapangan kerja) dan bercorak industrialis. Akurasisuatu program kerja pendidikan dilihat dari sejauh mana output pendidikan itudapat berperan aktif dalam mengisi lapangan kerja yang disediakan oleh duniaindustri.656Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), h.5.M. Rusli Karim, Pendidikan Islam dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991),h.127.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

4Meskipun demikian, tentu tidak dapat secara apriori menyalahkankemajuan teknologi, karena bagaimanapun juga ilmu pengetahuan dan teknologimenjadi tumpuan harapan manusia. Diharapkan suatu bentuk kehidupan yangpaling baik berkat kemajuan yang telah diraihnya, namun pada gilirannya justruharus menanggung resiko yang makin komplek yang mencemaskan batinmanusia.Uraian di atas merupakan gambaran kehidupan pada masa kini dan masadepan yang senantiasa mengandalkan intelektualitas dan logika, tanpamemperhatikan perkembangan mental spiritual dan nilai agama dalam arenakehidupan yang digambarkan oleh para ahli yang cenderung mengatakan adanyasuatu kesuraman dan kekusutan karena berbagai dampak IPTEK yang mengerosinilai-nilai seluruh bidang kehidupan, maka masalah yang muncul kemudian, apadan bagaimana orientasi pendidikan sehingga bisa memberikan peran yang palingbaik.Memang bila melihat realitas yang berkembang sekarang ini dekadensimoral sangat luar biasa berpengaruh negatif pada masyarakat, khususnya pararemaja dan pemuda yang notabene kebanyakan dari mereka adalah siswa.Metode pembelajaran yang ditetapkan sekolah-sekolah dewasa ini sangatdipengaruhi oleh budaya modernisme yang berkiblat ke dunia Barat yang tentusaja banyak mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dan nilai-nilai ajaran agama.Doktrin liberalisme dalam pendidikan yang ditekankan pada peserta didiktelah membuat siswa berlaku tidak etis dan mengabaikan etika moral yangselama ini kita hargai dan junjung tinggi. Dalam satu sisi liberalisme pendidikandigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

5yang dalam hal ini di tekankan pada kreatifitas dan memberikan kebebasanberfikir memberikan kontribusi positif, karena dengan demikian peserta didikdiharapkan mampu bersifat kreatif dan inovatif dalam berfikir, akan tetapidampak negatifnya juga tidak ringan karena kebebasan yang didoktrinkan lewatsemangat liberalisme pendidikan sangat mereduksi nilai moral dan etika, yangdalam hal ini menyebabkan erosi dan dekadensi moral di kalangan siswa bergeserke arah perbuatan negatif. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimanapendidikan Islam merespon dan menyikapi hal seperti ini.Berdasarkan persoalan di atas, maka sangat dibutuhkan adanya konseppendidikan Islam yang komprehensif, universal dan integral yang dapat mendidikmanusia dari segala sisinya yaitu; jasad, akal dan ruhnya serta mendidik manusiadari sejak lahir hingga ajalnya. Sehingga diharapkan peserta didik akan memilikibekal dan perisai dalam menghadapai tuntutan dan tekanan hidup di era globalini. Disini peran seorang pendidik, masyarakat, pemerintah sangat dibutuhkanuntuk mencapai cita-cita pendidikan yang masih belum tercapai.Masyarakat Islam yang berdiri tegak di atas manhaj Allah Azza wa Jallayang senantiasa memperhatikan individu sejak kelahirannya, mengaturhubungannya dengan Rabb dan penciptanya, juga akan mengatur hubungannyadengan jiwanya sendiri, keluarga, lingkungan sekitarnya dan masyarakat padaumumnya. Ia juga akan memperhatikan urusan masyarakat dan mengatur urusankehidupannya. Sesungguhnya masyarakat itu terbentuk dari individu-individuyang memiliki kecondongan dan perasaan bermasyarakat, mereka adalahpenanggung jawab terhadap masyarakat yang didiaminya dan terhadapdigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

6kemakmuran dunia, penangung jawab atas tegaknya kebenaran, mendakwahkan,membela dan menyebarkannya kepada manusia. Maka tarbiyah yang ada didalamnya adalah tarbiyah Rabbaniyatul ghayah (berorientasi ketuhanan), yanghadaf (tujuan) dan sarananya ditetapkan dengan jelas dan bertujuan membentukdan mewujudkan pribadi yang shalih dan masyarakat yang shalih (baik).Jadi, masyarakat Muslim itu memiliki konsep tarbiyah yang tersendiri.Tidak akan sesuai bagi mereka pola (sistem) tarbiyah apa pun yang dibangun diatas falsafah sesat, seperti falsafah komunis dan kapitalis. Menerapkan selaintarbiyah Islamiyah dalam masyarakat muslim akan mendatangkan bencana,kecelakaan dan menghapus ashlahah Islamiyah. Tetapi pada kenyataannya, tidakdapat dipungkiri bahwa masyarakat yang kuat dan berkuasa di dunia ini pastiakan menyebarkan falsafah dan pemikiran tarbiyahnya kepada umat-umat yangkalah dan lemah.Kita sudah mengetahui bahwa ada pola tarbiyah Islamiyah yang memilikiasas (pondasi), ahdaf, sarana dan ciri kekhususan yang jelas. Lalu kita bertanya:apakah para ulama atau sebagian di antara mereka telah memiliki semangat untukmengungkap sisi tarbiyah tersebut, rambu-rambu serta jalannya yang asasi? Danapakah mereka memiliki ijtihad (pendapat) dan konsepnya? Kemudian apakahada dari ulama sekarang yang telah mempelajari, mengkaji dan mengupaspendapat-pendapat, khazanah keilmuan dan teori-teori tarbiyah para ulamapendahulunya?digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

7Jika kita mengambil contoh, semisal Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dengan ciridan kepribadiannya sebagi seorang alim, niscaya akan kita temukan beberapaisyarat, pandangan dan petunjuk beliau tentang tarbiyah, di sampingkesungguhan beliau dalam membahas fikih, akidah, tasawuf, nahwu dan bahasa.Kita pasti menemukan nasehat-nasehat beliau tentang tarbiyah dalam tumpukanbuku-buku

Menurut Ibnu Qayyim seorang guru harus memiliki adab-adab yang harus dipenuhi untuk dirinya sendiri, maupun adab terhadap muridnya. Selain itu beliau juga menghimbau agar seorang guru harus bisa memahami teori kejiwaan anak didik. Menurut beliau seorang murid itu harus memenuhi adab-adab seorang

Related Documents:

Ibnu Qayyim, pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan saja, namun juga pembinaan akhlak dan moral yang baik sesuai ajaran Islam. 2) pendidikan agama Islam di Indonesia saat ini sudah berjalan dengan baik di lembaga pendidikan dibawah naungan kemenag, sedangkan pada lembaga pendidikan umum kurang .

Islam, sedangkan pendidikan Islam adalah nama sistem, yaitu . merupakan dasar yang utama dalam pendidikan Islam. b. As-Sunnah Setelah Al-Qur’an maka dasar dalam pendidikan Islam adalah As-Sunnah, As-Sunnah merupakan perkataan, . 18 Marasudin Siregar, “Konsepsi Pendidikan Ibnu Khaldun .

dibuktikan melalui buku-bukunya antara lain, Ilmu Pendidikan Islam, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, Filsafat Pendidikan Islam,Metodologi Studi Islam, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Perspektif Islam t

Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (1292-1350), waxa uu ka mid ahaa aqoon yahanada islaamka u kacay xiligaas aan kor ku soo sheegnay, magaciisa dhamaystirani waxa uu ahaa Maxamed Ibnu Bakr Ibnu Ayuub Ibnu Sacad Assari, kunyadiisuna waxa ay ahayd Abu Abdulaah Shams Al-diin, waxase loogu yeedhi jiray inta badan Ibnu Qayim Al-Jawziyyah.

serta menjadikan tulisan Ibnu Qayyim al-Jauziyah sebagai referensi utama (primer) dan juga karya orang lain yang berbicara tentang etika Islam sebagai referensi tambahan (sekunder). Dalam pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyah tentang konsep etika Islam (akhlak), ia membagi keutamaan akhlak menjadi empat bagian. Pertama, al-jahl

Rohman,Darmawan. 2014.Konsep Pendidikan Kerakyatan Ibrahim Datuk Tan Malaka Dalam Pandangan Islam.Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang. Dosen Pembimbing:AbdulAziz, M. Pd. Kata Kunci: Pendidikan Kerakyatan, Tan Malaka, Islam

Penulisan pada skripsi ini bertujuan untuk mengetahui konsep ahsan taqwim dalam Quran Surat At-Tin ayat ke-4 (empat), dan untuk mengetahui konsep tersebut serta kegunaannya menurut disabilitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu . Disabilitas Menurut QS. Al- Hajj : 46 Menurut Tafsir Ibnu Katsir .

Answer a is too narrow to be the implied idea. It is based on only one of the four supporting details, statement 1. b. Answer b covers only statements 2 and 4; therefore it is too narrow to be the implied main idea. In addition, it is a conclusion that is not based on the given facts, which say nothing about one group always being better than another. c. Answer c is a general statement about .