BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Akhlak, Moral, Etika, Dan Adab 1 .

1y ago
20 Views
2 Downloads
682.89 KB
46 Pages
Last View : 23d ago
Last Download : 5m ago
Upload by : Grady Mosby
Transcription

BAB IILANDASAN TEORIA. Pengertian Akhlak, Moral, Etika, dan Adab1. Pengertian AkhlakKata akhlaq berasal dari bahasa Arab, yakni jama’ dari “khuluqun”yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tata krama,sopan santun, adab, dan tindakan. Kata akhlak juga berasal dari katakhalaqa atau khalaqun artinya kejadian, serta erat hubungan atauperbuatan,sebagaimana terdapat kata al-khaliq yang artinya pencipta dan makhluqyang artinya diciptakan.1Secara linguistis, kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab, yaitu isimmasdar (bentuk infinitive) dari kata al-akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuaitimbangan (wazan) tsulasi majid af’ala yuf’ilu if’alan yang berarti alsajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-adat(kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan ad-din(agama). Kata akhlaq juga isim masdar dari kata akhlaqa, yaitu ikhlak.Berkenaan dengan ini, timbul pendapat bahwa secara linguistis, akhlakmerupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak1Hamdani Hamid dan Beni Ahmad Saebani, op. cit., h. 4320

21memiliki akar kata. Dalam pengertian umum, akhlak dapat dipadankandengan etika atau nilai moral.2Adapun pengertian akhlak menurut terminologi, beberapa ahliberpendapat diantaranya :a. Imam al Ghazali عن ها تصدر لف عال بسهولة ويسر من غي فكر , فاللق عبارة عن هني ئة ف الن فس راسخة 3 ورؤية b. Ibrahim Anis تصدر عن ها العمال من خي او شر من غي حاجة اإل فكر , اللق حال الن فس راسخة 4 ورؤية Ahmad Amin dalam bukunya al-akhlaq, mendefinisikan akhlakdengan kebiasaan seseorang. Atau kecenderungan hati atas amudahmengerjakannya tanpa lebih dahulu banyak pertimbangan. 5Semua definisi akhlak secara subtansi tampak saling melengkapi,dengan lima ciri akhlak, yaitu sebagai berikut.2Ibid.Muhammad al Ghazali, Ihya Ulumuddin Jilid III, (Beirut: Darul Fikr, 2008), h. 574Ibrahim Anis, Al Mu’jam al Wasith (Kairo: Maktabah as Syuruk ad Dauliyyah, 2004), h.32525A. Rahman Ritonga, Akhlak Merakit Hubungan Dengan Sesama Manusia, ( Surabaya:Amelia, 2005), h. 7.

221. Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwaseseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.2. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpapemikiran. Ini tidak berarti bahwa saat melakukan perbuatan, orangyang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tiduratau gila3. Akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yangmengerjakannya, tanpa paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatanakhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan,dan keputusan yang bersangkutan.4. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukanmain-main atau karena bersandiwara, perbuatan yang dilakukan ikhlassemata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karenaingin mendapatkan pujian.6Secara terminologis, pengertian akhlak adalah tindakan yangberhubungan dengan tiga unsur yang sangat penting berikut :1. Kognitif sebagai pengetahuan dasar manusia melalui potensiintelektualitasnya;2. Afektif, yaitu pengembangan potensi akal manusia melalui upayamenganalisis berbagai kejadian sebagai bagian dari pengembanganilmu pengetahuan;6Hamdani Hamid dan Beni Ahmad Saebani, op.cit., h. 44

233. Psikomotorik, yaitu pelaksanaan pemahaman rasional ke dalam bentukperbuatan yang wamenunjukkan bahwa akhlak itu abstrak, tidak dapat diukur diberi nilai olehindrawi manusia. Untuk itu memberi penilaian baik atau buruknya udahmenjadikebiasaannya, dan inilah yang disebut dengan perbuatan akhlak.2. Pengertian EtikaKata etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang artinya adatkebiasaan. Etika merupakan istilah lain dari akhlak, tetapi memilikiperbedaan yang substansial, yaitu konsep akhlak berasal dari pandanganagama terhadap tingkah laku manusia, sedangkan konsep etika berasal daripandangan tentang tingkah laku manusia dalam perspektif filsafat.8Etika adalah tingkah laku manusia yang ditransmisikan dari hasilpola pikir manusia. Dalam Ensiklopedi Winkler Prins dikatakan bahwaetika merupakan bagian dari filsafat yang mengembangkan teori tentangtindakan dan alasan-alasan diwujudkannya suatu tindakan dengan tujuanyang telah dirasionalisasi.Dalam ensiklopedi New American, sebagaimana diuraikan olehHamzah Ya’qub disebutkan bahwa etika adalah kajian filsafat moral yang78Ibid.Ibid., h. 49

24tidak mengkaji fakta-fakta, tetapi meneliti nilai-nilai dan perilaku manusiaserta ide-ide tentang lahirnya suatu tindakan.9Ide-ide rasional tentang tindakan baik dan buruk telah lamamenjadi bagian dari kajian para filusuf. Salah satunya adalah ajaran etikaEpikuros tentang pencarian kesenangan hidup. Kesenangan hidup berartikesenangan badaniah dan rohaniah. Hal penting dan paling mulia ialahkesenangan jiwa, karena kesenangan jiwa akan menjangkau kenikmatanmetafisikal. Tujuan etik Epikuros adalah memperkuat jiwa untukmenghadapi berbagai keadaan. Dalam suka dan duka, perasaan manusiahendaklah sama. Ia tetap berdiri sendiri dengan jiwa yang tenang, pandaimemelihara tali persahabatan. Pengikut Epikuros tidak mengeluh danmenangis menghadapi berbagai cobaan. Keteguhan jiwa menurutnya dapatdiperoleh dari keinsafan dan pandangan tentang kehidupan yang abadi.Dari pandangan filosofis Epikuros, dapat diambil pemahamantentang arti etika, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilaitindakan manusia yang menurut ukuran rasio dinyatakan dan diakuisebagai sesuatu yang substansinya paling besar. Kaidah-kaidah kebenarandari tindakan digali oleh akal sehat manusia dan distandardisasi menurutukuran yang rasional, seperti sumber kebenaran adalah jiwa, nilaikebenaran jiwa itu kekal, segala yang tidak kekal pada dasarnya bukankebenaran substansial.10Etika dapat diartikan sebagai berikut:9Ibid.Ibid., h. 5010

251. Pandangan benar dan salah menurut ukuran rasio;2. Moralitas suatu tindakan yang didasarkan pada ide-ide filsafat;3. Kebenaran yang sifatnya universal dan eternal;4. Tindakan yang melahirkan konsekuensi logis yang baik bagikehidupan manusia;5. Sistem nilai yang mengabadikan perbuatan manusia di mata manusialainnya;6. Tatanan perilaku yang menganut ediologi yang diyakini akanmembawa manusia pada kebahagiaan hidup;7. Simbol-simbol kehidupan yang berasal dari jiwa dalam bentuktindakan konkret;8. Pandangan tentang nilai perbuatan yang baik dan yang buruk yangbersifat relatif dan bergantung pada situasi dan kondisi;9. Logika tentang baik dan buruk suatu perbuatan manusia yangbersumber dari filsafat kehidupan yang dapat diterapkan dalampergumulan sosial, politik, kebudayaan, ekonomi, seni, profesionalitaspekerjaan, dan pandangan hidup suatu bangsa. 11Etika (adab) bisa diartikan dengan standar-standar moral yangmengatur prilaku kita. Hal ini senada dengan perkataan Mufti Amir yangmengutif pendapat Deddy Mulyana bahwa etika (adab) adalah :“Standar-standar yang mengatur prilaku kita: bagaimana kitabertindak dan mengharapkan orang lain bertindak. Etika (adab) padadasarnya merupakan dialektika antara kebebasan dan tanggung jawab,antara tujuan yang hendak dicapai dan cara untuk mencapai tujuan itu, ia11Ibid.

26berkaitan dengan penilaian tentang pantas atau tidak pantas, yang bergunaatau tidak berguna, dan yang harus dilakukan atau tidak bolehdilakukan.”12Selanjutnya Hamzah Mahmud yang merujuk kepada beberapapendapat para ahli menyebutkan pengertian etika secara terminologis.a) Etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yangdisistematisasi tentang tindakan moral yang betul.b) Etika merupakan bagian dari filsafat yang mengembangkan teoritentang tindakan, hujah-hujahnya dan tujuan yang diarahkan kepadamakna tindakan.c) Etika merupakan ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai faktatetapi tentang nilai-nilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia tetapitentang idenya, karena itu bukan ilmu positif tetapi ilmu yangformatif.d) Ilmu tentang moral atau prinsip-prinsip kaidah moral tentang tindakandan kelakuan.13Etika (adab) menyangkut nilai-nilai sosial dan budaya yang telahdisepakati masyarakat sebagai norma yang dipatuhi bersama. Karena nilaiyang disepakati bersama itu tidak selalu sama pada semua masyarakat,maka norma etik dapat berbeda antara masyarakat yang satu denganmasyarakat yang lainnya. 1412Mufti Amir, Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam, (Jakarta: LogosWacana Ilmu, 1999), h. 1713Heri Gunawan, Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasinya, (Bandung:Alfabeta, 2012)., h.1414Mufti Amir, op.cit., h. 34

27Dari semua pandangan yang berhubungn dengan pengertian etikadi atas, dapat diambil pemahaman bahwa etika adalah cara pandangmanusia tentang tingkah laku yang baik dan buruk, yang digali dariberbagai sumber yang kemudian dijadikan sebagai tolak ukur tindakandengan pendekatan rasional dan filosofis.3. Pengertian MoralPoespoprodja, seperti dikutip Masnur Muskich menyebutkanbahwa “Moral berasal dari bahasa latin “Mores” yang berarti adatkebiasaan. Kata “Mores” bersinonim dengan mos, moris, manner, mores,atau manners, morals.”15Apabila moral diartikan sebagai tindakan baik atau buruk denganukuran adat, konsep moral berhubungan pula dengan konsep adat yangdibagi pada dua macam adat, yaitu:161. Adat Shahihah, yaitu adat yang merupakan moral masyarakat yangsudah lama dilaksanakan secara turun temurun dari berbagai generasi,nilai-nilainya telah disepakati secara normatif dan tidak bertentangandengan ajaran-ajaran yang berasal dari agama Islam, yaitu Alquran danAs-Sunnah;2. Adat fasidah, yaitu kebiasaan yang telah lama dilaksanakan olehmasyarakat, tetapi bertentangan dengan ajaran Islam, misalnyakebiasaan melakukan kemusyrikan, yaitu memberi sesajen di atas15Masnur Muslich, Pendidikan Karakter : Menjawab Tantangan KrisisMultidimendiontal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 7416Hamdani Hamid dan Beni Ahmad Saebani, op.cit., h. 51-52

28kuburan setiap malam Selasa atau Jumat. Seluruh kebiasaan yangmengandung kemusyrikan dikategorikan sebagai adat yang fasidah ,atau adat yang rusak.Berbicara tentang moral berarti berbicara tentang tiga landasanutama terbentuknya moral, yaitu:171. Sumber moral atau pembuat sumber. Dalam kehidupan bermasyarakatsumber moral dapat berasal dari adat kebiasaan dan pembuatnya bisaseorang raja, sultan, kepala suku, dan tokoh agama, bahkan mayoritasadat dilahirkan oleh kebudayaan masyarakat yang penciptanya tidakpernah diketahui, seperti mitos-mitos yang sudah menjadi normasosial. Dalam moralitas Islam, sumber moral dari wahyu Alquran danAs-Sunnah , sedangkan Pencipta standar moralnya Allah SWT., yangtelah menjadikan para nabi dan rasul, terutama Nabi MuhammadSAW. yang menerima risalah-Nya berupa sumber ajaran Islam yangtertuang di dalam kitab suci Alquran. Nabi Muhammda SAW. adalahpembuat sumber kedua setelah Allah SWT.;2. Objek sekaligus subjek dari sumber moral dan penciptanya. Moralitassosial yang berasal dari adat, objek dan subjeknya adalah individu danmasyarakat yang sifatnya lokal, karena adat hanya berlaku untukwilayah tertentu, artinya tidak bersifat universal, tetapi teritorial.Dalam moralitas Islam, subjek dan objeknya adalah orang yang telahbaligh dan berakal yang disebut mukallaf;17Ibid.

293. Tujuan moral, yaitu tindakan yang diarahkan kepada target tertentu,misalnya bertujuan untuk ketertiban sosial, keamanan dan kedamaian,kesejahteraan, dan sebagainya. Dalam moralitas Islam, tujuan moraladalah mencapai kemaslahatan duniawi dan ukhrawi. Contohnyamoralitas yang berkaitan dengan pola makan yang dianjurkan Alquransurat Al-Baqarah ayat 168: Ayat tersebut adalah perintah yang hukumnya wajib bagi seluruhumat Islam untuk memakan harta yang halal dan bergizi. Pada ayat di atasterdapat kalimat : Ayat itu adalah larangan maka haram hukumnya bagi orang yangberiman mengikuti pola hidup dengan sistem yang dibangun dan dibentukoleh setan. Kaitannya dengan makanan yang dimaksud dengan pola hidupsetan adalah menikmati harta benda hasil korupsi, manipulasi, hasilmenipu, merampok, dan bentuk kejahatan lainnya.Dengan memahami ilustrasi di atas, pengertian moral sama denganakhlak karena secara bahasa artinya sama, yaitu tindakan atau perbuatan.Moralitas manusia dibagi menjadi dua, yaitu: (1) moralitas yang baik; dan

30(2) moralitas yang buruk. Perbedaan dari kedua konsep itu, yaitu akhlakdan moral terletak pada standar atau rujukan normatif yang digunakan.Akhlak merujuk pada nilai-nilai agama, sedangkan moral merujuk padakebiasaan.18Heri Gunawan dalam bukunya menyebutkan “yang dimaksuddengan moral adalah sesuatu yang sesuai dengan ide-ide umum yangditerima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar,mana yang pantas dan mana yang tidak pantas.”19Dengan pengertian moral sepeti di atas, maka tampak banyakpersamaan antara etika dan moral. Perbedaan yang muncul hanya bahwaetika bersifat teori sedangkan moral lebih banyak bersifat praktik.4. Pengertian AdabKata adab dalam kamus Bahasa Arab berarti kesopanan.20 Yaitumemberikan hak kepada segala sesuatu dan waktu, dan mengetahui apayang menjadi hak diri sendiri dan hak Allah SWT. perilaku mulia atau tatakrama spritual di jalan sufi serta kesempurnaan dalam perkataan danperbuatan. Ilmu tasawuf berpijak pada adab yang berkisar dari prilakuyang benar sesuai dengan syariat hingga tata krama spritual yang terusmenerus kepada Allah SWT. sendiri.2118Ibid., h. 53Heri Gunawan, op. cit., h. 1320Ahmad Warson Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif,1997), h. 1321Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, (Wonosobo: Amzah,2005), h. 319

31Adab menurut Al-Attas, dalam artinya yang asli dan dasar, adabberarti undangan pada suatu perjamuan. Perjamuan mengandung maknaimplisif bahwa baik pengundang maupun tamu diharapkan bertingkah lakusesuai dengan keadaan, baik dalam bicara, bertindak maupun etika.22 Bisadikiaskan pada saat pembelajaran antara murid dan guru harus sama-samamenjaga adab masing-masing.Pendapat para ulama mengenai adab :a) Ibnu Mubarak قال عبدهللا ابن المبارك رحه هللا نن إل قليل من الدب أحوج منا ال َثي من ومن ت هاون ، من ت هاون بلداب عوقب برمان السنن : وقال رضي هللا عنه . العلم 23. المعرفة ومن ت هاون بلفرائض عوقب برمان ، بلسنن عوقب برمان الفرائض Perkataan Ibnu Mubarak tersebut dapat diartikan betapapentingnya adab dan beliau menyukai adab walaupun sedikitdibandingkan dengan banyak ilmu dan di samping apabilameremehkan dengan adab maka akhirnya nanti bisa menegah darimendapat ma’rifah.22Muhammad Nuqaib Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung: Mizan,1990), h. 56-6723Al-Habib Zain bin Ibrahim, op. cit., h. 197

32b) Abu Ad-Daqqaq فمن أساء الدب , ت رك الدب ي وجب الطرد : قال الشيخ اب و الد قاق رضي هللا عنه 24. فمن اساء الدب على الباب رد إل سياسة الدواب , على البساط رد ال الباب Orang yang tidak memiliki adab maka wajib diusir dan bahkandapat dikatan sama halnya dengan binatang karena tidak memeliharaadab.c) Perkataan sebagian ulama terhadap anaknya يب ن لن ت ت علم بب من الدب احب إل من ان ت ت علم سبعي بب : قال ب عضهم لبنه 25. العلم من اب واب Dari perkatan tersebut dapat dikatakan bahwa mereka sangatmengutamakan adab pada saat menuntut ilmu, mereka lebih menyukaibelajar satu bab tentang adab dibandingkan belajar tujuh puluh babtentang ilmu. Maksudnya, bukan berarti mempelajari tentang ilmu itutidak penting akan tetapi, harus dibarengi dengan belajar tentang adabwalaupun hanya sedikit, karena sebanyak apapun ilmu yang telahdipelajari dan diperoleh kalau tidak mempelajari tentang adab. Dengankata lain tidak beradab maka kemungkinan besar ilmu yang telahdipelajari tidak akan bermanfaat.2425Ibid.Ibid.

33d) Abdurrahman Ibn Al-Qaasim فكان , خدمت المام مالكا رضى هللا عنه عشرين سنة : وقال عبدالرحن بن القاسم 26. الدب من ها سن تان ف العلم ثان عشرة سنة ف ت علم Sebagaimana yang telah dilakukan Abdurrahman terhadap gurunyayaitu adalah berkhadam selama dua puluh tahun lamanya, dua tahunbelajar tentang ilmu, dan delapan belas tahun belajar tentang adab.Dari perkataan beliau ini dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnyamenjaga adab.Di antara adab itu ada yang berlaku umum untuk semuamukallaf, sebagian lagi khusus bagi pencari ilmu. Diantara adab ituada yang bisa dipahami melalui dharurat syara, ada yang bisadiketahui melalui tabiat dan ditunjukkan keumuman dalil syariat yangmenyerukan untuk beradab mulia dan akhlak terpuji.27Dengan demikian dapat disimpilkan bahwa yang dimaksudadab di sini adalah pembicaraan masalah pantas dan tidak pantasnyauntuk dilakukan dan yang menjadi tolak ukurnya adalah Alquran,Hadits, dan Ijma ulama.Kesimpulan dari pembahasan mengenai dari pengertian akhlak, moral,etika dan adab memiliki kesamaan substansial jika dilihat secara normatif,karena pola tindakan yang dinilai “baik” dan “buruk”, berdasarkan ide-ide26Ibid., h. 198Al-Utsaimin, Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, terjemahan Nurdin, Lc (Jakarta: AkbarMedia, 2013), h. 1227

34yang berbeda. Etika dinilai menurut pandangan filsafat tentang munculnyatindakan dan tujuan rasional dari tindakan. Akhlak adalah wujud darikeimanan atau kekufuran manusia dalam bentuk tindakan, sedangkan moralmerupakan bentuk tingkah laku yang diideologisasikan menururt pola hidupbermasyarakat dan bernegara yang rujukannya diambil terutama dari sosialnormative suatu masyarakat, dari ideologi negara, dari agama, dan dapat puladiambil dari pandangan-pandangan filosofis manusia sebagai individu yangdihormati, sebagai pemimpin dab sebagai sesepuh masyarakat. Kemudianadab adalah pantas dan tidak pantasnya suatu perbuatan untuk dilakukan danditinggalkan yang menjadi tolak ukurnya adalah Alquran, Hadits, dan Ijmaulama.B. Pengertian MuridKata murid berasal dari bahasa Arab ‘arada, yuridu iradatan, muridanyang berarti orang yang menginginkan (the willer), dan menjadi salah satusifat Allah SWT. yang berarti Maha Menghendaki. Pengertian seperti ini dapatdimengerti karena seorang murid adalah orang yang menghendaki agarmendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kepribadian yangbaik untuk bekal hidupnya agar berbahagia di dunia dan akhirat dengan jalanbelajar yang sungguh-sungguh.28Selain kata murid, dijumpai pula kata al-tilmidz yang juga berasal daribahasa Arab, namun tidak mempunyai akar kata dan berarti pelajar. Kata ini28Abuddin Nata, op. cit., h. 49

35digunakan untuk menunjuk kepada murid yang belajar di madrasah. Istilah iniantara lain digunakan oleh Ahmad Tsalabi.29Selanjutnya terdapat pula kata Al-Mudarris, berasal dari kata ArabDarrasa yang berarti orang yang mempelajari sesuatu. Kata ini dekat dengankata madrasah, dan seharusnya digunakan untuk arti pelajar pada suatumadrasah, namun pada prakteknya tidak demikian30.Ketiga kata tersebut (murid, tilmidz, dan mudarris), kelihatannyadigunakan untuk menunjukkan pada pelajar tingkat dasar dan lanjutan. Karenasemunya itu menggambarkan sebagai orang yang baru belajar, belummemiliki wawasan, dan masih amat bergantung pada guru dan belummenggambarkan kemandirian. Ia masih memerlukan masukan berupapengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan lain sebagainya, sehingga masihbanyak memerlukan bimbingan.Istilah lain yang berkenaan dengan murid adalah Al-Thalib, kata iniberasal dari bahasa Arab, Thalaba, yathlubu, thalaban, thalibun yang berartiorang yang mencari sesuatu. Pengertian ini dapat dipahami karena seorangmurid adalah orang yang tengah mencari ilmu pengetahuan, pengalaman danketerampilan serta pembentukan kepribadian untuk bekal kehidupannya dimasa depan agar berbahagia dunia dan akhirat.Kata al-thalib ini selanjutnya lebih digunakan untuk pelajar padaperguruan tinggi yang selanjutnya disebut mahasiswa. Penggunaan kata AlThalib untuk mahasiswa dapat dimengerti karena seorang mahasiswa sudah29Ibid.Anwar Al-Jundi, Al-Madrasah Al-Islamiyyah ala Thariq Allah wa Manhaj Alquran(Mesir: Dar Al-Litisham, 1986), h.1730

36memiliki bekal pengetahuan dasar yang ia peroleh dari pendidikan dasar danlanjutan, terutama pengetahuan tentang membaca, menulis, dan berhitung.Dengan bekal pengetahuan dasar ini, ia diharapkan memiliki bekal untukmencari, menggali, dan mendalami bidang keilmuan yang diminatinya dengancara membaca, mengamati, memilih bahan-bahan bacaan, seperti buku suratkabar, majalah, fenomena sosial melalui berbagai peralatan dan saranapendidikan lainnya, terutama bahan bacaan.Istilah al-thalib selanjutnya banyak digunakan oleh para ahlipendidikan Islam sejak zaman klasik sampai dengan zaman sekarang. Diantarayang menggunakan istilah Al-Thalib adalah imam Ghazali. Dalam hubunganini ia mengatakan : bahwa al-Thalib adalah bukan kanak-kanak yang belumdapat berdiri sendiri, dan dapat mencari sesuatu, melainkan ditunjukkankepada orang yang memiliki keahlian berpengetahuan, mencari jalan danmendahulukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Bahwasanya ia adalahseseorang yang telah mencapai usia dewasa dan telah dapat bekerja denganbaik dengan menggunakan akal pikirannya. Ia adalah seseorang yang sudahdapat diminta pertanggung jawaban dalam melaksanakan kewajiban agamayang dibebankan kepadanya sebagai fardhu ‘ain. Seorang Al-Thalib adalahmanusia yang telah memiliki kesanggupan memilih jalan kehidupannya,menemukan apa yang dinilainya baik, dan tidak pula dibebaskan kepadanyauntuk berusaha dalam mendapatkan ilmu dan sungguh-sungguh dalammencarinya, sebagaimana yang demikian itu dapat ia nilai sebagai yang burukuntuk ditinggalkan dan mensucikan dirinya.

37Istilah lainnya yang berhubungan dengan murid adalah Al-Muta’allimkata ini berasal dari bahasa Arab, ta’allama, yata’allamu, ta’alluman,muta’alim yang berarti orang yang mencari ilmu didikanIslammenunjukkan bahwa murid bukanlah manusia yang pasif atau manusia“kosong”, tidak memiliki kemauan, tidak memiliki potensi dan sebagainya.Sebaliknya, Islam melihat murid sebagai manusia yang memiliki keinginan,kehendak, dan secara sadar mencari sesuatu yang ia perlukan.32 Selain itu,murid adalah orang yang memiliki keinginan untuk menambah pengetahuandan terus-menerus berusaha memperoleh pengetahuan, serta memiliki sikapkritis, dinamis dan kreatif. Walaupun memiliki karakter kritis, dinamis dankreatif, konsep murid dalam pendidikan Islam bukanlah murid yang sombongdan tidak beradab tetapi mereka tetap memiliki tingkat kepatuhan danpenghormatan yang tinggi kepada gurunya.Dengan demikan, istilah-istilah yang mengacu kepada pengertianmurid sebagaimana disebutkan di atas pada intinya mengandung makna yangsama yaitu sebagai orang yang menuntut ilmu atau mencari ilmu yangkesemuanya termasuk dalam pembahsan skripsi ini.31Abuddin Nata, op. cit. h. 50-52Rahmadi, Guru dan Murid dalam Perspektif Al-Mawardi dan Al-Ghazali,(Banjarmasin: Antasari Press, 2008), h., 4732

38C. Pengertian GuruKata guru berasal dari bahasa Indonesia yang berati orang yangmengajar. Dalam bahasa Inggris, dijumpai kata teacher yang berartipengajar.33Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu pada pengertian guru lebihbanyak lagi seperti al-alim (jamaknya ulama) atau al-mu’allim, yang berartiorang yang mengetahui dan banyak digunkan para ulama/ahli pendidikanuntuk menunjuk pada hati guru.34 Selain itu ada pula sebagian ulamamenggunakan istilah al-mudarris untuk arti orang yang mengajar atau orangyang memberi pelajaran. Namun dibandingkan dengan kata al-Mu’allim ataual-Ulamadengan kata al-Mudarris ternyata penggunaan kata al-Mu’allimatau al-Alim lebih banyak daripada penggunaan kata aal-Mudarris. Selain ituterdapat pula istilah al-Muaddib yang merujuk kepada guru yang secarakhusus mengajar di istana. Kata Mu’addib berasal dari kata adab yang berartimoral, etika dan adab serta kemahiran bathin, sehingga guru dalam pengertianini adalah orang yang beradab sekaligus memiliki peran dan fungsi untukmembangun peradaban yang berkualitas dalam masa depan.35Selain itu terdapat pula istilah ustadz untuk menunjuk kepada arti guruyang khusus mengajar bidang pengetahuan agama Islam. 36 Istilah ini banyakdigunakan oleh masyarakat Islam Indonesia dan di Malaysia. Sedangkan kata-33Jhon.M.Echols dan Hasan Sadli, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia,1982), h. 58134Abuddin Nata, op. cit. h. 4135Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003), h. 209-21336Abuddin Nata, op. cit. h. 42

39kata ustadz dalam buku-buku pendidikan Islam yang ditulis para ahlipendidikan jarang digunakan. Istilah tersebut di Mesir digunakan untukmenunjuk kepada pengertian dokter. Selain itu terdapat pula istilah syaikhyang digunakan untuk merujuk kepada guru dalam bidang tasawuf. 37 Dan adapula sebutan Kyai dan Ajengan (istilah yang digunakan untuk guru besar padapesantren-pesanteran di pulau Jawa) serta Buya (istilah yang digunakan untukahli agama di pulau Jawa, Aceh, dan sebagian Jakarta).Selanjutnya istilah yang dekat dengan kata al-Alim atau ulama adalahUlu al-Ilm yang dalama Alquran diulang sebanyak lima kali yangpenyebutannya beriringan dengan kata Allah dan para malaikat yangsenantiasa bersikap teguh kepada kebenaran. Firman Allah SWT. dalam Q.S.Ali Imran ayat 18, yaitu: Hal ini menunjukkan bahwa orang berilmu posisinya demikian mulia dandiangkat derajatnya oleh Allah SWT. 38Menurut Zakiah Daradjat sebagaimana dikutip Nur Uhbiyatimengemukakan bahwa guru adalah pendidik yang professional karena secara3738Ibid.Ibid, h. 44

40eksplisit ia telah merelakan dirinya untuk menerima dan memikul sebagiantanggung jawab pendidikan yang dipikul oleh orang tua39.Ahmad Tafsir mengemukakan pendapat bahwa guru ialah orang-orangyang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik denganmengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi aktif,kognitif ataupun psikomotorik.40Sedangkan menurut Hadari Nawawi bahwa pengertian guru dapatdilihat dari dua sisi. Pertama secara sempit, guru adalah ia yang berkewajibanmewujudkan program kelas, yakni yang kerjanya mengajar dan memberikanpelajaran di kelas. Sedangkan secara luas diartikan guru adalah orang yangbekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawabdalam membantu anak-anak dalam mencapai kedewasan masing-masing41.Selain itu, dalam perspektif al-Mawardi, guru adalah orang yang sadardengan kadar tingkat keilmuannya. Guru yang memiliki kualitas al-alimadalah mereka yang menyadari bahwa apa yang ia ketahui jauh lebih sedikitdari apa yang belum ia ketahui.42 Orang yang dalam pengetahuannya sepertiorang yang berenang di laut yang tak terlihat daratannya, tidak diketahuilebarnya dan tidak diketahui berapa lama laut itu ditempuh. Disin al-Mawardilebih menekankan kesadaran kepada guru tentang posisi dirinya ditengah39Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 69Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam, (Bandung: RemajaRosda Karya, 2007), h. 7541Hadrawi Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, (Jakarta: GunungAgung, 1982), h. 12342Rahmadi, op. cit., h. 4340

41luasnya ilmu dan hakikat ilmu yang dimilikinya dan ilmu yang belumdimilikinya.Kesadaran akan luasnya ilmu pengetahuan dan kadar ilmu yangdimiliki akan membuat guru menjadi rendah hati dan memiliki komitmenyang kuat untuk selalu mengembangkan diri (selalu belajar).43 Menurut alMawardi guru yang termasuk kategori ulama tingkat utama sekalipun, tidakboleh merasa enggan untuk belajar ilmu yang belum ia ketahu. Guru padahakikatnya adalah orang yang menjalankan dua aktivitas edukatif sekaligusyaitu mengajar sekaligus belajar, sebagaimana pernyataan Nabi Isa as. yangdikutif oleh al-Mawardi:44 يصاحب العلم ت علم من العلم ما جهلت وعلم الهال ما علمت Selain posisinya sebagai al-alim, guru dalam perspektif al-Mawardiadalah model (teladan) dan sekaligus murabbi. Sebagai model, mengamalkanilmu harus menjadi tabiat (syimah) guru sedang sebagai murabbi guru harusmenasehati, menyayangi, tidak kasar, dan tidak membuat muridnya frustasi.Dengan demikian, guru pada hakikatnya adalah orang yang menempati posisisebagai al-alim, al-mu’addib sekaligus al-murabbi.45Dalam perspektif al-Ghazali , guru adalah orang yang telah melewatitahapan-tahapan ilmu, dari tahapan belajar (ta’allama), tahapan ilmuwan43Ibid., h. 44Ibid.45Ibid., h. 4644

42(‘alima), tahapan implementasi ilmu (‘amila) dan puncaknya, tahap transferdan transmisi ilmu (‘allama).46Guru menurut UU RI NO 14 TAHUN 2005 Tentang Guru dan Dosenyaitu guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik.,mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasipeserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.47Guru merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam pendidikan.Untuk itu setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum danpeningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikanharus bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan bahwa betapa eksistensinyaperan guru dalam dunia pendidikan. Guru adalah seseorang yang menjadisalah satu sumber belajar yang berkewajiban menyediakan lingkungan belajaryang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas.48D. Pengertian Adab Murid terhadap GuruAdab atau akhlak merupakan suatu keadaan jiwa yang menyebabkanjiwa bertindak tanpa dipikirkan atau dipertimbangkan secara mendalam,keadaan ini ada dua macam, yaitu pertama; alamiah dan bertolak dari watakdan yang kedua adalah tercipta melalui kebiasaan dan latihan, pada mulanya46Ibid., h. 150UU RI NO 14 TAHUN 2005, Tentang Guru dan Dosen dan Peraturan MENDIKNASno 11 thn 2005 besera penjelasannya, (Bandung: Cita Umbara, 2006), h. 248Syiful Bahri Djamrah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: RinekaCipta, 1996), h. 17247

43k

A. Pengertian Akhlak, Moral, Etika, dan Adab 1. Pengertian Akhlak Kata akhlaq berasal dari bahasa Arab, yakni jama' dari "khuluqun" yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tata krama, sopan santun, adab, dan tindakan. Kata akhlak juga berasal dari kata khalaqa atau .

Related Documents:

tentang teori-teori hukum yang berkembang dalam sejarah perkembangan hukum misalnya : Teori Hukum Positif, Teori Hukum Alam, Teori Mazhab Sejarah, Teori Sosiologi Hukum, Teori Hukum Progresif, Teori Hukum Bebas dan teori-teori yang berekembang pada abad modern. Dengan diterbitkannya modul ini diharapkan dapat dijadikan pedoman oleh para

BAB II Landasan Teori Dan Pengembangan Hipotesis A. Teori Agency (Agency Theory) . agent (yangmenerima kontrak dan mengelola dana principal) mempunyai kepentingan yang saling bertentangan.3 Aplikasi agency theory dapat terwujud dalam kontrak kerja yang akan mengatur proporsi hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan tetap memperhitungkan kemanfaatan secara keseluruhan.4 Teori agensi .

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka Beberapa tulisan yang dapat digunakan sebagai tolok ukur seperti tesis, . teori manajemen, dan teori analisis SWOT. Perbedaan penelitian tersebut di atas adalah perbedaaan

BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Nilai Nilai berasal dari bahasa Latin vale’re yang artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang.1

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam penyusunan skripsi ini dibutuhkan tinjauan pustaka yang berisi teori-teori atau konsep-konsep yang digunakan sebagai kajian dan acuan bagi penulis 2.1.1. Pengertian Sistem Suatu sistem t

17 BAB II LANDASAN TEORI A. Teori Stakeholder (Stakeholder Theory) Ramizes dalam bukunya Cultivating Peace, mengidentifikasi berbagai pendapat mengenai stakeholder.Friedman mendefinisikan stakeholder sebagai: “any group or individual who can affect or is affected by the achievment of the organi

BAB II . URAIAN TEORI . 1.1. Landasan Teori . Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi dari ha

6 BAB II LANDASAN TEORI . A. Kajian Teori. 1. Konstruktivisme a. Pengertian Konstruktivisme Konstruktivis